Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Atraksi Masih Jadi PR Utama

izak-Indra Zakaria • Rabu, 9 Februari 2022 - 19:57 WIB
Aie Natasha
Aie Natasha

Tak hanya fokus mengaktualisasi diri pada hal-hal yang dicintai, Aie Natasha tak kenal lelah mengajak kawula muda lebih peduli terhadap lingkungan dan pariwisata.

 

ULIL MUAWANAH, Balikpapan

 

PARIWISATA Kalimantan terutama Kaltim lebih dikenal dengan eco tourism. Menggabungkan lingkungan serta wisata. Menawarkan sesuatu tak terlupakan. Petualangan. Edukasi. Juga mempelajari nilai-nilai sosial budaya masyarakat di sekitarnya.

Unik memang. Eco tourism lebih menarik bagi wisatawan asing. Tetapi, kondisi sekarang tak banyak kunjungan dari luar negeri. “Tidak semua orang menyukai eco tourism, karena ini memang minat khusus. Sebab butuh effort, bukan seperti wisata buatan lainnya yang lebih murah dan mudah dijangkau,” ujar Aie Natasha, pemenang Duta Wisata Balikpapan 2021 kala berjumpa Kaltim Post, Minggu (6/2).

Potensi eco tourism di Benua Etam amat besar. Di berbagai daerah mudah ditemukan hutan, sungai, perbukitan, gua hingga Karst Sangkulirang. Hanya saja Aie menyayangkan, sampai sekarang pariwisata masih bukan jadi prioritas pemerintah.

Disadari pula, masih banyak pekerjaan rumah harus dilakukan guna mendorong pariwisata menjadi lebih baik. Terutama dalam menghadapi perpindahan ibu kota negara (IKN) baru di Kaltim. Banyak aspek harus dibenahi. Sebab, agar menjadi destinasi yang berkembang sangat dibutuhkan 3A; yaitu amenitas, aksesibilitas, dan atraksi.

Sejauh ini, amenitas berkaitan dengan toilet maupun petunjuk arah serta aksesibilitas sudah lumayan oke. Hanya saja harus ditingkatkan lagi. Sedangkan atraksi masih begitu kurang diperhatikan.

“Sebuah lokasi wisata membutuhkan atraksi supaya pengunjung datang dan tidak jenuh. Bikinlah atraksi yang cocok dengan tempat lokasi wisata, seperti yang dilakukan di Desa Budaya Pampang Samarinda,” tutur anak semata wayang dari Hanabara tersebut.

Melalui atraksi budaya, masyarakat atau wisatawan mancanegara dapat memperoleh informasi mengenai suku-suku asli di Tanah Borneo. Exposure menurutnya sangat penting, agar budaya turun-temurun dan tradisi lokal tidak hilang ditelan zaman.

Peranan dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, guna menjaga keberadaan suku asli agar tidak punah. Keragaman suku maupun masyarakat yang hidup di Kaltim secara berdampingan hingga hidup rukun sampai sekarang merupakan kekayaan yang tak tergantikan.

“Tidak hanya Dayak ataupun Pasir, banyak pula suku dari luar datang dan telah menjadi bagian dari suku besar kita. Kita harus bisa menjaga harmonisasi itu. Jangan biarkan satu suku pun punah. Berikan wadah dan dilibatkan di berbagai kesempatan. Biar semakin banyak orang yang mengetahui dan mampu menghormati budaya kita,” kata perempuan yang memiliki darah keturunan Dayak, Toraja, Melayu, dan Tiongkok tersebut.

Setiap keputusan pasti ada pro dan kontra, apalagi berkaitan dengan IKN. Aie meyakini, bahwa perpindahan itu lebih banyak memberikan manfaat. IKN diharapkan membuat konektivitas antarkota bisa lebih dipermudah dan terjangkau. Bukan hanya melalui jalan tol, ke depan dia berharap pemerintah bisa menambah opsi transportasi darat seperti mass rapid transit (MRT). Serta opsi-opsi lain, sehingga semakin banyak pilihan bagi masyarakat dalam menggunakan transportasi umum.

“Sumber daya manusia semakin berkembang, peluang berkarier, kesempatan mendapatkan edukasi lebih baik sehingga kita tidak perlu lagi ke luar pulau, hingga infrastruktur. Yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujar dara yang menguasai empat bahasa, yakni bahasa Indonesia, Melayu, Inggris dan mandarin tersebut.

Meski begitu, pemerintah juga harus bisa menjamin keselamatan lingkungan hijau. Karena persoalan lingkungan merupakan sesuatu yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Begitu pun menurut Aie, pembangunan kota tanpa planning yang mapan akan mengulangi kesalahan yang sama. Seperti yang sudah-sudah terjadi sebelumnya di Jakarta.

Mengenai kasus Edy Mulyadi, itu menjadi pembelajaran penting. Tidak hanya anak muda namun seluruh golongan, kalangan dan usia harus bisa memaknai toleransi. Tidak hanya tentang Kaltim saja, tapi seluruh daerah. “Orang mungkin bisa memaafkan, tapi orang akan tetap ingat dan jejak digital sulit dihilangkan. Apalagi, bagi seorang pimpinan pasti sangat diperhatikan masyarakatnya,” ucapnya.

Semakin kemari, penguasaan bahasa asing bukan lagi hal istimewa. Tetapi juga menuntut praktik langsung, bukan sekadar membaca teks buku. Tidak malu menerapkan agar bisa terbiasa. Sebab bahasa asing, terutama bahasa Inggris merupakan bahasa global. Menjadi kunci komunikasi, interaksi serta memajukan pariwisata.

“Bahasa asing bukan berarti sok-sokan. Itu menandakan mereka mau berkembang. Tetapi, di lingkungan kita terkadang ada saja masyarakat mencemooh dan mengatakan tidak menghargai bahasa lokal. Padahal tidak demikian. Menjadi dewasa berarti mampu mengubah mindset dan mau terus belajar,” kata Aie.

“Dan itulah kenapa berwisata itu perlu, tidak hanya refreshing tapi juga bisa belajar banyak hal, budaya hingga bahasanya,” timpalnya.

Terus mengabdi serta berkarya. Sekalipun tidak lagi menjabat sebagai Duta Wisata Balikpapan, Putri Pariwisata dan Miss Eco Tourism Kaltim pada September 2022 mendatang, Aie tetap ingin mengaktualisasi diri pada hal-hal yang dicintainya. Mengajak kawula muda lebih peduli terhadap lingkungan dan pariwisata.

Terakhir ia sempat mengikuti seleksi ajang Putri Indonesia 2022 pada Januari lalu, saat itu dia ditelepon langsung dari pusat dan masuk top three perwakilan Kaltim. Meski belum berhasil mewakili ke tingkat nasional, dirinya berharap impiannya melihat perwakilan Kaltim bisa memenangkan gelar tersebut.

“Saya akan terus berkarya, mendukung adik-adik berikutnya dan perwakilan Kaltim agar bisa semakin mengharumkan nama Kaltim di tingkat nasional maupun dunia,” pungkasnya sebelum mengakhiri pembicaraan. (ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Sosok