izak-Indra Zakaria• Rabu, 21 Desember 2022 - 20:13 WIB
MENUMPUK: Kondisi lahan kosong di sisi ruas Jalan AMD, Kecamatan Banjarmasin Utara, kemarin (19/12) siang berubah menjadi TPS liar. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Sisi ruas Jalan AMD, Kelurahan Alalak Tengah, Kecamatan Banjarmasin Utara mendadak ditumpuki banyak sampah. Lokasi persisnya ada di RT 24 RW 01. Padahal tak jauh dari situ, berdiri fasilitas pendidikan. SMPN 13 Banjarmasin.
Dari hasil pantauan Radar Banjarmasin (19/12), mayoritas adalah sampah rumah tangga. Ada banyak bungkus plastik bekas makanan. Menumpuk. Ketika angin berembus, tak jarang bungkus plastik bekas makanan yang menumpuk itu berserakan di badan jalan.
Warga sekitar, Liani mengaku sudah lama mengetahui kondisi itu. Dia bilang sudah sering ruas jalan itu ditumpuki sampah. Sudah sering pula dibersihkan oleh petugas kebersihan. Bahkan dipasangi spanduk larangan. Namun, sampah-sampah masih kerap bermunculan. “Biasanya sampah-sampah itu mulai menumpuk seusai magrib,” ujarnya. “Sampai siang hari juga masih ada,” tekannya.
Perempuan 32 tahun itu menuturkan yang membuang sampah di kawasan itu tidak hanya orang luar. Tapi juga terkadang warga sekitar. Umumnya enggan membayar iuran atau menyewa jasa paman gerobak yang biasa mengumpulkan sampah dari rumah-rumah warga. “Padahal, iurannya per bulan tidak seberapa. Hanya Rp20 ribu,” bandingnya.
Di sisi lain, banyaknya sampah yang menumpuk hingga berserakan itu tidak hanya mengganggu pemandangan. Bila angin berembus, bau yang dihasilkan dari tumpukan sampah itu juga sampai ke rumahnya. “Memang ada petugas yang biasa mengangkut. Tapi hanya kadang-kadang saja. Karena di situ kan memang bukan TPS,” ujarnya. “Itu lahan kosong milik orang. Entah siapa pemiliknya. Mungkin bila sudah dibikin perumahan, tak ada lagi sampah-sampah di situ,” yakinnya.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah, Marzuki tak menampik bahwa ruas Jalan AMD, RT 24 RW 01 itu memang kerap dipenuhi dengan sampah. Ia juga bilang petugasnya juga sering kali dikerahkan membersihkan sampah, memasang spanduk larangan, hingga melakukan penjagaan di situ. Namun, sampah-sampah terus saja menumpuk.
Ia bilang terjadi lantaran kawasan itu ada banyak terdapat lahan kosong. Dipicu pemilik tanah yang tidak merawat lahan kosongnya.
“Semestinya, pemilik tanah harus ikut bertanggung jawab. Seharusnya lahan kosong itu dirawat. Bukan dibiarkan ditumbuhi tanaman liar,” ujarnya. “Hasilnya, tak sedikit warga yang memanfaatkan lahan itu untuk membuang sampah ke lahan kosong itu,” tekannya.
Marzuki menegaskan dalam Perda tentang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah sudah jelas bahwa pemilik lahan mesti merawat lahan losong miliknya. Itu agar mencegah tidak dijadikan warga sebagai TPS liar. Memang dalam perda itu tak ada sanksi bagi si pemilik lahan.
Hanya sanksi bagi si oknum warga pembuang sampah sembarangan. “Tapi setidaknya, ada kewajiban yang mesti ditunaikan oleh pemilik lahan.
Salah satunya dengan merawat lahan kosong itu,” tekan Marzuki. “Semestinya, kalau tanah itu untuk investasi, kepada pemiliknya tolonglah kan dipelihara,” imbaunya. “Jadi, kami berharap kerja sama semua pihak. Bagi warga, kami imbau agar sedikit mau meluangkan waktu untuk membuang sampah pada tempatnya,” harapnya.
Untuk mengatasi sampah di sejumlah ruas di kawasan Jalan AMD RT 24 RW 01 tadi, Marzuki bakal berkoordinasi dengan lurah dan camat setempat. Lalu, meminta Satgas Kebersihan setempat untuk melakukan pembersihan kawasan. Bisa melalui agenda gotong royong atau sebagainya.
“Sebenarnya, kami sudah berupaya keras menangani TPS liar ini. Dari yang semula sebanyak 115 titik dan tersebar di lima kecamatan, kini hanya tersisa 92 titik,” ungkapnya. “Semoga dengan adanya kesadaran masyarakat, jumlah itu bisa ditekan hingga tak ada lagi TPS liar,” pungkasnya.(war/gr/dye)