Pergeseran pilar Jembatan Mahkota II diduga telah menyebabkan perubahan gaya yang bekerja pada jembatan, sehingga tidak sesuai lagi dengan yang direncanakan.
SAMARINDA-Spekulasi penyebab bergesernya pilar Jembatan Mahkota II terus bergulir. Investigasi yang saat ini berjalan, diharapkan tak sekadar mencari tahu ihwal bergesernya tiang penguat jembatan, tetapi turut memastikan apakah masih terjadi pergeseran atau tidak.
Dari Balai Kota di Jalan Kusuma Bangsa, elite di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Samarinda mulai melempar asumsi terkait peristiwa itu. Budi Santoso selaku kepala Seksi Rehab Jalan Dinas PUPR Samarinda mengatakan, dari beberapa kali rapat yang pernah dilakukan, gambaran detail proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kalhol yang dikerjakan di dekat pilar Jembatan Mahkota II tidak pernah didapatkan pihaknya.
Sebagaimana diketahui, proyek IPA Kalhol dikerjakan PT Nindya Karya. Proyek ini di bawah kendali Balai Prasarana Permukiman Kaltim.
"Beberapa kali kami rapat, tapi enggak dapat gambaran detailnya. Kami selalu nolak (pembangunan IPA Kalhol). Karena statement kami dulu itu kan mau mengikuti (jembatan) Suramadu. Jadi punya kantor pengawas untuk memonitor sensor di situ, tapi sudah keduluan (proyek pembangunan IPA Kalhol), yah mau bagaimana lagi," katanya (28/4).
Budi melanjutkan, dalam rapat pembangunan IPA Kalhol jauh hari sebelumnya, dalam radius 50 meter area jembatan tak boleh ada kegiatan proyek. "Jembatan pasti butuh maintenance, karena kabel itu juga kan ada masanya, selama 50 tahun. Pasti butuh space besar," kata pria yang pernah menjabat pengawas Jembatan Mahkota II ini. Begitu pula soal timbunan tanah proyek yang menjorok ke Sungai Mahakam. Sejak awal proyek tersebut berjalan, pihaknya tak mengetahui ada rencana reklamasi sungai.
"Mereka (kontraktor proyek IPA Kalhol) cuma ngomong kalau apa aja yang mau dibangun. Tapi enggak ada ngomong kalau mau nimbun begitu. Kan sempat nolak (pembangunan IPA) juga, jadi saat itu akhirnya kami lempar saja ke KKJT (Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan)," terangnya. Budi mengungkapkan, kontraktor pelaksana juga tidak pernah meminta data bentang sungai.
"Mereka ada amdal terhadap kerjaan mereka, bukan terhadap jembatan. Mungkin kalau dikaji terhadap jembatan, maksudnya dampak pekerjaan mereka ke jembatan, mungkin mereka bakal tahu kalau ada palung di situ," katanya. Setelah insiden temuan bergesernya pilar jembatan sesaat setelah timbunan tanah proyek IPA Kalhol longsor pada Minggu (25/4) lalu, pihaknya secara real time melakukan pengukuran dan melaporkannya ke Kementerian PUPR dan KKJT.
Kepala Bidang Bina Marga PUPR Samarinda Deni Alfian menambahkan, pada pengukuran yang dilakukan Selasa (27/4) lalu, data yang dirilis sehari sebelumnya dikoreksi. Pergeseran pilar jembatan jauh lebih kecil dari sebelumnya. Dari pergeseran vertikal 33 milimeter, terkoreksi menjadi 30 milimeter. Sedangkan pergeseran horizontal sebanyak 7 milimeter menjadi 1 milimeter.
"Pengukuran pertama (Senin) kami sudah laporkan ke KKJT, tapi diminta ngukur lagi. Hari kedua (Selasa) kami amati pada pylon 7, 8 dan pier 6 ternyata ada koreksi. Itu bisa terjadi karena faktor cuaca memengaruhi alat ukur dan itu semua sudah kami laporkan. Arahan dari KKJT, kami kembali mengukur untuk mencari dengan patokan benchmark yang agak sedikit di luar (jembatan)," terangnya.
Adapun hasil pengukuran kemarin belum disampaikan pihaknya.
"Untuk (mengecek) kekuatan jembatan kan ada pergerakan dan ada koreksi. Kita menunggu koreksi dari KKJT. Hasil akan diolah sehingga keluar rekomendasi untuk jembatan bisa dibuka kembali atau tidak," jelasnya. Dia menyatakan, pengukuran dalam tiga hari terakhir memang fokus pada pilar jembatan, sehingga belum mengarah pengecekan kabel jembatan.
Deni menegaskan, bergesernya pilar jembatan dipengaruhi longsor yang terjadi empat hari lalu masih menunggu analisis KKJT. Sementara itu, Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Sipil Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Ruminsar Simbolon menjelaskan, Jembatan Mahkota II merupakan tipe jembatan cable stayed. Jadi, beban lalu lintas kendaraan dipikul oleh kabel-kabel dan disalurkan ke fondasi melalui tiang.
Oleh karena itu, selain fondasi, komponen kabel merupakan elemen sangat penting pada Jembatan Mahkota II, sehingga tidak boleh terganggu stabilitasnya. Terkait longsor yang dikaitkan menyebabkan pilar jembatan bergeser, Ruminsar mengatakan, letak pada struktur atas jembatan, selain akibat sifat kembang susut material, secara struktur pada umumnya terjadi apabila ada penambahan gaya pada pier, abutmen atau fondasi. Hal ini bisa diakibatkan tumbukan kapal atau benda-benda yang hanyut pada pier. Sehingga menimbulkan getaran yang merambat sampai struktur atas.
Pergeseran fondasi akan menimbulkan tambahan gaya-gaya dalam pada struktur jembatan. Dan dapat menimbulkan retak-retak, baik pada lantai maupun pada tiang dan balok-baloknya. Untuk kasus yang pertama, secara umum lebih mudah dievaluasi dan diperbaiki. Struktur jembatan jika setelah mengalami tumbukan, masih tetap stabil di posisi awal dan tidak mengalami pergeseran serta pengurangan mutu material atau kerusakan yang parah. Maka perbaikan pada struktur atas dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Tetapi untuk kasus yang kedua, apabila terjadi pergeseran pada fondasi, dampak yang ditimbulkan lebih rumit. Apalagi pada jembatan cable stayed. Jadi, jembatan harus dievaluasi secara menyeluruh. Pergeseran fondasi ini akan menyebabkan perubahan perilaku gaya-gaya yang bekerja pada jembatan, menjadi tidak sesuai lagi dengan yang direncanakan. Gaya-gaya yang terjadi pada kabel, balok diafragma, tiang, serta daya dukung fondasi kemungkinan berubah secara signifikan.
Kabel-kabel kemungkinan akan ada yang longgar dan ada yang terlalu kencang, sehingga satu kabel bisa menjadi memikul beban lebih dari beban rencananya. Kondisi ini menjadi sangat berbahaya. "Memerhatikan yang terjadi pada Jembatan Mahkota II, menurut saya cukup aneh juga apabila dampak longsor pada sungai sampai menyebabkan terjadi retak-retak pada struktur atas. Dan pergeseran serta penurunan pada pylon,” katanya. Sepengetahuan dia, fondasi Jembatan Mahkota II merupakan fondasi dalam yang dimasukkan cukup jauh ke dalam tanah sampai ketemu tanah keras. Termasuk sudah memperhitungkan dampak gerusan yang mungkin terjadi, umur, dan beban arus.
“Berdasarkan hal tersebut, longsoran yang terjadi seharusnya tidak akan memengaruhi fondasi, apalagi sampai menyebabkan fondasi tersebut bergeser," jelas Ruminsar. Jadi, ada beberapa hal yang menurut Ruminsar perlu dilakukan sebelum memutuskan metode perbaikan jembatan. Untuk sementara, jembatan harus ditutup total, termasuk area sungai lokasi abutmen, sampai diketahui penyebab yang pasti timbulnya kerusakan pada struktur atas jembatan. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi material dan gaya-gaya yang bekerja pada struktur jembatan dengan melakukan pemeriksaan kondisi bawah sungai dengan melakukan survei batimetri untuk melihat kontur dan elevasi bawah sungai setelah terjadi longsoran.
Lalu, menghitung ulang struktur Jembatan Mahkota Dua berdasarkan kondisi eksisting dan data-data yang diperoleh di lapangan, termasuk gaya-gaya yang bekerja pada kabel dan daya dukung fondasinya. Kemudian melakukan penyesuaian terhadap masing-masing kabel dengan melakukan pengencangan serta melonggarkan, serta menambah penguatan sementara berdasarkan analisis struktur ulang. "Juga dilakukan pengamanan daerah abutmen jembatan dari longsoran dengan memasang turap (sheet pile) di area sungai sekitar abutmen," pungkasnya. (*/dad/nyc/riz/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria