Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Serangan Udara AS-Israel ke Iran Membabi Buta: Kampus dan Masjid Jadi Sasaran, Puluhan Orang Tewas

Redaksi Prokal • Selasa, 7 April 2026 - 15:10 WIB
Menteri Sains Iran Hossein Simaee Sarraf memeriksa kerusakan di gedung penelitian Universitas Shahid Beheshti, yang rusak akibat serangan AS-Israel pada 4 April 2026. (Majid Asgaripour/Wana via Reuters)
Menteri Sains Iran Hossein Simaee Sarraf memeriksa kerusakan di gedung penelitian Universitas Shahid Beheshti, yang rusak akibat serangan AS-Israel pada 4 April 2026. (Majid Asgaripour/Wana via Reuters)

PROKAL.CO- Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang memilukan setelah serangan besar-besaran Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam berbagai wilayah di Iran pada awal April 2026. Serangan ini memicu kecaman global lantaran menyasar fasilitas sipil, termasuk tempat ibadah dan institusi pendidikan elit, yang mengakibatkan sedikitnya 34 orang tewas, termasuk enam anak-anak.

Agresi militer ini dilancarkan menyusul ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Teheran terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Namun, dampak di lapangan menunjukkan kerusakan luas pada infrastruktur non-militer di sedikitnya 12 kota, termasuk Teheran, Qom, Isfahan, hingga wilayah selatan seperti Bandar Abbas.

Laporan dari kantor berita Fars merinci kengerian di Baharestan, Provinsi Teheran, di mana 23 nyawa melayang akibat hantaman udara, termasuk empat anak perempuan dan dua anak laki-laki berusia di bawah 10 tahun. Korban jiwa juga dilaporkan berjatuhan di kota suci Qom serta kawasan pesisir Bandar-e Lengeh.

Dunia pendidikan Iran turut berduka setelah Sharif University of Technology, salah satu kampus teknik terbaik di negeri tersebut, mengalami kerusakan parah. Bom dilaporkan menghantam kompleks kampus, merusak laboratorium penelitian dan masjid universitas.

Menteri Sains Iran, Hossein Simaee Sarraf, mengungkapkan bahwa sejak konflik pecah pada akhir Februari, setidaknya 30 universitas telah terdampak serangan. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, mengecam penggunaan bom penghancur bunker (bunker-buster) terhadap fasilitas pendidikan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk "kegilaan" yang menyasar pusat ilmu pengetahuan.

Lumpuhnya Infrastruktur Vital dan Layanan Kesehatan
Selain menyasar sektor pendidikan, serangan ini secara sistematis menghantam urat nadi ekonomi Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas petrokimia di Asaluyeh yang menyumbang sekitar 50 persen produksi nasional. Fasilitas strategis seperti pembangkit listrik, jembatan, hingga pusat produksi air berat di Khondab juga dilaporkan berhenti beroperasi akibat kerusakan berat.

Di sisi kemanusiaan, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan yang mengenai ambulans dan tenaga medis. Sekretaris Jenderal IFRC, Jagan Chapagain, menegaskan bahwa dalam lima minggu konflik, empat relawan telah gugur saat menjalankan misi kemanusiaan.

Situasi ini semakin mencekam menyusul konfirmasi tewasnya Kepala Intelijen Garda Revolusi (IRGC), Mayor Jenderal Majid Khademi. Meluasnya target ke ranah sipil dan fasilitas medis kini memicu kekhawatiran global akan terjadinya krisis kemanusiaan yang lebih besar di Semenanjung Persia. (*)

Editor : Indra Zakaria
#iran