Jumlah wisatawan ke Bromo menurun bahkan jika dibandingkan dengan saat erupsi serupa terjadi tahun lalu. Padahal, di luar radius 1 kilometer dari kawah, kondisi di sana sangat aman.
ARIF MASHUDI, Probolinggo
HUJAN abu tipis memang masih mengguyur kawasan sekitar Gunung Bromo sampai kemarin (22/3). Tapi, bagi Digdoyo Djamaluddin, justru saat seperti itulah waktu terbaik untuk berkunjung.
”Wisatawan yang datang bisa dibuat takjub dengan keindahan asap yang dikeluarkan kawah Bromo. Dalam berbagai bentuk,” kata ketua Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo tersebut.
Gunung di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, itu memang tengah ”bersin”. Mengeluarkan abu vulkanis. Seperti dilaporkan Jawa Pos Radar Bromo, semburan abu tipis tersebut kemarin menimpa sebagian wilayah Kecamatan Sukapura dan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Tapi, erupsi Bromo itu berskala kecil. Statusnya juga level II (waspada). Sehingga tetap aman dikunjungi wisatawan selama tidak memasuki jarak radius 1 kilometer dari kawah.
Kemarin, di sepanjang jalan raya menuju Bromo, segalanya tampak normal. Warga tetap beraktivitas di lahan pertanian. Menanam ataupun memanen hasil pertanian berupa sayuran.
Banyak di antara mereka yang tidak mengenakan masker. Padahal, BPBD Kabupaten Probolinggo melalui kecamatan sebenarnya sudah membagikan masker ke desa-desa dan sekolah-sekolah. Namun, warga Tengger rupanya lebih nyaman dan terbiasa memaksimalkan manfaat sarung yang biasa dikenakan.
Warga suku Tengger di kawasan Sukapura juga tetap beribadah seperti biasa. Seperti Kamis lalu (21/3) saat warga Tengger menjalani ibadah purnama di Pura Poten, kemarin mereka juga melakoni ritual di Jumat Legi (berdasar penanggalan Jawa) berupa silaturahmi ke leluhur.
”Bagi warga di sini, erupsi Bromo yang terjadi sekarang sudah biasa dan bukan hal baru,” ungkap Camat Sukapura Yulius Christian kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Kemarin juga tampak sejumlah petugas dari TNBTS dan BPBD (badan penanggulangan bencana daerah) yang tengah menjaga lautan pasir Bromo. Petugas berupaya menghalau dan melarang wisatawan masuk radius 1 kilometer dari kawah Bromo.
Sayang, di tengah kondisi aman dan tawaran keindahan erupsi, masih banyak wisatawan yang ragu atau bahkan akhirnya membatalkan kedatangan. Memang selama ini Maret termasuk bulan yang kunjungan wisatawan ke Bromo rendah (low season). Tapi, yang terjadi sekarang lebih rendah daripada biasanya. Bahkan lebih rendah ketimbang saat erupsi serupa terjadi tahun lalu.
”Kalau kondisi low season, biasanya pemilik jasa transportasi paling tidak seminggu dapat satu kali angkut. Tapi, kalau saat ini, kami bisa-bisa dapat sekali angkut jasa transpor dalam sebulan,” terang Choirul Umam Masduki, wakil ketua Paguyuban Patra (Perkumpulan Penyedia Jasa Transportasi Wisata) Bromo.
Dampak serupa dirasakan para pengelola hotel dan penginapan. Yoyok –sapaan akrab Digdoyo Djamaluddin– menceritakan, rata-rata angka hunian tertinggi saat ini 20 persen. ”Itu pun sulit,” katanya.
Di hotel miliknya, Yoyok mencontohkan, di antara total 40 kamar, sekarang hanya terisi empat sampai enam kamar. ”Biasanya, saat low season itu, paling tidak kamar yang tersewa sepuluh kamar,” ungkapnya.
Padahal, Bromo adalah jujukan wisata andalan Jawa Timur. Daya tarik utamanya adalah melihat matahari terbit dan menyaksikan kawah. Sepanjang tahun lalu tercatat 828.247 wisatawan (domestik dan asing) berkunjung ke Bromo. Meningkat dibanding 2017 yang mencapai 628.895 wisatawan.
TNBTS membentang di empat kabupaten di Jawa Timur, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Karena itu, Bromo punya banyak pintu masuk. Tapi, di semua pintu masuk itu pun, menurut Kepala Seksi Wilayah I TNBTS Sarmin, angka kunjungan menurun. Hanya berkisar 200 sampai 300 wisatawan dari semua pintu masuk.
Biasanya, saat low season, pada hari-hari biasa kunjungan paling tidak tercatat 500 wisatawan. ”Padahal, Bromo sangat aman dikunjungi. Wisatawan malah bisa mendapat sajian momen kawah Bromo mengeluarkan asap dan abu vulkanis,” ungkapnya.
Menurut Yoyok, penurunan sekarang terjadi karena banyak yang tidak mendapatkan informasi secara lengkap. Hanya berhenti pada ”Bromo erupsi”. Padahal, erupsinya kecil. Hanya mengeluarkan abu tipis. Itu pun tidak berdampak pada aktivitas warga dan wisatawan yang datang berkunjung.
Wisatawan yang paham, lanjut Yoyok, pasti malah berusaha untuk datang menyaksikan Bromo erupsi. ”Karena ini momen yang langka. Gunung erupsi keluarkan asap bisa diabadikan momennya,” tutur dia. (*/c9/ttg)
Editor : izak-Indra Zakaria