SAMPIT – Bertanam sayur tak harus dengan media tanah. Kini masyarakat perkotaan bisa memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk bertanam dengan hasil berkualitas. Salah satunya bertanam dengan sistem hidroponik, seperti yang dilakukan oleh Hidroponik 88.
Kebun sayur modern di samping kantor Radar Sampit ini dibuat dengan memanfaatkan lahan kosong. Belum sampai sebulan dari semai, tanaman pakcoy sudah dipanen. Panen perdana kemarin (11/7) dihadiri oleh Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Supian Hadi, Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim Halikinnor, Kepala Dinas Pariwisata Kotim Fajrurrahman, dan Manager Food and Beverage Aquarius Boutique Hotel Sampit Sistiarto.
"Kami ucapkan terima kasih kepada harian Radar Sampit yang telah mengundang kami untuk melakukan panen sayuran dengan budidaya secara hidroponik, semoga ke depan mampu menularkan ide ini ke masyarakat Kotim," ujar Bupati Supian Hadi.
Bupati mengatakan, panen perdana tersebut menjadi momentum dalam menumbuhkan motivasi masyarakat di lingkungan SOPD Pemkab Kotim dalam hal pemanfaatan pekarangan rumah.
"Saya menginginkan agar masyarakat maupun seluruh SOPD dapat melakukan hal serupa di lingkungan rumah maupun kantornya masing-masing," katanya.
Sayuran merupakan komoditi strategis Kabupaten Kotawaringin Timur dalam mendukung ketahanan pangan. Sayur yang ditanam secara hidroponik tersebut dapat membawa manfaat besar, mengingat lahan di perkotaan semakin sempit.
"Sistem hidroponik yang dilakukan ini dapat menjadi percontohan bagi Kotim dan agar ke depan anak cucu kita mengetahui tentang sayuran hidroponik," jelas Supian.
Lebih lanjut, perubahan lingkungan strategis dengan adanya globalisasi ekonomi serta tuntutan masyarakat terhadap keamanan pangan dan kelestarian lingkungan mendorong adanya perubahan dalam agribisnis sayuran, dimana sayuran harus diproduksi secara efisien untuk dapat bersaing di pasaran. Di samping itu efisiensi teknis dalam produksi sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan keuntungan usaha yang tinggi.
Menurutnya, penanaman sayur mayur menggunakan sistem hidroponik tidak memakan lahan yang luas, namun hasilnya bisa memuaskan.
"Dengan mengembangkan dan membudidayakan ini supaya tidak ada kekurangan dalam hal sayur mayur minimal untuk kebutuhan keluarga," katanya.
Selain untuk ketahanan pangan pemanfaatan lahan pekarangan yang ditanami sayur mayur juga dapat mendatangkan sumber penghasilan bagi keluarga.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Kotawaringin Timur Halikinnor turut mengapresiasi langkah Radar Sampit yang memiliki ide untuk memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif.
Sementara itu, Direktur Radar Sampit Siti Fauziah mengatakan, masa pandemi Covid-19 telah membuat banyak sektor usaha terkena dampaknya tak terkecuali bisnis media. Hal itu membuatnya termotivasi untuk terus beraktivitas. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan kosong.
“Sejak Maret lalu pandemi Covid-19 telah membuat segala ruang aktivitas gerak kita dibatasi untuk menekan penyebaran Covid-19. Pemerintah menganjurkan masyarakat tetap di rumah sehingga imbasnya segala sektor usaha termasuk media terkena dampaknya,” ujarnya.
“Saya lalu berpikir, selama Covid-19 kita tidak bisa bepergian kemana-mana, pergerakan dunia usaha juga bergerak lambat. Akhirnya saya saat itu berencana memanfaatkan lahan kosong disebelah kantor. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan untuk bercocok tanam,” ujarnya.
Siti pun tertarik dengan metode bercocok tanam dengan teknik hidroponik. Menurutnya, teknik hidroponik merupakan cara bertani yang sangat menyenangkan dan tidak bikin repot. Cukup menyemai, selanjutnya tinggal menunggu panen.
“Kita memilih teknik hidroponik karena penanganannya lebih gampang. Tidak perlu mencangkul, menyiram, atau membersihkan rumput. Semua dibuat secara mekanis sehingga sangat praktis. Usia panen juga jauh lebih cepat, karena kebutuhan pupuk terpenuhi secara maksimal,” katanya.
“Sebenarnya kita tidak punya pengalaman menjadi petani. Tetapi, kita punya karyawan yang sebelumnya sudah punya pengalaman mengelola teknik hidroponik di rumahnya dan terbukti menghasilkan,” tambahnya.
Selain itu, Radar Sampit juga mendukung surat edaran Bupati Kotim terkait program ketahanan pangan di Kotim. “Kita mendukung program ketahanan pangan di Kotim. Kita juga melihat kebutuhan masyarakat terhadap sayuran dan selama Covid-19 harga sayur sempat mengalami kenaikan, karena adanya pembatasan sosial, sehingga kami berinisiatif bercocok tanam dengan teknik hidroponik,” ujarnya.
Tak hanya itu, kebun hidroponik juga menjadi sarana refreshing. Di saat pikiran penat, maka akan kembali bersemangat ketika melihat tanaman di sekitar tumbuh dengan cepat dan subur.
”Hidroponik benar-benar memanjakan mata yang melihatnya,” kata lulusan Teknik Sipil Universitas Palangka Raya ini.
Siti berharap kebun hidroponik ini bisa memberikan motivasi bagi pihak masyarakat secara perseorangan, swasta maupun pihak instansi pemerintah untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat bercocok tanam.
“Kebun hidroponik ini kita harapkan juga bisa menjadi potensi agro wisata sebagaimana yang disampaikan Pak Sekda dan bisa menjadi sarana pendidikan bagi kalangan pelajar untuk mengenalkan teknik bercocok tanam hidroponik sejak dini,” ujarnya.
Disamping itu, kebun hidroponik yang sudah dipersiapkan sejak 11 Juni 2020 lalu diharapkan dapat menciptakan kerjasama sesama relasi Radar Sampit.
“Kita sudah mulai persiapan sejak 11 Juni dan mulai semai pada 14 Juni. Saat ini kita sudah punya 2020 lubang tanam. Kedepannya kita berencana lakukan perluasan tanam. Semua masyarakat Kotim juga bisa datang kemari karena kami juga menyediakan penjualan untuk per batang dengan harga yang relatif murah hanya Rp 3.000 dan Rp 25 ribu untuk per kg sawi pakcoy,” tandasnya. (yn/hgn/yit)
Editor : sastro-Sastro Radar Sampit