SAMARINDA – Gemerlap Ibu Kota Nusantara (IKN) sepanjang tahun 2025 terbukti sukses menyedot jutaan pasang mata ke Kalimantan Timur. Namun, memasuki awal 2026, tantangan besar muncul: mampukah Kaltim mengubah kunjungan singkat ke IKN menjadi perjalanan wisata jangka panjang yang menghidupkan ekonomi daerah sekitarnya?
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Kaltim, Syarifuddin Tangalindo, mengakui bahwa IKN masih menjadi "pemain tunggal" dalam menarik wisatawan. Menurutnya, sudah saatnya daerah penyangga seperti Balikpapan, Samarinda, dan Paser tidak hanya menjadi penonton.
"Kunjungan memang meningkat tajam, tapi tantangannya adalah bagaimana agar orang tidak cuma beberapa jam di IKN lalu pulang. Kita harus arahkan mereka masuk ke paket perjalanan menuju destinasi pendukung," ujar Syarifuddin.
Meskipun demikian, ada destinasi potensial penyangga IKN, misalnya di Balikpapan mesti ada optimalisasi wisata mangrove dan kuliner pesisir. Di Samarinda ada wisata susur Sungai Mahakam yang ikonik (meski saat ini tengah dibayangi isu keselamatan pasca-tabrakan tongkang di Jembatan Mahulu). Di Paser bisa ada pengembangan wisata budaya dan sejarah yang belum tergarap maksimal.
Optimisme pariwisata ini kian menguat seiring munculnya opsi Kalimantan Timur sebagai pengganti NTT-NTB untuk tuan rumah PON 2028. Presiden Prabowo Subianto dikabarkan tengah mempertanyakan kelayakan opsi daerah sebelumnya, dan Kaltim kini muncul sebagai kandidat terkuat.
Kehadiran infrastruktur kelas dunia di IKN, ditambah fasilitas olahraga eksisting di Samarinda dan Balikpapan, dinilai menjadi modal yang tak dimiliki daerah lain. "Jika PON 2028 benar-benar digelar di sini, ini akan menjadi booster luar biasa bagi destinasi wisata alami di sekitar IKN," tambahnya.
Syarifuddin tidak menampik bahwa keterbatasan anggaran daerah masih menjadi kendala klasik. Namun, angin segar datang dari Otorita IKN (OIKN) yang mulai menunjukkan komitmen untuk ikut membenahi destinasi di luar kawasan inti.
Intervensi ini diharapkan bisa mempercepat pertumbuhan destinasi yang selama ini berkembang secara alami tanpa fasilitas yang mumpuni. "Dukungan pemerintah pusat melalui OIKN adalah kunci agar ekosistem pariwisata kita tidak timpang antara pusat kota baru (IKN) dengan daerah penyangga," tutupnya.(*)
Editor : Indra Zakaria