NEW YORK – Amerika Serikat masih menjadi negara terparah terpapar virus corona atau Covid-19. Hingga Selasa (5/5), Amerika melaporkan 1.213.010 kasus positif. Sementara itu, angka kematian sudah mencapai 69.925 jiwa.
Jumlah itu tertinggi dari negara lain yang terpapar virus corona. Belum diketahui kapan wabah berakhir. Bahkan, sebuah kajian baru menghasilkan prediksi yang sangat mencengangkan. Jika wabah Covid-19 sampai Agustus, angka kematian di AS diprediksi bisa mencapai 135.000 jiwa.
Kajian tersebut dilakukan Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan (IHME) Universitas Washington pada Senin (4/5). Dalam kajian itu disebutkan angka prediksi kasus kematian secara rinci, yakni 134.475 yang diambil dari nilai tengah antara 95.092 dan 242.890, hampir dua kali lipat dari angka yang diramalkan sebelumnya hingga pertengahan April.
Kenaikannya diperkirakan lebih dari 62.000 kasus dibandingkan prediksi sebelumnya, dengan catatan sebanyak 8.700 kasus lebih terjadi di negara bagian New Jersey dan 7.800 kasus lebih di New York.
Prediksi baru tersebut sedikit banyak mencerminkan peningkatan mobilitas masyarakat, khususnya dengan pelonggaran aturan pembatasan sosial yang rencananya dilakukan di 31 negara bagian pada 11 Mei mendatang.
Menurut IHME, peningkatan mobilitas tersebut juga berarti peningkatan kontak antarmanusia yang memperbesar risiko penularan virus Korona. Jika hal ini tak diantisipasi, maka prediksi itu bisa mendekati kenyataan. Setidaknya angka penularan akan terus bertambah.
Logikanya, ketika penularan terus bertambah, sistem kesehatan akan semakin kerepotan. Tak pelak, pasien-pasien yang masuk kategori parah bakal berkurang perhatiannya dari tim medis. Ini juga bisa dipengaruhi faktor makin berkurangnya tenaga medis karena risiko terpapar virus Korona.
“Model kajian baru ini adalah dasar untuk perkiraan jumlah kematian di AS yang serius,” kata direktur IHME, Christopher Murray seperti dilansir Reuters. Tentunya dengan asumsi bahwa aturan pemerintah yang saat ini diterapkan masih terus diberlakukan hingga angka infeksi rendah.
“Saat ini, kami yakin bahwa efek suhu udara pada penularan sangatlah penting, namun minimal. Seiring dengan mulainya musim panas dan suhu yang naik, kami akan mempelajari lebih jauh dan akan merevisi prediksi kami jika hal itu relevan secara statistik,” pungkas Murray. (jpg/kri)
Editor : izak-Indra Zakaria