KHARTOUM – Gelombang pengungsian baru kembali menghantam wilayah Kordofan, Sudan. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan lebih dari 1.200 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka hanya dalam hitungan hari akibat eskalasi keamanan yang terus memburuk di wilayah selatan dan utara Kordofan.
Berdasarkan laporan badan PBB tersebut pada Minggu (28/12), ketegangan ini dipicu oleh pertempuran sengit antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Data IOM merinci sebaran pengungsi baru yang terus bertambah sejak pertengahan pekan lalu. Kota Dilling (Kordofan Selatan): Sebanyak 780 orang melarikan diri antara hari Rabu hingga Jumat karena situasi yang tidak stabil.
Desa Al-Sanjouqi (Kordofan Utara): Sekitar 510 warga terpaksa mengungsi menuju wilayah Umm Dam Haj Ahmed dan Sheikan demi mencari perlindungan.
"Kami terus memantau situasi di lapangan secara ketat. Kondisi di wilayah-wilayah ini tetap sangat bergejolak dan sulit diprediksi," tulis pernyataan resmi IOM.
Krisis di wilayah Kordofan merupakan bagian dari bencana kemanusiaan yang lebih besar di Sudan. Sejak akhir Oktober hingga pertengahan Desember saja, IOM mencatat jumlah pengungsi di wilayah Kordofan Utara, Barat, dan Selatan telah mencapai 50.445 orang.
Konflik yang pecah sejak April 2023 ini telah membagi peta kekuatan Sudan menjadi dua kubu besar. Yakni Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang menguasai hampir seluruh wilayah Darfur di Barat. Satu sisi lainnya adalah militer Sudan yang memegang kendali atas sebagian besar dari 13 negara bagian lainnya, termasuk ibu kota Khartoum dan wilayah timur.
Perang saudara ini telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan memaksa jutaan warga sipil hidup dalam ketidakpastian di kamp-kamp pengungsian. Minimnya akses logistik dan bantuan medis memperparah penderitaan warga yang terjebak di zona tempur.
Para pengamat internasional mengkhawatirkan jika pertempuran di wilayah strategis seperti Kordofan terus berlanjut, jumlah pengungsi lintas batas akan meningkat drastis di awal tahun 2026. (*)
Editor : Indra Zakaria