Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengamati Industri Video Game Selama 2018

wahyu-Wahyu KP • Rabu, 2 Januari 2019 - 14:54 WIB

Oleh: Radix W.P. (LINE ID: ray-jp)

SELAMA 2018, industri video game berjalan di jalur yang benar. Game ponsel dan video game konvensional tak lagi saling bersaing karena punya pangsa pasar tersendiri. Mesin PlayStation4 mengeksplorasi segala kecanggihannya dengan teknologi VR (virtual reality), misalnya. Mesin Nintendo Switch memantapkan posisinya dengan sejumlah game papan atas sembari memperkenalkan diri ke kalangan yang selama ini belum pernah punya mesin game. Mesin portabel Nintendo 3DS terus melayani pasar murah meriah.

Para produsen sudah mulai paham game macam apa yang dilempar ke ponsel dan mana yang untuk mesin video game. Game ponsel umumnya gratisan, dimainkan secara online, serta menyediakan opsi barang virtual yang dibeli dengan uang sungguhan. Game utuh yang bisa ditamatkan akan menuju mesin game home system ataupun portabel. Konsep itu juga berlaku bagi produsen indie berdana minim karena sistem penjualan game digital di mesin game sudah cukup mapan. Tak jarang, game indie mampu bersaing dengan karya perusahaan ternama. Contohnya, Gris yang artistiknya sangat menakjubkan.

Tentang PlayStation4, mesin itu sudah berusia 5 tahun yang artinya siap diganti. Sony sedang mempersiapkan PlayStation5, tapi belum ada detail penting tentang mesin baru tersebut. Saat ini kecanggihan PlayStation4 dieksplorasi habis-habisan. Berbagai game eksklusif digeber, termasuk cukup banyak game bergrafis cel shading yang tampak seperti anime. Para konsumen juga makin dibiasakan dengan fasilitas VR yang kadang disertakan sebagai bonus dalam paket game utama.

Sementara itu, Switch memantapkan diri sebagai mesin yang paling diincar para penggemar game dalam dua tahun belakangan. Jumlah game papan atasnya tidak sebanyak PlayStation4, tapi sangat adiktif dan sebagian di antaranya dijamin tidak bakal pernah muncul di mesin game perusahaan lain. Setelah disuguhi Zelda Densetsu: Breath of the Wild dan Super Mario Odyssey pada tahun pertama, kini sebagian besar pemilik Switch sibuk dengan Dairantou Smash Brothers Special. Gagalnya mesin Wii U tempo hari pun perlahan lenyap dari ingatan.

Persaingan di pasar portabel cukup menarik disimak. Meski mengusung teknologi tinggi, rupanya Sony akan menghentikan mesin PlayStation Vita. Mereka juga tidak mempersiapkan penggantinya. Nintendo 3DS bakal menikmati posisi sebagai mesin tanpa kompetitor, tapi tidak bisa lama-lama. Makin banyak yang sudah menabung untuk beralih ke Switch yang juga bisa dimainkan secara portabel. Para produsen game pun ikut berpindah mesin, ditambah faktor teknologi Switch yang jauh lebih representatif.

Oh ya, lalu bagaimana dengan mesin Xbox One? Mesin milik Microsoft itu mengulangi kesalahan Xbox generasi pertama, yaitu menempatkan diri bersaing dengan game PC. Logis sajalah, jika sudah punya PC yang memadai, berapa banyak sih orang yang masih ingin Xbox One? Mesin tersebut kekurangan game eksklusif. Beda sekali dengan era Xbox 360, pendahulunya, yang kebagian Ace Combat 6 dan Blue Dragon sebagai contoh. Atau Tales of Vesperia yang hadir cukup lama untuk Xbox 360 sebelum dirilis untuk mesin game lainnya.

Saat ini Xbox One X bersaing dengan PlayStation4 Pro dalam kategori mesin game tercanggih. Tapi, keduanya tidak mampu tandingi angka penjualan Switch yang sedang sangat pesat. Pertarungan sesungguhnya baru dimulai nanti ketika PlayStation5 menghadapi Xbox Two. Media apa yang digunakan, apakah tetap Ultra HD Blu-ray atau beralih ke HVD (holographic versatile disc)? Teknologi apa yang ditonjolkan untuk membedakan dengan era PlayStation4? Mungkin akan terjawab pada 2019, mungkin juga pada tahun-tahun berikutnya. (*)

Editor : wahyu-Wahyu KP