Ia menjelaskan bahwa angka tersebut meningkat 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun 2023.
Dari total gempa yang tercatat, puluhan di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Wilayah Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, menjadi salah satu area yang paling sering terdampak, dengan getaran gempa kecil yang dirasakan oleh penduduk setempat. "Di Mahakam Ulu, dalam sebulan bisa terjadi hingga tiga kali gempa, sementara di Tarakan, Kalimantan Utara, jumlahnya mencapai empat kali dalam sebulan," jelas Rasmid.
Aktivitas kegempaan di Kalimantan Selatan juga mengalami peningkatan, sebagian besar disebabkan oleh dampak gempa dari Kepulauan Bawean.“Meskipun gempa tersebut berjarak jauh, getarannya bisa dirasakan karena struktur bebatuan di Kalimantan Selatan,” tambahnya.
Rasmid mengindikasikan bahwa lonjakan aktivitas gempa ini mungkin merupakan bagian dari siklus 10 tahunan, di mana energi yang terakumulasi di sepanjang patahan mulai dilepaskan. “Gempa bumi biasanya terjadi ketika sesar bergerak, memberikan tekanan pada batuan yang memiliki elastisitas berbeda. Ketika energi terkumpul, batuan tersebut melepaskan energi dalam bentuk gempa bumi,” jelasnya.
Beberapa sesar aktif yang teridentifikasi di Kalimantan termasuk sesar Meratus yang membentang sejauh 100 hingga 110 kilometer dari utara hingga selatan, serta sesar Sangkulirang dan sesar Mangkalihat yang memiliki panjang hingga 100 kilometer.
Sesar Tarakan dan sesar Purba, yang hampir membelah Pulau Kalimantan, juga menjadi perhatian dalam aktivitas kegempaan.
Meski sesar Purba tidak menunjukkan aktivitas gempa besar, kawasan ini kerap mengalami gempa kecil yang dirasakan oleh penduduk setempat. “Kawasan ini memiliki sejarah kegempaan, meski tidak sekuat daerah lain,” tutup Rasmid.
Peningkatan aktivitas gempa ini mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat upaya mitigasi bencana, terutama di wilayah yang sering terdampak.(ant/han)