TANJUNG REDEB – Untuk meningkatkan target populasi hewan sapi di Bumi Batiwakkal- sebutan Kabupaten Berau. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau menggunakan sistem kawin suntik dengan dukungan teknologi inseminasi buatan (IB).
Dijelaskan Kepala Bidang Peternakan Distanak Berau, Eko Wahyudi, beberapa kecamatan di Kabupaten Berau yang memiliki peternakan sapi sudah menerapkan teknologi kawin suntik. “IB ini tidak hanya kita sasar ke kelompok peternak, tetapi juga kami menyasar peternak perorangan,” ujarnya kepada awak media kemarin.
Sesuai target Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dalam ketahanan dan swasembada daging sapi di Berau. Pihaknya akan melakukan beberapa upaya agar jumlah populasi dan produksi bisa meningkat, tentunya dengan mempertahankan jumlah populasi yang ada saat ini.
“Semua harus intensif di-handle. Tidak lagi sekedar sampingan, misalnya tidak fokus diurus seperti dilepasliarkan,” paparnya.
Kini, penerapan IB ini sudah dilakukan di beberapa kecamatan yang populasi sapinya banyak seperti di Kecamatan Segah, Teluk Bayur, Gunung Tabur, Sambaliung, Talisayan Batu Putih dan Biatan.
“Berau memang sempat dilanda masalah besar untuk populasi sapi yakni saat Covid-19 dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) belakangan ini,” ungkapnya.
Saat pandemi Covid-19, ia menyebut banyak masyarakat yang ekonominya terdampak akibat tidak ada kegiatan atau terhenti. Tidak sedikit juga para peternak sapi yang terdampak. Sehingga menjual sapi untuk kebutuhan mendesak.
Begitu juga dampak PMK yang mempengaruhi populasi sapi, di mana pengiriman sapi ke daerah sempat ditutup untuk menghindari penyebarannya termasuk di Berau. “Sehingga sapi lokal yang dijual, itu salah satu hal yang mengakibatkan populasi sapi di Berau mengalami penurunan,” tuturnya
Ia mengatakan, sejalan dengan program Dinas Peternakan Provinsi dan pusat, Berau juga terus berupaya menjaga stabilitas populasi yang ada.
Saat ini jumlah sapi yang ada di Berau pada Mei lalu sebanyak 12.652 ekor. Namun jumlah ini lebih rendah jika dibandingkan sebelum pandemi, yaitu tahun 2019.
“Jika tahun 2019 populasi sapi kita mencapai angka 15 ribu lebih, dan menurun saat covid. Tetapi kami optimis bisa mengembalikan jumlah sebelumnya dan meningkatkannya lagi,” harapnya.
Berkaca sebelum pandemi, Distanak Berau mampu mencapai target reproduksi sapi hingga 100 persen. “Berkat teknologi IB dan pendampingan yang dilakukan oleh tenaga teknis lapangan. Jumlah populasi sapi bisa ditingkatkan dengan signifikan,” imbuhnya.
Apalagi dengan teknologi peternakan IB tersebut mampu mengefisiensikan anggaran daerah. Dari aspek anggaran penerapan IB untuk reproduksi sapi baru terbilang sangat murah.
Eko mencontohkan untuk biaya satu ekor sapi baru dari perencanaan hingga jadi hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu. “Sangat jauh berbeda jika harus mendatangkan atau membeli sapi indukan yang bisa mencapai Rp 10 juta,” tandasnya. (aky/arp)
Editor : uki-Berau Post