BALIKPAPAN–Deteksi dini Covid-19 di Kaltim bakal semakin cepat mulai akhir bulan ini. Jika sebelumnya tenaga medis butuh waktu 7 hingga 10 hari, nanti hanya 6 jam. Seiring dengan tibanya alat tes polymerase chain reaction (PCR). Rencananya, ada dua PCR bantuan pemerintah yang akan dioperasikan di Kaltim.
Bantuan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan ditempatkan di Rumah Sakit Pertamina (RSP) Balikpapan. Sedangkan bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bakal dioperasikan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. “Saya sudah bertemu Direktur RSPB dr Syamsul Bahri dan Wadir dr Khairuddin. Beliau memperkirakan akhir bulan ini, alat PCR sudah bisa dioperasikan di RSPB,” kata Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi kepada Kaltim Post.
Dia berharap, beroperasinya alat tes PCR mempercepat diagnosis pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP). Rizal menuturkan, selama ini PDP menjalani masa karantina di rumah sakit sekira 3 minggu. Dilanjutkan pemantauan di tempat observasi selama 1 minggu. Waktu selama itu untuk menunggu hasil dari laboratorium Kemenkes di Surabaya, Jatim.
“Waktu 1 bulan itu, sangat berat bagi mereka yang mengalaminya. Adanya PCR di RSPB bisa lebih cepat. Hari ini swab-nya dikirim, besok paling lambat sudah ada hasilnya,” ucap dia.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan dr Andi Sri Juliarty menambahkan, sembari menunggu kedatangan alat tes PCR, persiapan laboratorium terus dirampungkan RSPB. Menurut dia, alat tersebut harus ditunjang dengan ruangan khusus untuk memeriksa sampel cairan dahak dari pasien yang diduga terjangkit virus corona itu.
Nantinya, ada tiga ruangan bertekanan negatif dioperasikan di RSPB. Dilengkapi fasilitas lemari es. “Alat PCR tidak bisa jalan sendiri. Perlu fasilitas pendukungnya,” kata perempuan berkerudung itu. Dokter yang akrab disapa Dio tersebut mengungkapkan, keberadaan alat tes PCR di RSPB memiliki risiko memunculkan jumlah terkonfirmasi positif bakal lebih banyak. Namun sisi positifnya, penanganan juga lebih cepat. Sehingga penyebaran corona tidak semakin meluas.
“Akhirnya jadi lebih cepat. Dari 10 hari jadi 6 jam, sudah bisa ada hasilnya. Artinya lebih cepat kita mengetahui, lebih cepat ditangani, lebih cepat sembuh dan harapan hidup lebih besar,” katanya. Dia melanjutkan, laboratorium PCR di dua daerah di Kaltim nanti mampu memeriksa 100 sampel swab tenggorokan per harinya. “Kemungkinan pemeriksaan PCR di RSPB akan ditanggung APBD. Kecuali Kementerian Kesehatan menetapkan laboratorium RSPB menjadi rujukan seperti di Surabaya. Mudah-mudahan seperti itu,” harap dia.
Mantan kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Diskes Balikpapan itu melanjutkan, tidak semua masyarakat akan menjalani swab test saat laboratorium PCR beroperasi. Hanya PDP dan hasil penelusuran PDP yang menjadi prioritas. Selanjutnya, ODP yang memiliki potensi menjadi PDP. “Nanti kita lihat, terutama tracking kasuistiknya,” ujar Dio.
Sembari pemeriksaan berjalan, perempuan berkacamata itu berharap, masyarakat disiplin mematuhi imbauan pemerintah. Yakni, menjaga jarak fisik satu sama lain dan tinggal di rumah sesering mungkin untuk membantu menghentikan penyebaran virus corona.
“Supaya tidak terlalu banyak yang akan menjalani tes PCR nanti,” pungkasnya. Diwartakan sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Andi M Ishak mengungkapkan, pengiriman spesimen corona di Kaltim saat ini terbatas. Hanya seminggu tiga kali. Itu pun, hanya bisa diterbangkan dari Balikpapan mengikuti jadwal penerbangan. Karena itu, jika Kaltim bisa menguji sendiri, maka akan lebih mudah. "Pakai PCR, sekali running mesin bisa 100 sampel. Hasilnya segera didapat dalam tiga jam," pungkas Andi. (kip/riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria