Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Solar Subsidi Macet Dua Bulan, Nelayan Kumai Tercekik Harga Eceran

Redaksi Prokal • 2025-12-25 11:30:00
BIAYA MAHAL: Nelayan Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, mengeluhkan terhentinya pasokan solar subsidi, Selasa (23/12).
BIAYA MAHAL: Nelayan Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, mengeluhkan terhentinya pasokan solar subsidi, Selasa (23/12).

 

PANGKALAN BUN – Nasib sulit tengah membayangi para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sudah dua bulan terakhir, distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar terhenti total, memaksa para pelaut kecil merogoh kocek lebih dalam untuk membeli solar eceran demi tetap bisa melaut.

Terhentinya pasokan ini bukan disebabkan oleh kelangkaan stok dari Pertamina, melainkan adanya kendala finansial pada internal Koperasi LEPP-M3 Swamitra Kumai sebagai pengelola SPBU-N setempat.

Ketiadaan solar subsidi membuat beban hidup nelayan kian berat. Perbedaan harga yang mencolok antara harga resmi dan eceran menggerus pendapatan mereka secara signifikan. Harga Solar Subsidi: Rp6.800 per liter (Tidak tersedia), harga solar eceran Rp13.500 per literdengan kebutuhan harian 10 hingga 20 liter per hari.

“Dengan harga eceran setinggi itu, modal yang dikeluarkan sangat besar. Sementara saat ini cuaca sedang ekstrem dan hasil tangkapan tidak menentu,” keluh Lehan, salah satu perwakilan nelayan Kumai, Selasa (23/12/2025).

Berdasarkan penelusuran para nelayan, pihak Pertamina sebenarnya siap menyalurkan pasokan kapan saja. Namun, Koperasi LEPP-M3 Swamitra Kumai selaku pemegang izin kerja sama tidak mampu melakukan Drop Order (DO) atau penebusan BBM kepada Pertamina akibat permasalahan keuangan internal.

“Pertamina siap menyalurkan jika ada pembelian dari koperasi. Masalahnya, selama dua bulan ini tidak ada DO, sehingga pasokan tidak bisa turun ke nelayan,” jelas Lehan. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat SPBU-N 68741003 seharusnya menjadi tumpuan utama bagi nelayan kecil untuk mendapatkan energi dengan harga terjangkau.

Bagi nelayan seperti Usman, membeli solar eceran adalah pilihan pahit yang harus diambil. Berhenti melaut berarti memutus satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga. “Mau tidak mau kami beli solar eceran. Kalau tidak melaut, tidak ada penghasilan sama sekali,” tuturnya dengan nada pasrah.

Masyarakat nelayan Kumai mendesak Pemerintah Daerah Kotawaringin Barat dan instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan mediasi atau mencari solusi atas kemacetan di tingkat koperasi. Para nelayan berharap distribusi kembali normal sebelum pergantian tahun, mengingat kebutuhan ekonomi di akhir tahun biasanya meningkat. (*)

Editor : Indra Zakaria