Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sedihnya Warga Graha Indah Balikpapan, Makan Janji yang Tak Kunjung Tiba, Kalau Hujan Banjir

Ajid Kurniawan • Senin, 14 Oktober 2024 - 16:53 WIB
Limpasan air dari area pembangunan pergudangan menerobos kanal air di perumahan Graha Indah RT 13, Balikpapan Utara. ((dokumentasi warga RT 13)
Limpasan air dari area pembangunan pergudangan menerobos kanal air di perumahan Graha Indah RT 13, Balikpapan Utara. ((dokumentasi warga RT 13)

 

Di sudut kota Balikpapan, pembangunan terus berjalan. Sebuah perusahaan membangun pusat pergudangan megah di kawasan mangrove Graha Indah. Namun, di balik bangunan pergudangan, ada jeritan warga yang terabaikan. Warga RT 11, 12, dan 13 di perumahan Graha Indah kini menghadapi ancaman banjir setiap kali hujan turun. Blok N1 dan M1 di RT 13 adalah yang paling terdampak.

 

SETIAP hujan mengguyur, air dari kawasan pergudangan mengalir deras ke kanal perumahan. Akibatnya, air meluap, menerobos ke rumah-rumah warga. Banjir datang membawa lumpur dan sedimentasi, mendangkalkan kanal. "Air langsung menuju tanggul, lalu menembus lingkungan kami," kata Teddy, warga Blok N1 RT 13.

 

Warga kini selalu waspada saat hujan turun. Mereka tak lagi melihat hujan sebagai berkah. Setiap tetes air membawa kecemasan. “Kalau hujan lebat, kami benar-benar cemas," ujar Teddy.

Tak hanya banjir yang menjadi masalah. Rumah-rumah warga mulai menunjukkan kerusakan. Getaran dari pembangunan menyebabkan dinding rumah retak. Bahkan, air meresap hingga ke lantai, keluar dari celah-celah keramik. "Kami sudah melapor ke perusahaan. Surat sudah dikirim pada 19 September 2024, tapi tak ada tanggapan," ujar Teddy.

Warga merasa kecewa. Mereka menilai perusahaan tidak memiliki itikad baik. Janji untuk meninjau rumah-rumah yang rusak hanya janji belaka. Hingga kini, janji tersebut belum ditepati. Legal officer perusahaan hanya mengatakan bahwa hal ini masih dibahas oleh direksi.

Mugiono, warga Blok N1 RT 13, juga merasa tak didengar. Ia bersama warga lainnya telah berusaha menemui perusahaan. Namun, hasilnya tetap nihil. "Mereka bilang akan dibahas, tapi sampai sekarang belum ada tindakan," ucapnya.

Tuntutan Warga 

Photo
Photo
Kawasan Graha Indah dalam tangkapan layar Google Earth. Pembangunan kawasan industri membuat luasan hutan mangrove terus menyusut.

 

Warga tak tinggal diam. Pada 15 Agustus 2024, Ketua RT 13, Firman, mengirimkan surat resmi ke perusahaan. Dalam surat tersebut, warga menyampaikan enam tuntutan. Pertama, meminta agar pembangunan dihentikan sementara. Kedua, perusahaan harus membuat saluran air sendiri. Ketiga, warga meminta solusi untuk peresapan air yang masuk ke rumah. Keempat, mereka ingin solusi atas getaran yang merusak rumah. Kelima, perusahaan diminta membangun turap dan saluran buang. Terakhir, mereka meminta penanaman kembali mangrove yang sudah ditebang.

Surat tersebut ditembuskan kepada Lurah Graha Indah dan Camat Balikpapan Utara. Warga berharap pihak pemerintah bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Pada hari yang sama, 15 Agustus 2024, Lurah Graha Indah, M. Arif Rahman, mengundang Ketua RT 11, 12, dan 13 untuk mediasi. Mediasi ini juga dihadiri oleh pihak Kecamatan Balikpapan Utara, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, dan Dinas Penanaman Modal. Perwakilan dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga hadir.

Namun, mediasi yang sudah berlangsung beberapa kali tidak memberikan hasil yang memuaskan. Mugiono mengatakan, warga RT 13 bahkan baru diundang pada mediasi ketiga. Padahal, wilayah ini yang paling terdampak. "RT 13 yang paling parah, tapi kami baru diundang setelah dua kali pertemuan," katanya.

Menurut Mugiono, sekitar 700 pergudangan besar akan dibangun oleh PT Lima Dua Prosperindo di lahan seluas 50 hektare. Pembangunannya dilakukan secara bertahap. Warga merasa aneh dengan aktivitas yang terus berjalan, meski perizinan masih dalam proses.

"Kami bertanya soal izin Amdal, tapi mereka bilang masih diproses. Lalu, di mana pengawasannya?" tanya Mugiono heran.

 

Mangrove yang Hilang, Perlindungan yang Lenyap

 

Photo
Photo
Tangkapan google earth yang masih memperlihatkan hijau mangrove. Kini mangrove tersebut telah hilang ditebang hingga ke bibir kanal.

 

Hutan mangrove yang dulu menjadi pelindung alami bagi warga kini lenyap. Pembangunan pergudangan mengubah pemandangan hijau menjadi tumpukan beton. Mangrove yang telah ditebang meninggalkan warga tanpa pelindung alami dari banjir.

Sedimentasi yang terbawa air hujan semakin memperburuk keadaan. Warga khawatir kanal yang dulu melindungi kini justru menjadi ancaman. Mereka hanya bisa berharap agar perusahaan segera merespons tuntutan mereka.

 

Kini, warga Graha Indah hidup dalam kecemasan. Banjir datang setiap kali hujan turun. Tak ada yang tahu kapan masalah ini akan berakhir. Warga merasa terjebak di antara pembangunan dan janji-janji yang tak kunjung ditepati.

Teddy, Mugiono, dan warga lainnya hanya ingin hidup mereka kembali normal. Mereka ingin bisa merasa aman di rumah sendiri tanpa takut banjir. Namun, hingga kini, harapan itu masih jauh. Air yang datang tak diundang terus menghantui setiap hari hujan.

Warga Graha Indah menanti solusi nyata. Mereka berharap PT Lima Dua Prosperindo segera bertindak. Jika tidak, bukan hanya banjir yang akan terus datang, tetapi juga kerusakan yang lebih besar di masa depan. ***

Editor : Indra Zakaria