Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Penyebab Pasien Meninggal di IGD, Obesitas Bayi Sulitkan Pemasangan Infus, Dituding Tidak Profesional

Redaksi Sapos • Kamis, 4 Juli 2024 - 17:01 WIB
Situasi RSUD AW Sjahranie di Jalan Palang Merah, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu. (kis)
Situasi RSUD AW Sjahranie di Jalan Palang Merah, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu. (kis)

 

Seorang bayi perempuan berusia 6 bulan, warga Bontang, meninggal dunia di RSUD AW Sjahranie, beberapa hari lalu. Meninggalnya balita malang ini diduga akibat penanganan rumah sakit plat merah itu yang dianggap lamban dan tidak profesional.

Jumat (28/6) pukul 18.10 Wita, bayi tersebut diantar kedua orangtua dan keluarga lainnya ke rumah sakit. Bayi itu dirujuk ke rumah sakit dengan keluhan diare dan dehidrasi berat. Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) bayi tersebut langsung ditangani dan dipasang oksigen.

Namun upaya pemasangan selang infus tidak berhasil. Keluarga pasien diminta menunggu kedatangan dokter anestesi yang sedang bertugas di lantai III rumah sakit untuk melakukan operasi. Namun, dokter anestesi tersebut tak kunjung datang.

Upaya penanganan oleh dokter umum dilakukan, termasuk pemeriksaan dan pompa jantung. Sayangnya, setelah upaya tersebut, bayi justru dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 21.20 Wita. Hal inilah yang mengejutkan keluarga yang berada di rumah sakit.  

Atas kejadian ini, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Jaya Mualimin, memanggil manajemen RSUD AW Sjahranie hingga puskesmas untuk memberikan penjelasan terkait insiden tersebut. Langkah ini diambil guna memastikan transparansi dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang. Puskesmas yang dimaksud adalah tempat rujukan pertama saat bayi tersebut diperiksa sebelum dibawa ke rumah sakit.

"Kami mencoba dari hal kritis. Apalagi ada pasien meninggal. Tentu ini menjadi perhatian dan koordinasi bersama. Apalagi kasus ini jadi ramai," ungkap Mualimin. Dirut RSUD AW Sjahranie dr. David Hariadi Mashjoer menyebut, bayi itu datang dengan keluhan diare dan muntah, yang menyebabkan dehidrasi. David menerangkan adanya perbedaan diagnosis antara dokter umum yang pertama kali menangani dan dokter spesialis anak yang datang kemudian.

"Pasien datang dengan kondisi dehidrasi sedang, namun dokter spesialis anak yang datang setelahnya mengatakan bahwa bayi mengalami dehidrasi berat. Ini bisa terjadi karena bayi muntah dan diare terus-menerus," ujar David.

Dia juga menjelaskan, kondisi bayi yang obesitas membuat pemasangan infus menjadi sulit. Berat badan bayi tersebut mencapai 9 kilogram, sementara berat ideal untuk usianya adalah sekitar 7,5 kilogram. Kondisi ini menambah kesulitan dalam menangani bayi tersebut, terutama karena dehidrasi menyebabkan pembuluh darah bayi kolaps, sehingga sulit menemukan akses untuk pemasangan infus. Meskipun upaya pemasangan infus dan oksigen terus dilakukan, akses ke pembuluh darah tetap tidak berhasil hingga akhirnya bayi tersebut meninggal dunia.

"Berat badan bayi yang melebihi ideal membuat pembuluh darah sulit ditemukan, apalagi dalam kondisi dehidrasi. Meskipun sudah dicoba beberapa kali, pemasangan infus tetap gagal," jelas dr. David. "Kami juga telah mencoba berbagai cara, termasuk konsultasi dengan dokter anestesi yang sayangnya sedang terlibat operasi di lantai tiga dan tidak bisa segera turun membantu,” imbuhnya.

Kondisi ini membuat pihak rumah sakit melakukan audit internal untuk mengevaluasi kejadian tersebut dan memastikan agar hal serupa tidak terjadi lagi di masa depan. David menekankan, segala upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan bayi tersebut, namun kondisi medis dan berbagai keterbatasan teknis menjadi kendala. "Kami berkomitmen untuk melakukan audit menyeluruh terkait kasus ini dan memastikan tindakan perbaikan segera dilakukan. Kami juga ingin memastikan bahwa pelayanan kesehatan di RSUD AW Sjahranie dapat terus ditingkatkan," tambah David.

Keluarga pasien yang merasa kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit berharap agar kasus ini bisa menjadi perhatian bagi pihak terkait untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Mereka berharap tidak ada lagi keluarga yang mengalami kejadian serupa dan berharap agar penanganan di IGD dapat lebih cepat dan efektif di masa mendatang. (kis/nha)

 

 
 
Editor : Indra Zakaria