Bayer Leverkusen sukses menjuarai Liga Jerman untuk pertama kali sepanjang sejarah mereka, dengan menyisakan lima laga yang belum dimainkan, setelah menang besar 5-0 atas Werder Bremen, Senin dini hari WIB.
Pasukan Xabi Alonso kini mengoleksi 79 poin, jumlah yang mustahil dikejar oleh dua pesaing terdekatnya, Bayern Muenchen dan VfB Stuttgart, yang baru mengumpulkan 63 poin dari 29 pertandingan. Pada pertandingan yang dimainkan lebih awal, tim juru kunci Darmstadt kembali menelan kekalahan, kali ini dari tamunya Freiburg dengan skor 0-1.
Leverkusen mendominasi pertandingan melawan Bremen dengan 56 persen penguasaan bola dan 19 percobaan gol yang lima diantaranya tepat sasaran. Memiliki misi menyegel gelar juara di hadapan publik sendiri, Leverkusen langsung menyerang, namun baru dapat menciptakan gol pada menit 25 lewat tendangan penalti Victor Boniface.
Justin Hofmann dilanggar Julian Malatini di kotak penalti. Boniface sukses menaklukkan kiper Bremen Michael Zetterer. Pesta Leverkusen berlanjut pada menit 60 melalui tendangan jarak jauh Granit Xhaka yang membobol gawang Bremen.
Dua menit kemudian Florian Wirtz membawa Leverkusen unggul tiga gol melalui tendangan kaki kanannya setelah memanfaatkan umpan Robert Andrich. Wirtz tampil brilian dengan mencatatkan hat-trick setelah kembali membobol gawang Bremen pada menit 83 dan 90.
PEMAIN KUNCI
Bayer Leverkusen mengangkat piala Bundesliga untuk pertama kalinya setelah menang 5-0 atas Werder Bremen pada Minggu, sekaligus memperpanjang rekor 43 pertandingan tak terkalahkan.
Kesuksesan klub berjuluk Die Werkself itu bukan hanya buah kerja keras pelatih Xabi Alonso seorang, melainkan juga buah beberapa pemain yang sangat berkontribusi membawa Leverkusen menjadi salah satu klub terhormat di Jerman, sekaligus menghapus julukan si "Neverkusen" karena tak pernah menjuarai Bundesliga.
Berdasarkan catatan laman resmi Bundesliga, Bayer Leverkusen memiliki skuad bertalenta dengan rata-rata usia 24,8 tahun. Meski berstatus klub dengan pemain muda, dari 27 pemain yang didaftarkan terdapat 20 pesepak bola yang sudah memperkuat timnas di negaranya masing-masing.
Memiliki skuad muda dengan masa depan cerah menjadi salah satu alasan Xabi Alonso memilih bertahan di BayArena dan tidak mau melirik klub-klub besar Eropa meski sempat santer diminati Liverpool dan Bayern Muenchen.
Di antara 27 pemain, terdapat lima nama yang selalu menjadi andalan Xabi Alonso karena memberikan kontribusi maksimal dan kerap menjadi penentu kemenangan tim, berikut ulasannya sebagaimana dilaporkan AFP:
Florian Wirtz
Di antara sederet bintang muda dalam skuad Bayer Leverkusen, Florian Wirtz merupakan bintang yang bersinar paling terang.
Gelandang serang kelahiran Pulheim, Jerman, 20 tahun lalu itu memiliki visi bermain yang jelas dan lihai membaca arah permainan lawan. Media Jerman menyebut cara bermain Wirtz mirip dengan Kevin de Bruyne.
Wirtz kerap memanjakan para striker Bayer Leverkusen dengan umpan-umpannya yang akurat serta pandai membuka ruang. Pemain yang memulai debutnya pada musim 2020 itu telah menyumbang 14 gol dan 18 asis dalam semua kompetisi musim ini.
Kelebihan Wirtz lainnya adalah ketenangan dalam mengeksekusi bola mati dan menjadi eksekutor penalti utama untuk Leverkusen.
Alex Grimaldo
Leverkusen merekrut bek kiri Alex Grimaldo dengan status bebas transfer dari Benfica musim panas tahun lalu.
Kendati berstatus pemain "gratisan", Grimaldo ternyata bukan bek yang biasa-biasa saja. Pemain yang baru dua kali memperkuat timnas Spanyol itu memiliki keahlian dalam mengirimkan umpan tajam dari sisi kiri.
Pria kelahiran Valencia 28 tahun lalu itu juga piawai saat menjadi eksekutor tendangan bebas dan sepak pojok. Duet Grimaldo di sisi kiri dan Jeremie Frimpong di sisi kanan sudah berkontribusi 39 gol untuk Leverkusen sepanjang musim ini.
Kelebihan lain Grimaldo adalah stamina yang prima dan jarang cedera. Ia menjadi pemain kedua dengan menit bermain terbanyak (3.416 menit) setelah Granit Xhaka (3.445 menit).
Granit Xhaka (31) merupakan pemain tertua kedua setelah kiper Lukas Hradecky (34) dalam skuad Leverkusen. Namun pemain asal Swiss itu didatangkan dari Arsenal awal musim ini dengan membawa banyak pengalaman dari liga yang dikenal paling kompetitif.
Berdasarkan statistik Bundesliga, Xhaka menjadi pemain dengan daya jelajah tertinggi sejauh 339,6 km dalam 29 pertandingan liga musim ini, diikuti Alex Grimaldo sejauh 327,8 km.
Meski tidak setajam Florian Wirtz, Xhaka memiliki keseimbangan dalam bertahan dan menyerang serta mampu menjadi sosok pemimpin di lapangan.
Faktor non-teknis yang dianggap mendorong kinerja Xhaka bersama Leverkusen adalah belum pernah mencicipi gelar liga semasa memperkuat Arsenal.
Victor Boniface
Victor Boniface menjadi mesin gol Leverkusen dengan mencetak 11 gol dalam 18 pertandingan musim ini, setelah sempat absen empat bulan karena cedera.
Striker berusia 23 tahun yang baru dipanggil timnas Nigeria bahkan sudah mencuri perhatian fans Leverkusen karena langsung mencetak tiga gol dalam lima laga pertama sejak didatangkan dari klub Belgia Union Saint-Gilloise awal musim ini.
Boniface bukan eksekutor bola mati yang andal, namun mampu bergerak lincah tanpa bola kemudian menemukan ruang untuk mencetak gol. Ia juga memiliki postur tubuh besar dengan tinggi 1,9 meter yang membuatnya mampu memenangkan duel-duel udara di kotak penalti tim lawan.
Jonathan Tah
Lini pertahanan yang solid adalah kunci keberhasilan Leverkusen tahun ini. Jonathan Tah sukses mengomandoi lini belakang Leverkusen yang hanya kebobolan 19 gol di Bundesliga musim ini, jauh lebih solid dari tim posisi kedua Bayern Muenchen yang sudah kemasukan 36 gol.
Pemain 28 tahun kelahiran Hamburg itu selalu menjadi pilihan utama Alonso untuk dipasangkan dengan Edmond Tapsoba dan Odilon Kossounou dengan formasi 3-4-2-1.
Jonatan Tah sengat mengenal suasana ruang ganti Leverkusen yang diperkuatnya sejak 2015. Bek utama timnas Jerman untuk Euro 2024 itu juga telah menyumbangkan empat gol, termasuk gol penting ke gawang RB Leipzig pada Januari yang membalikkan keadaan untuk kemenangan Leverkusen. (*)