Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rusia Desak AS Menahan Diri: Peringatkan Bahaya "Tepi Jurang" Konflik Nuklir di Era Trump

Redaksi Prokal • 2025-12-28 08:00:00
Kementerian Pertahanan Rusia, menunjukkan kapal rudal Armada Pasifik Rusia yang menembakkan rudal jelajah Moskit ke target tiruan di perairan Laut Jepang, 28 Maret 2023.  (HO)
Kementerian Pertahanan Rusia, menunjukkan kapal rudal Armada Pasifik Rusia yang menembakkan rudal jelajah Moskit ke target tiruan di perairan Laut Jepang, 28 Maret 2023.  (HO)

MOSKOW – Pemerintah Rusia secara resmi menyerukan agar Amerika Serikat menunjukkan tingkat menahan diri yang maksimal guna menghindari risiko konfrontasi nuklir. Moskow menekankan bahwa tanggung jawab besar kini berada di tangan pemerintahan Donald Trump untuk mencegah ketegangan dunia jatuh ke dalam bencana global.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan bahwa meskipun jalur dialog mulai terbuka, ancaman terjadinya konflik nuklir masih tetap nyata dan belum terselesaikan sepenuhnya.

Menghindari Spekulasi "Skenario Terburuk"

Dalam wawancara yang disiarkan oleh stasiun televisi Rossiya-1 pada Jumat (26/12/2025), Ryabkov mengungkapkan bahwa posisi dunia saat ini sedang berada di titik yang sangat sensitif. Ia meminta pihak Barat untuk berhenti berspekulasi mengenai kapan perang besar akan pecah.

"Risiko konfrontasi ini tetap ada. Banyak hal akan bergantung pada bagaimana pemerintahan Trump bertindak di masa depan," tegas Ryabkov.

Ia menambahkan bahwa Rusia terus mendorong upaya dialog yang substantif agar risiko berada di "tepi jurang" tidak perlu dibesar-besarkan, namun tetap harus diwaspadai dengan langkah-langkah pencegahan yang nyata.

Ryabkov juga memberikan peringatan keras kepada negara-negara anggota NATO yang berusaha mengalahkan Rusia dalam konflik terbuka. Ia menyebut bahwa strategi untuk menundukkan negara dengan kekuatan senjata nuklir adalah sebuah kemustahilan yang berbahaya.

"Siapa pun yang berharap bisa mengalahkan Rusia dalam konflik terbuka di bawah panji NATO, sangat keliru. Secara definisi, hal itu mustahil dan merupakan jalan pasti menuju bencana," ujarnya.

Rusia menyoroti aktivitas militer NATO yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya di sepanjang perbatasan barat mereka dalam beberapa tahun terakhir. Moskow mengeklaim tindakan tersebut sebagai provokasi yang mengancam kepentingan nasional Rusia.

Sebagai jalan keluar dari kebuntuan geopolitik ini, Moskow mendesak Washington untuk segera terlibat dalam pembicaraan diplomatik yang lebih serius dan jujur. "Kami menyampaikan pesan yang jelas lewat semua saluran: akhirnya, inilah saatnya untuk terlibat dalam perundingan yang sungguh-sungguh dan bermakna," kata Ryabkov.

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa meskipun mereka tidak bermaksud mengancam negara mana pun, mereka tidak akan tinggal diam jika kepentingan keamanan nasionalnya terus diusik oleh ekspansi militer Barat. (*)

Editor : Indra Zakaria