Efek sejumlah kota menerapkan syarat keterangan negatif Covid-19 melalui swab test membuat rumah sakit kebanjiran peserta tes mandiri.
M RIDHUAN, Balikpapan
Rahman, warga Manggar, Balikpapan Timur, baru saja keluar dari Poli Covid-19 RSUD Kanujoso Djatiwibowo, Rabu (10/6). Surveyor bidang perkapalan itu sedang mengantar sejumlah pekerja yang akan berangkat ke Jakarta. Sebagai syarat, mereka harus mengantongi surat keterangan negatif Covid-19 dari hasil swab test.
"Ribet. Harus urus SIKM (surat izin keluar-masuk) juga," ungkapnya.Dari pengalamannya mengurus pekerja yang mondar-mandir ke luar pulau, surat keterangan negatif Covid-19 hasil swab test juga diperlukan di sejumlah provinsi seperti Bali dan Sumatra Selatan, khususnya Palembang. Hal ini tentu memberatkan. Mengingat biaya yang dikeluarkan untuk swab test tidak sedikit. Bahkan lebih mahal dibandingkan harga tiket pesawat.
"Bolak-balik sudah lebih dari Rp 4 juta," ujarnya, mengingat Kaltim khususnya Balikpapan juga menerapkan kebijakan serupa bagi warga non-KTP Kaltim.
Melakukan swab test secara mandiri di RSUD Kanujoso Djatiwibowo sendiri telah mengalami sejumlah perubahan. Baik harga maupun kapan hasilnya bisa diketahui. Koordinator Poli Covid-19 RSUD Kanujoso Djatiwibowo Tika Adilistya menjelaskan, sejak Senin (8/6) lalu pihak rumah sakit sudah tak bisa melakukan Tes Cepat Molekuler (TCM) karena sudah kehabisan reagen (cairan pereaksi kimia).
“Perlu ditegaskan, yang habis adalah reagen yang memang dibeli dari rumah sakit untuk menyediakan pelayanan TCM secara mandiri,” sebut Tika.
Memang, untuk rumah sakit pemerintah memiliki tiga sumber reagen. Yakni, bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), lalu dari Pemprov Kaltim, dan dari pembelian rumah sakit langsung ke distributor. “Untuk TCM dari Kemenkes dan Pemprov Kaltim dijamin ketersediaannya,” sebutnya.
Sebelumnya, RSUD Kanujoso Djatiwibowo sudah melayani 160 peserta TCM secara mandiri dengan menggunakan reagen yang dibeli. Saat itu bagi yang ingin melakukan test dikenai tarif Rp 2.057.500 dengan hasil bisa diketahui dalam waktu dua jam. “Ketersediaan reagen kami untuk TCM mandiri sejak awal hanya 160 itu. Dan sampai sekarang kami belum bisa sediakan lagi,” ungkapnya.
Disebut Tika, pihak rumah sakit kesulitan mendatangkan reagen. Sebab, hanya ada satu distributor resmi yang sudah mengantongi izin dari pemerintah. Distributor ini pula yang menyediakan reagen ke kementerian dan rumah sakit di seluruh Indonesia.
“Jadi, mereka (distributor) memang alokasi dijual sekian persen karena ada kepentingan penerbangan. Namun, ya, itu stoknya terbatas dan berebut juga dengan yang lain, meski kami siap cash on delivery,” ungkapnya.
Untuk tetap bisa melayani swab test mandiri, pihaknya pun bekerja sama dengan laboratorium Prodia. Dengan konsekuensi harga yang dikenakan untuk swab test meningkat ke harga Rp 2.397.500 karena menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).
Dengan waktu mengetahui hasilnya juga lebih lama, yakni lima hari. Sebenarnya, laboratorium mampu mengerjakan 500 sampel setiap hari. Namun, karena sampel yang dikirim dari ribuan dan dari banyak kota, maka harus mengantre.
“Makanya saya menjanjikan maksimal lima hari sudah ada hasilnya,” sambungnya. Jika sebelumnya TCM mandiri dilakukan kecuali Kamis dan Minggu, kini RSUD Kanujoso Djatiwibowo melayani swab test mandiri pada Senin-Kamis.
“Ini karena jadwal penerbangan untuk mengantar sampel swab ke Jakarta sulit diperoleh pada akhir pekan,” lanjutnya. Kepada mereka yang ingin melakukan tes, Tika memaparkan, harus menghubungi layanan call center yang sudah disebar rumah sakit, termasuk di media sosial. Lalu sebagai bentuk kesediaan mendaftar, wajib menyetorkan dana ke rekening yang sudah ditetapkan.
“Jadi, bayar dulu baru kami daftarkan. Karena sangat banyak yang ingin melakukan tes,” ucapnya.
Setelah itu, peserta dipanggil keesokan paginya. Selain melengkapi administrasi, juga diminta untuk mengisi formulir surat pernyataan pemeriksaan TCM mandiri. Dalam formulir tersebut, berisi informasi ke mana peserta akan terbang dan bersedia dites ulang jika terdapat eror.
“Jika hasilnya negatif, kami akan hubungi dan minta yang bersangkutan datang mengambil surat keterangan negatif Covid-19,” ucapnya. Namun, jika hasil laboratorium menyatakan peserta positif virus corona, pihaknya akan berkoordinasi dengan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Selanjutnya tim gugus akan menghubungi peserta untuk dilakukan langkah lanjutan.
“Kami biasanya tawarkan apakah mau dikarantina di rumah sakit kami atau dirujuk ke rumah sakit lain. Ini sesuai dengan permintaan peserta,” katanya. (***/dwi/k16/bersambung)
Editor : izak-Indra Zakaria