TANJUNG REDEB – Kapolres Berau Berau, AKBP Anggoro Wicaksono, akui terima sejumlah laporan masyarakat yang kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.
“Banyak laporan bahwa ada market atau penjualan sembako terutama minyak goreng dengan harga tinggi, bahkan harganya tidak masuk akal,” katanya saat diwawancari, kemarin (29/3).
Adanya hal tersebut membuat dirinya cukup gram, yang mana Anggoro langsung memerintahkan para anggota dari tim siber Polres Berau memantau adanya penjualan sembako di media sosial.
Namun sampai saat ini pihaknya masih belum menemukan pelanggaran penjualan sembako dengan harga tinggi.
“Sejak awal kelangkaan minyak goreng kita terus pantau harga di medsos tersebut, dan kami tidak menemukan adanya penjualan yang tinggi,” sambungnya.
Disebutnya, tidak ada bukti yang kuat adanya transaksi tersebut. “Jika para penjual mengambil untung dengan harga Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu itu menurut saya wajar saja,” terangnya.
Dalam menekan harga pun pihaknya mengaku cukup kesulitan dengan pencabutan harga eceran tertinggi (HET) oleh pemerintah pusat, saat ini pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memproses jika ada penjual minyak goreng dengan harga di atas Rp 14 ribu.
“Saat ini yang menjadi kendala kita adalah aturan, karena kita tidak ada lagi aturan HET untuk penjualan minyak goreng. Tetapi saat kita pantau rata-rata saat ini pedagang menjual dengan harga Rp 35 ribu per liter,” jelasnya.
Untuk mengatasi harga yang tinggi ini, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau untuk mencari solusi seperti apa agar harga minyak goreng tersebut stabil.
“Nanti akan kita koordinasikan dengan instansi terkait untuk masalah ini, dan kami juga akan melaporkan hasil sidak kita di lapangan,” tandasnya. (aky/sam)
Editor : uki-Berau Post