DATANGLAH ke Taman Sanggam sore hari. Akan menemukan suasana teduh. Walau pohonnya belum banyak yang rindang. Bersama keluarga menikmati sore yang indah. Sama dengan Taman Cendana di depan kantor bupati.
Lahannya yang luas. Berdiri bangunan perpustakaan daerah. Menghadap ke Sungai Kelay. Bisa menyaksikan kesibukan kendaraan di jembatan menuju Sambaliung. Ada tulisan dengan ukuran besar bertuliskan ‘Taman Sanggam’.
Di seberang jalan, ada bangunan baru yang menunggu diresmikan. Bangunan dermaga yang khusus melayani penumpang yang ingin menggunakan perahu cepat. Tujuannya ke lokasi wisata. Ada lahan terbuka, untuk lapangan parkir. Mulai sore, ditempati pedagang makanan hingga malam. Mereka ini sebelumnya berjualan di lahan depan kantor BNI, Jalan SA Maulana.
Sebelum masuk ke Taman Sanggam, di pintu gerbang, banyak penjual gorengan. Ada kursi khusus yang ditempatkan pada trotoar. Jumlahnya tidak banyak. Bisa memesan gorengan, sambil duduk di kursi atau membawa ke dalam halaman taman.
Saya juga sering ke taman ini. Kebetulan lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal saya. Menikmati sore, sambil lari-lari kecil. Mengelilingi jogging trek, cukup mengeluarkan peluh. Saya juga sering jumpa dengan teman-teman, lalu ngobrol hingga senja tiba.
Saya yakin, banyak warga yang tidak tahu dilahan itu sebelumnya pernah berdiri sebuah pasar. Ada juga tahu, tapi mulai tak ingat detail apa saja yang ada ditempat ini, dulu-dulunya.
Ketika jembatan penyeberangan yang menghubungkan ke Sambaliung belum dibangun, di lahan itu sudah berdiri pasar. Saya sering mendengar warga menyebutnya pasar Inpres. Belakang, ada juga yang menyebut Pasar Gayam. Karena kawasan ini masuk dalam wilayah Kampung Gayam. Sekarang Kampung Bugis.
Sebuah bangunan yang sudah mulai tua. Bangunan yang dijadikan tempat berbelanja. Di kawasan lain, ada Puskesmas Pembantu. Lahan yang sekarang dibuatkan dermaga wisata, dikhususkan penjual ikan dan daging. Kelompok pasar basah.
Hampir tak ada ruang yang kosong. Di luar bangunan utama, pedagang makanan dan minuman, membuat petak sendiri. Dalam bangunan ditempati penjual ikan kering dan penjual kain.
Pemkab pernah melakukan perbaikan terhadap bangunan pasar. Jadi menarik, karena penjual ikan kering berada di lantai bawah, sedangkan penjual kain berada di lantai dua. Aroma ikan menjalar kemana-mana. Sayangnya, terjadi musibah kebakaran yang menghabiskan bagian dalam bangunan.
Ada beberapa pintu rumah toko (Ruko) yang lokasinya sekarang dibangun perpustakaan. Tak bisa dihindari suasana kumuh dan sumpek. Lorong antara petak penjual sangat sempit. Makanya teman-teman sering menyebut pasar ‘senggol’. Kalau ke pasar, siap-siap bersengol-senggolan.
Bila ingin melihat puncak terjadinya kepadatan luar biasa, suasana menjelang Lebaran dan selama Ramadan. Penjual ikan berbaur dengan penjual daging. Bila hujan, atap tak cukup menghalangi air hujan. Becekpun di mana-mana. Ditambah sampah yang bertumpuk-tumpuk.
Dari situasi itulah, kemudian dipikirkan untuk dicarikan lokasi yang baru. Bupati Masdjuni (almarhum), diam-diam mencari lahan di lokasi Pasar Sanggam Adji Dilayas sekarang. Datang bersama ketua Kadin dan ketua Gapensi.
Ia tahu, kawasan pasar tak bisa dipertahankan lagi. Harus segera dipindahkan. Sempat terpikir memindahkan ke kawasan Gunung Panjang. Karena masih dalam kota. Pak Masdjuni tetap memilih di jalan menuju Gunung Tabur.
Saat bangunan pasar (Adji Dilayas) selesai, jumlah petaknya sengaja dibuat lebih banyak daya tampungnya. Jumlahnya ribuan. Pasar basah dan pasar kering serta pasar subuh, ditambah penjual makanan di lantai dua.
Banyak pedagang yang enggan berjualan. Banyak warga yang protes merasa kejauhan. Lama-lama juga terbiasa. Sekarang, warga justru sering datang berbelanja di subuh hari. Menjadi kegiatan rekreasi.
Pasar Inpres atau Pasar Gayam. Andai saja Pak Masdjuni, tidak memutuskan untuk pindah lokasi, entah bagaimana jadinya. Saat Berau berpenduduk 60 ribu saja, sudah sesak. Apalagi sekarang yang sudah sekitar 200 ribu jiwa.
Andai di lokasi itu tetap berdiri pasar, warga pasti tidak bisa menikmati udara segar di Taman Sanggam. Pelajar dan warga tidak bisa dengan tenang membaca di perpustakaan. Tak akan ada dermaga wisata. Pemikiran Pak Masdjuni, perlu jadi inspirasi. (*/udi)
Editor : uki-Berau Post