TAHULAH Pian, kalau titian atau jembatan mini terpanjang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU)? Titian ini membentang di dua desa di Kecamatan Amuntai Tengah. Melewati wilayah Desa Mawar Sari dan Desa Pinangkara. Titian yang membelah padang rawa ini memiliki panjang delapan kilometer.
Dulu seluruhnya terbuat dari kayu ulin. Sekarang pada beberapa bagian sudah diganti menjadi beton. Dari foto dan video udara tangkapan kamera drone, titian ini bak ular raksasa yang meliuk dan membelah hijaunya rawa HSU. Tokoh masyarakat Desa Mawar Sari, Andum menceritakan, perkampungan di sini tumbuh sejak tahun 60-an. Mereka datang ke sana untuk menangkap ikan. Beberapa kemudian tetap tinggal dan membangun rumah.
Kala itu, perkampungan ini hanya bisa dicapai lewat jalur air dengan naik jukung atau kelotok. Perlahan mulai dibangun titian untuk akses daratnya.
“Dihitung dari Mawar Sari, total panjangnya 5 kilometer. Sudah jadi beton. Titian yang tersisa ulin sepanjang 3 kilometer menuju Pinangkara,” jelas Andum kepada Radar Banjarmasin. Titian ini membantu warga desa untuk menjual hasil pertanian. Seperti cabai, terong, dan kacang tanah. “Usaha utama kedua desa ini adalah pertanian. Ketika musim panen lewat, baru warga beralih ke perikanan,” jelasnya.
Saat ini, pada beberapa titik, ulin titian itu semakin uzur. Warga dan aparat desa memperbaikinya secara swadaya. Lantaran titian itu hanya bisa dilewati sepeda motor dan sepeda, maka sangat jarang ada warga desa yang memiliki mobil. “Kalau punya mobil, mobilnya disimpan atau diparkir di rumah kerabat di desa tetangga. Sebab di sini tidak ada jalan yang bisa dilewati mobil,” jelasnya.
Terpisah, Camat Amuntai Tengah, Amberani mengatakan, Desa Mawar Sari dan Desa Pinangkara hanya berjarak kurang dari 13 kilometer dari Kota Amuntai.
Namun karena tak bisa ditembus kendaraan roda empat, membuat kedua desa itu agak terpencil. “Meski terpencil secara akses, kedua desa ini merupakan salah satu penghasilan sayur mayur lokal terbaik di HSU. Mereka bercocok tanam saat air rawa mulai surut. Seperti sekarang yang tengah memasuki kemarau,” ujarnya.
Populasi kedua desa itu diperkirakan mencapai 2000 jiwa lebih. (mar/gr/fud)