WASHINGTON D.C. – Dunia kembali diguncang oleh retorika panas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang melontarkan ancaman militer ekstrem terhadap Iran. Melalui pernyataan kontroversial di media sosial pada Minggu (5/4), Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil vital Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Menambah kehebohan, Trump menyisipkan kata "Alhamdulillah" dan "Puji syukur kepada Allah" di akhir gertakan kerasnya tersebut.
Eskalasi ini bermula dari kebuntuan di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang lumpuh sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari lalu. Trump, yang sebelumnya telah memberikan ultimatum 10 hari sejak 26 Maret, kini kehilangan kesabaran. Dengan gaya bahasa yang meledak-ledak, ia menetapkan hari Selasa sebagai tenggat waktu penghancuran pembangkit listrik dan jembatan di seluruh Iran jika permintaannya diabaikan. "Buka Selat itu... atau Anda akan tinggal di Neraka," tulis Trump dalam unggahan yang viral tersebut.
Reaksi keras langsung datang dari Teheran. Perwakilan Iran di PBB mengecam pernyataan Trump sebagai ancaman terbuka terhadap kelangsungan hidup warga sipil dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Mereka mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak sebelum ancaman tersebut berubah menjadi kejahatan perang yang nyata. Di sisi lain, pejabat kantor kepresidenan Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menilai gertakan Trump sebagai bentuk keputusasaan dan menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka jika ada kompensasi atas kerusakan perang yang dialami Iran.
Di tengah ancaman serangan udara yang menyasar fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit, Trump justru menunjukkan sikap tak acuh terhadap dampak kemanusiaan. Dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal, ia secara sepihak mengklaim bahwa rakyat Iran justru "menginginkan" intervensi tersebut karena hidup dalam tekanan. Namun, para ahli hukum internasional memperingatkan bahwa penargetan infrastruktur sipil secara sengaja dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang yang serius.
Bersamaan dengan panasnya tensi diplomatik, Trump juga mengonfirmasi keberhasilan operasi militer AS dalam menyelamatkan awak jet tempur F-15E yang jatuh di wilayah pegunungan Iran. Operasi penyelamatan tersebut disebutnya sebagai aksi keberanian luar biasa di tengah medan yang berbahaya. Kini, mata dunia tertuju pada Gedung Putih, di mana Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin (6/4) waktu setempat guna memberikan kepastian langkah militer Amerika Serikat selanjutnya dalam konflik yang berada di ambang titik didih ini. (*)
Editor : Indra Zakaria