Bambang Iswanto
Dosen UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda
MESKI sama-sama menampilkan pemain-pemain terbaik di planet bumi, kilau Copa America 2021 terhijab oleh Euro 2020. Eropa dengan marketing sepak bola yang spektakuler mampu membuat pencinta sepak bola daratan Amerika Latin di Indonesia “berselingkuh” melirik Euro 2020.
Lionel Messi di Argentina dan Neymar di Brasil, Gianluca Lapadula dari Peru, David Ospina dari Kolombia, dll menjadi garansi bahwa Copa America diisi oleh pemain-pemain kelas wahid dunia. Namun ternyata lebih banyak mata yang tertuju kepada aksi Ronaldo, Mbappe, Kevin de Bruyne, Harry Kane, dan bintang Eropa lainnya.
Silaunya sepak bola Euro 2020 bisa dibuktikan dengan pengorbanan penontonnya yang rela nonton tengah malam sampai dini hari, pada waktu-waktu istirahat warga Indonesia. Kadang kalau harus bersinggungan dengan waktu salat malam bahkan waktu salat Subuh, jadwal salatnya bisa sedikit digeser dan dipercepat.
Bandingkan dengan penonton Copa America yang biasa ditampilkan pagi hari waktu bugar mata untuk menonton, ternyata sepi penonton.
Tidak ada yang salah dan kalah dengan Copa America. Eropa mampu menghadirkan dan “mendakwahkan” Euro 2020 lebih baik. Sehingga mengesankan Euro lebih hebat dibanding Copa America. Mata orang awam sepak bola, tersirap. Melihat perhelatan sepak bola akbar di Benua Amerika dan Eropa seperti antara sepak bola orang berada dan kaum papa.
Kualitas yang sama, ketika dipromosikan dengan cara yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda. Itu terjadi bukan hanya di sepak bola, dalam dakwah agama pun sama. Pesan-pesan moral yang sama baik akan menghasilkan daya dorong moral yang tidak sama karena perbedaan cara berdakwah.
Sekarang ini adalah era di mana siapa yang bisa mempromosikan sesuatu dengan baik, maka akan bisa menyampaikan isi pesan yang diinginkan. Jangankan ajaran yang baik, ajaran yang tidak baik pun jika dipromosikan dengan baik dan terus-menerus, sering menjadi terkesan baik. Istilah kerennya era Post Truth.
Sejatinya, ajaran-ajaran luhur agama dan kemanusiaan tidak boleh kalah gencar dengan ajaran-ajaran merusak yang dikemas dan dipromosikan dengan baik.
IKHTIAR DAN TIDAK SOMBONG
Kembali ke sepak bola, selain menang pamor, Euro 2020 lebih banyak menghadirkan kejutan-kejutan dibandingkan Copa America.
Siapa sangka Prancis yang sangat diunggulkan tersungkur ketika berhadapan dengan non-unggulan Swiss. Inggris juga banyak menjungkirbalikan prediksi kebanyakan orang yang mengunggulkan Jerman.
Hitung-hitungan di atas kertas, dari aspek sejarah dan kualitas pemain Prancis jauh melampaui Swiss. Secara historis Prancis pernah merengkuh dua piala paling bergengsi sejagad yaitu Piala Dunia dan Piala Eropa yang mengukuhkannya sebagai negara sukses di sepak bola.
Berbanding terbalik dengan Swiss yang lebih terkenal dengan industri jam atau bank-bank dibanding sepak bolanya. Siapa yang tidak kenal legenda Prancis sejak dulu seperti Michael Platini, Zinedine Zidane, Patrick Vieira, dan lainnya. Bagaimana dengan pemain Swiss? Mungkin segelintir saja yang paham dengan Stephany Capusat yang pernah bermain di Bundesliga bersama klub Borussia Dortmund. Selebihnya tidak banyak yang paham atau bahkan susah menyebut ejaan namanya karena jarang disebut.
Demikian pula ketika membandingkan Jerman dengan Inggris. Jerman punya sejarah emas sepak bola di atas Inggris. Raihan lima kali Piala Dunia menjadi pentabsihan Jerman sebagai raja sepak bola Eropa. Inggris masih tertinggal jauh dalam raihan ini. Di Piala Eropa pun demikian, Tim Panser Jerman jawaranya bersama Spanyol meraihnya sebanyak tiga kali. Sedangkan Three Lions–julukan Timnas Inggris–tidak pernah sekalipun mengangkat trofi Piala Eropa.
Fakta dan keagungan sejarah itu tidak mampu membuat Prancis berjaya atas Swiss atau Jerman atas Inggris. Prancis dibuat berkemas duluan di babak 16 besar dan Jerman angkat koper di babak yang sama.
Di sinilah indahnya sepak bola dengan ungkapan bola itu bulat. Tidak ada yang tahu hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola sampai peluit akhir wasit ditiup. Tim yang bermaterikan taburan bintang, belum tentu menang dengan tim miskin bahkan nihil pemain bintang. Tim yang menguasai permainan sepanjang waktu pertandingan juga tidak menjamin kemenangan. Ada faktor atau hal lain yang bisa mengubah hasil.
Jika diterjemahkan dalam bahasa agama, hasil akhir itu adalah takdir. Sebelum takdir datang, ikhtiar harus tetap dijalankan. Tidak langsung memasrahkan diri dengan melihat hal-hal yang tampak lahir, ketentuan akhir ada di tangan Allah, Sang Maha Pembuat Skenario, pembuat takdir.
Memandang hidup di dunia itu harusnya seperti melihat filosofi bola itu bulat. Bagi yang merasa kecil, jangan merasa rendah diri dan minder. Tetaplah berupaya maksimal sebelum hasil akhir diketahui. Bagi yang merasa di atas angin atau diberi kelebihan, jangan merasa jemawa dan pasti akan berhasil.
Selanjutnya menarik untuk mengetahui siapa yang menjadi jawara di Euro 2020 dan Copa America 2021, Italia atau Inggris, Brasil, atau Argentina? Jawabannya adalah bola itu bulat. Wallahu a’lam. (rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria