KETIKA banyak fasilitas yang belum dimiliki, Berau justru menggelar berbagai kegiatan. Apalagi di bidang seni tarik suara. Terakhir, Fika Yuliana, istri Pak Agus Tantomo, Wabup Berau yang berhasil tampil di tingkat Nasional sebagai Juara I KDI.
Secara tak sengaja, kemarin (28/3), saya bertemu dengan Hijrat di kantornya, UPTD Kehutanan yang berada di Jalan Pemuda. Saya datang untuk mengantar surat. Kebetulan, Hijrat bersama beberapa rekannya duduk di luar gedung kantor. Saya sapa beliau, sekaligus menitipkan surat itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, baru kali ini jumpa dengannya. Ternyata, Tanjung Redeb yang dianggap kecil, sulit mempertemukan teman-teman lama. Hijrat contohnya. Tapi, agaknya hari kemarin itu sudah jodoh dipertemukan dan yang dikisahkan pun sudah pasti yang pernah kami lewati berdua.
Ada satu even yang cukup dikenal warga kala itu. Setiap lebaran Idulfitri digelar festival menyanyi. Jatah Gunung Tabur, pada lebaran Idulfitri. Sementara saat lebaran Iduladha menjadi jatah Sambaliung sebagai penyelenggara festival. Pesertanya pun membanjir. Demikian juga jurinya yang hebat-hebat.
Lokasi penyelenggaraannya di gedung Balai Pertemuan Umum (BPU). Bangunan kayu yang dulu dibangun di pinggir Sungai Segah, tak jauh dari Museum Batiwakkal. Mau menyaksikan, bila tak salah, berbayar. Saya yang tinggal di Tanjung Redeb, sebelum acara dimulai sudah harus menyeberang sungai dengan perahu ketinting. Waktu itu, Jembatan Gunung Tabur belum terbangun.
Banyak peserta yang kualitas suaranya hebat-hebat. Salah satunya, Hijrat. Setiap tampil, Hijrat mengenakan jas berwarna gelap, serasi dengan dasinya. Hanya saja, sedikit kewalahan karena badannya gemuk, sehingga jas selalu dalam posisi tidak terkancing.
Pengunjung ketika tahu Hijrat ikut sebagai peserta, sudah bisa menebak. Pasti Hijrat lagi juaranya. Vokalnya luar biasa melengking dengan improvisasi yang mengundang juri memberikan nilai tertinggi. Saya memang tidak bisa memaksakan diri untuk menyaksikan hingga akhir, sebab khawatir tak dapat tumpangan kembali ke Tanjung Redeb.
Saya masih ingat satu nama yang sering menjadi juri yakni Pak Wasisto (almarhum). Pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Berau, Kepala Rumah Sakit, dan Kepala Bappeda. Juga pernah maju sebagai calon bupati Berau berpasangan dengan Pak Muharram (Bupati sekarang).
Pada Lebaran Iduladha, giliran Sambaliung menjadi tuan rumah. Menyeberangnya juga sama menggunakan perahu ketinting dari Tanjung Redeb karena belum ada Jembatan Sambaliung ketika itu. Banyak penonton dan peserta berharap Hijrat tak ikut serta. Sebab sudah bisa ditebak bahwa pastilah Hijrat lagi yang bakal jadi juaranya.
Dua momen ini masih dikenang oleh banyak warga. Sayangnya, even itu tak berlanjut hingga sekarang. Dua tempat yang sering digunakan untuk lomba itu, sudah dibongkar. Memang kondisi bangunan yang tidak estetis dan sulit dipertahankan.
Meskipun momen Idulfitri dan Iduladha tak lagi digelar, ada satu festival digelar oleh anak-anak muda di Teluk Bayur. Famfir namanya. Festival musik Idulfitri. Sehari, penuh warga memadati lapangan bola Teluk Bayur. Pamfir masih bertahan, terus digelar sebagai kalender tahunan anak muda di Teluk Bayur.
Festival Karaoke tak pernah lagi digelar. Menarik mungkin jika bisa dibangkitkan lagi, gairah menyanyi di kalangan anak muda. Apalagi, fasilitas sudah lengkap. Ada gedung baru yang bisa digunakan baik di Gunung Tabur maupun di Sambaliung.
Setelah Fika Yuliana, tak ada lagi penyanyi Berau yang tampil di level nasional. Agaknya, festival usai Lebaran Idulfitri dan Lebaran Haji, perlu dihadirkan kembali. Setidaknya, untuk menjaring bakat penyanyi yang bisa menjadi bekal mengikuti ajang tingkat nasional. Toh, ajang nasional masih sering dilaksanakan seperti di beberapa stasiun televisi saat ini. Khususnya lagu dangdut.
Kalau itu digelar lagi, saya yakin Hijrat, sang penyanyi, tak bisa lagi tampil. Saya yang akan protes. Bila sebagai penyanyi bintang tamu bolehlah. Mungkin tepatnya duduk di bangku juri. Dan saya, hahaha juga akan masih setia duduk di bangku penonton. Sambil mengenang masa-masa lalu. (*/asa)
Editor : uki-Berau Post