Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Cinta yang Menantang Rivalitas India-Pakistan

izak-Indra Zakaria • Rabu, 19 Juli 2023 - 17:23 WIB
Seema Haider di Pakistan dan Sachin Meena
Seema Haider di Pakistan dan Sachin Meena

”Itulah yang klise tentang cinta. Bukan kamu yang memilihnya, dialah yang memilihmu.”

Durjoy Datta dalam novelnya, The World’s Best Boyfriend

 

NEW DELHI – Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan yang sama-sama memiliki nuklir terlibat dalam tiga perang. Rivalitas dua negara bertetangga yang baranya menyala entah sampai kapan.

Di tengah sengitnya permusuhan dua negara bertetangga itu, juga pandemi Covid-19 yang membatasi pergerakan semua orang, Seema Haider di Pakistan dan Sachin Meena di India berhubungan lewat perantaraan game online PUBG. Mereka berkenalan, bertemu, dan akhirnya menikah dalam balutan kisah cinta yang mendobrak batasan dan permusuhan serta menjadi sorotan luas.

Agence France-Presse melansir, awalnya Seema hanya menyukai teknik bermain Sachin. Mereka berdua kerap berbincang di ruang obrolan game tersebut. Dari sana cinta tumbuh di hati Seema, ibu empat anak yang suaminya, Ghulam Haider, bekerja di Arab Saudi.

Gayung bersambut. Sachin yang lima tahun lebih muda menerima cinta Seema meski sudah tahu status perempuan 27 tahun tersebut. Pria yang bekerja sebagai asisten penjaga toko di India itu pun ingin membawa Seema ke negaranya.

”Persahabatan kami berubah menjadi cinta dan obrolan kami menjadi lebih lama, setiap pagi dan malam, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk bertemu,” ujar Seema.

Bukan perkara mudah bagi warga negara India dan Pakistan bertemu. Tidak ada penerbangan langsung, baik dari India ke Pakistan maupun sebaliknya. Hubungan diplomatik, budaya, bisnis, dan olahraga bilateral sangat terbatas. Masing-masing bahkan saling mengusir komisioner tinggi pada 2019.

Tapi, cinta, kata novelis India Vikram Seth dalam Equal Music, membuat yang mudah menjadi sulit dan yang sulit menjadi mudah. Sachin dan Seema berselancar di YouTube untuk mencari cara bertemu. Didapatlah tempatnya: Nepal.

Dari pertemuan pada Maret lalu itu, Seema kian yakin untuk merajut cintanya dengan Sachin dan meninggalkan suaminya yang dia klaim kasar. Setelah perencanaan selama beberapa bulan, Seema dan empat anaknya akhirnya pergi kembali ke Nepal Mei lalu dan berhasil masuk secara ilegal ke India.

Awalnya semua baik-baik saja. Namun, polisi India menangkap pasangan tersebut setelah mereka mencoba menikah di pengadilan dekat tempat tinggal Sachin. Tapi, mereka dibebaskan dengan tebusan pekan lalu. Kepolisian mengungkapkan bahwa pihaknya tidak bisa menahan Seema dalam jangka panjang.

Pasangan itu mengaku bahwa mereka kini telah menikah. Mereka berdua menyewa rumah di dekat rumah keluarga Sachin di Desa Rabupura, sekitar 55 kilometer dari New Delhi. Dia juga memutuskan untuk keluar dari Islam.

”Saya memeluk agama Hindu,” ujar Seema yang menyebut Sachin adalah cinta dalam hidupnya. ”Saya lebih baik mati daripada kembali (ke Pakistan) atau meninggalkan Sachin,” tambahnya.

Keluarga Sachin awalnya menolak, tapi kini mereka sudah menerima Seema. Seema juga yakin anak-anaknya akan mendapatkan cukup cinta dari Sachin. Dia juga berharap pemerintah India bisa memberinya kewarganegaraan.

”Ada beberapa penolakan, tapi ayah saya dan semua orang menerima kami. Saya akan melakukan segalanya untuk mereka (Seema dan anak-anaknya, Red),” kata Sachin.

Di India, pasangan itu mendapat sambutan hangat. Mereka menjadi pesohor dadakan. Warga dari desa terdekat bahkan sampai berdatangan, sebagian meminta swafoto bersama.

Sebaliknya, kembali ke Pakistan bagi Seema sama saja dengan bunuh diri. Sebab, di negara tersebut kemurtadan bisa diganjar hukuman mati. Biasanya justru keluarga mereka sendiri yang membunuh dengan alasan kehormatan.

Ghulam yang masih suami sah Seema meminta agar sang istri dan anak-anaknya pulang. Pria yang tidak tahu apa itu PUBG tersebut mengaku tak tahu mengapa Seema bisa melarikan diri. Ghulam menampik bahwa dirinya berlaku kasar kepada istrinya.

Menurut dia, mereka berdua menikah atas dasar cinta. Pasangan itu dari suku Baloch yang berbeda dan sempat dilarang menikah oleh keluarga mereka. Tapi, Seema dan Ghulam memilih melarikan diri untuk menikah.

Di Pakistan, hal seperti itu juga dianggap tabu dan memalukan serta bisa berakibat pada pembunuhan atas nama kehormatan. Jirga alias dewan sesepuh dipanggil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ghulam akhirnya dikenai denda sekitar PKR 1 juta atau setara dengan Rp 54,3 juta. Demi membuat keluarganya hidup lebih layak, Ghulam meninggalkan pekerjaannya sebagai buruh dan pengemudi becak untuk bekerja di Arab Saudi. Kehilangan istri dan anak-anaknya saat dia mengais rezeki di negeri orang membuat hatinya terasa sakit.

”Saya dengan sungguh-sungguh memohon kepada otoritas India dan Pakistan untuk mengembalikan istri dan anak-anak saya kepada saya,” ujar Ghulam kepada Agence France-Presse via telepon dari Arab Saudi. (sha/c19/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria