Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bukti Kebrutalan Jepang

uki-Berau Post • Selasa, 12 Februari 2019 - 20:23 WIB

SEPINTAS tak ada hal yang luar biasa. Sama dengan kompleks pemakaman lainnya. Kompleks pemakaman ini bernama Harapan Kasih. Lokasinya di dalam kota, bersebelahan dengan kantor Camat Tanjung Redeb. Ini adalah makam warga Tionghoa.

Hujan sejak pagi, tak mengurungkan niat untuk berkunjung ke kompleks pemakaman itu. Saya tidak bisa masuk kompleks karena pagar berwarna merah itu tergembok rantai. Saya hanya melihat dari balik pagar. Mencermati lokasi pemakaman yang berbukit. Lokasi ini sudah cukup lama.

Dulu, saya sering masuk ke kompleks ini. Baik ketika ikut pemakaman kenalan yang keluarganya meninggal dan dimakamkan di tempat ini maupun saat warga Tionghoa di Berau merayakan Ceng Beng. Saya biasanya dapat tugas seksi sibuk alias juru foto. Ceng Beng atau biasa disebut Qing Ming yang berarti cerah dan cemerlang, biasanya digelar setelah bulan April. Banyak legenda yang bercerita tentang Ceng Beng ini. Saya sendiri tentu tidak banyak tahu. Yang sering saya dengar, Ceng Beng itu sebagai penghormatan kepada leluhur. Dengan  menghormati leluhur, harus menjaga sikap hidup agar tidak mencoreng nama leluhur. Caranya sederhana, dengan memberikan kontribusi positif pada lingkungan dan selalu menjaga perilaku agar tidak memalukan leluhur. Banyak warga Berau yang berdomisili di luar daerah, kembali ketika perayaan Ceng Beng berlangsung. Salah satu tempat berkumpul di kompleks makam Harapan Kasih.

Usai mengunjungi lokasi, walaupun tak masuk di makam. Saya bingung di mana mencari narasumber yang bisa bercerita soal kompleks makam itu. Termasuk, ada bangunan kecil berornamen khas yang berada tak jauh dari pintu masuk. Seharian menunggu, Pak Oetomo Lianto (Aliang) di warung Hoky tak juga datang. Saya mau bertanya ke Pak Pu Tau, tokoh Tionghoa di Berau, tapi tak jumpa juga. Harapan saya, bisa sambil nyuci kendaraan, lalu bisa bertemu Pak Ayit, pemilik pencucian yang juga tahu historis kompleks makam itu. Hujan-hujan mau nyuci kendaraan, pasti ditertawai teman.

Sebetulnya, apa makna bangunan kecil yang ada di pintu masuk yang berbeda dengan bentuk makam lainnya. Banyak tulisan, tapi lagi-lagi saya tak mengerti. Bisa gagal catatan saya untuk edisi Selasa (12/2) hari ini. Sementara saya butuh narasumber untuk kembali mengingatkan saya kepada masa lalu. Saya sebetulnya berpikir untuk ngobrol dengan beberapa anak muda yang sering bertemu dan akrab dengan mereka. Mungkin saja mereka pernah mendengar cerita lepas sekitar kompleks makam Harapan Kasih. Giok, pemilik warung kopi Hoky, juga lagi liburan ke Balikpapan. Anaknya, Jodig yang pengantin baru itu, sama sekali tidak tahu.

Biasanya saat gerimis, banyak teman-teman yang sama-sama waktu menggarap perayaan imlek tahun lalu, kumpul makan siang di Hoky. Rupanya, gerimis membuat mereka ngantuk dan memilih makan siang di rumahnya masing-masing. Tapi, saya ingat. Pak Aliang pernah cerita saat perayaan Ceng Beng beberapa tahun lalu. Sambil menunjuk ke arah bangunan, ia menyebutkan bahwa yang ada di monumen itu adalah nama-nama warga Tionghoa yang dibantai oleh Jepang saat berkuasa di Berau.

Ada banyak nama. Tapi tidak tahu keluarganya. Sehingga diputuskan dimakamkan di kompleks penguburan itu.  Dan untuk mengenang, dibuatlah tugu bertuliskan nama-nama mendiang. Jadi sebetulnya, monumen yang ada itu juga merupakan monumen sejarah. Ada juga informasi yang dituturkan teman saya, pemilik Toko Tops Jaya, Jalan Magga II, Tanjung Redeb. Ia menyebut, jumlah korban keganasan tentara Jepang terlalu banyak. Baik yang dibunuh maupun yang ditangkap tapi tidak kembali. Nama-nama itulah yang diabadikan untuk menghormati arwahnya.

Jelas sekarang. Ternyata bangunan yang ada di balik pagar itu adalah salah satu saksi sejarah. Ini monumen yang juga menjadi catatan bukan saja bagi warga Tionghoa, tapi bagi warga Berau bahwa mereka dan banyak warga Berau lainnya menjadi korban kebrutalan tentara Jepang saat itu. Bila demikian, saya melihatnya sebagai sebuah situs sejarah. Juga bisa menjadi salah satu objek wisata sejarah yang perlu dicatat untuk diketahui khalayak. Sayang, tak ada keterangan dalam bahasa Indonesia yang sifatnya informatif. Dalam kawasan itu, memang kompleks pemakaman Harapan Kasih. Tapi di pojok kiri kompleks, ada monumen sejarah. Sayang, pintu pagar terkunci, saya tak bisa melihat secara detail. Setidaknya, saya juga bisa memberikan penghormatan walau dari luar pagar.(*/asa)

 

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan