PROKAL.CO– Belum genap 48 jam sejak kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dimulai pada Selasa malam, ketegangan kembali memuncak. Meski serangan besar-besaran yang diperintahkan Presiden Donald Trump sempat ditunda, eskalasi militer di Lebanon dan klaim pelanggaran wilayah udara kini mengancam stabilitas kawasan secara global.
Kebingungan Status Lebanon dalam Kesepakatan
Titik api utama saat ini berada di Lebanon, di mana Israel meluncurkan rentetan serangan udara dahsyat sepanjang Rabu yang menewaskan sedikitnya 254 orang. Menanggapi situasi yang kian memburuk, Pemerintah Lebanon telah menetapkan hari Kamis sebagai hari berkabung nasional. Di tengah duka tersebut, Wakil Presiden AS J.D. Vance memberikan pernyataan tegas dari Budapest bahwa Lebanon tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang ada.
Vance menjelaskan adanya kemungkinan miskomunikasi, di mana pihak Iran mengira gencatan senjata mencakup Lebanon, padahal Amerika Serikat tidak pernah memberikan janji tersebut. Sejalan dengan sikap AS, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak mencakup Hizbullah. Ia menyatakan bahwa militer Israel tetap bersiaga penuh dan siap kembali bertempur kapan saja demi mencapai tujuan keamanan mereka.
Iran Klaim Pelanggaran dan Sabotase
Di pihak lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf secara terbuka menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan yang baru saja berjalan. Selain mempersoalkan serangan di Lebanon, Iran melaporkan adanya pesawat tak berawak (drone) penyusup yang berhasil dihancurkan di Provinsi Fars. Situasi kian memanas dengan munculnya laporan ledakan di kilang minyak Lavan milik Iran yang disebut-sebut sebagai aksi sabotase, meski pihak Israel telah membantah keterlibatan mereka.
Kronologi Ketegangan: Dari "Operasi Tempur Utama" ke Gencatan Senjata
Konflik besar ini bermula setelah Presiden Trump mengumumkan "operasi tempur utama" terhadap Iran pada akhir Februari lalu sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz. Trump menetapkan batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali jalur strategis tersebut atau menghadapi serangan infrastruktur total yang masif.
Ketegangan sempat mereda beberapa jam sebelum tenggat waktu berakhir ketika Trump setuju menangguhkan rencana pemboman selama dua pekan. Keputusan ini diambil setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi setuju untuk membuka kembali koordinasi jalur aman melalui Selat Hormuz di bawah pengawasan angkatan bersenjata Iran.
Di tengah krisis yang menyelimuti Timur Tengah, Presiden Trump juga melontarkan kritik pedas terhadap sekutu Baratnya menjelang pertemuan dengan Sekjen NATO Mark Rutte. Melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt, Trump menyampaikan pesan singkat namun tajam bahwa NATO telah diuji dan terbukti gagal dalam menghadapi tantangan yang ada. Pernyataan provokatif ini kembali memicu spekulasi kuat mengenai kemungkinan penarikan diri Amerika Serikat dari aliansi pertahanan tersebut di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria