Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kembali ke Kuching yang Dulu Sudah Maju, Kini Semakin Melesat

Faroq Zamzami • Kamis, 27 Februari 2025 - 02:47 WIB
Irianto Lambrie
Irianto Lambrie

Catatan: Irianto Lambrie

(Sekprov Kaltim 2009-2015, Gubernur Kaltara 2016-2021)

PROKAL.CO-Ketika bertugas sebagai kepala Bappeda Kaltim (1998-2000), kadis Perkebunan Kaltim (2000-2002), Asisten Sekprov Kaltim (2002-2004), kadis Perindagkop dan UMKM Kaltim (2004-2009), Sekprov Kaltim (2009-2015) hingga Pj Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) (2013-2014 dan 2014-2015) dan Gubernur Kaltara (2016-2021), alhamdulillah, saya banyak berkesempatan berkunjung ke Sabah, Sarawak dan Semenanjung Malaysia, Kota Tawau, Sandakan, Kuching, Miri, Kuala Lumpur, Penang, hingga Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam.

Saat itu bertemu dan berdialog dengan para pemimpinnya dan melihat kehidupan masyarakatnya, dengan segala plus minusnya.

Kesimpulannya, rakyat Malaysia dengan segala aspek heterogenitasnya (China, Melayu, India, Dayak Iban dan Dayak lainnya, serta suku-suku minoritas lainnya) kehidupan mereka lebih makmur secara merata dan relatif adil.

Ini karena tata administrasi negara dapat dijalankan dengan moral yang lebih baik dan profesional.

Pada 1992, sebagai ketua DPD KNPI Kaltim (1991-1994), saya membawa rombongan pemuda Kaltim sebanyak 95 orang mengadakan Muhibah Pemuda Kaltim ke Kuching, Sarawak. 

Rombongan saat itu terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota DPD KNPI kabupten/kota se-Kaltim dan beberapa ketua organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) tingkat Provinsi Kaltim.

Agenda ini merupakan muhibah balasan, karena pada 1991, Pertubuhan (Persatuan) Pemuda Sarawak (PPS) berjumlah 65 orang melakukan muhibah ke Provinsi Kaltim.

Mereka menjadi tamu Pemprov Kaltim yang saat itu gubernurnya Bapak HM Ardans (1987 -1997) dan tentu menjadi tamu DPD KNPI Kaltim.

Rombongan PPS saat itu dipimpin oleh salah seorang wakil ketua PPS, yang juga menjabat Menteri Luar Bandar Negeri Sarawak (Setingkat Kepala Kantor Pembangunan Masyarakat Desa Provinsi di Indonesia, orang Dayak Iban, namanya saya lupa). 

Ketua PPS-nya dirangkap oleh Ketua Menteri Negeri Sarawak Datuk Patinggi Tan Sri Taib Mahmud, yang menjabat Ketua Menteri Negeri Sarawak selama 30 tahun.

Muhibah PPS ke Kaltim, selain jamuan makan malam, juga melakukan pertandingan beberapa cabang olahraga, seperti sepak bola, bulu tangkis dan tenis meja. 

Tim olahraga KNPI Kaltim kalah telak. Untuk sepak bola main di Stadion Segiri Samarinda, kalah 4-0. Saat itu saya jadi kapten kesebelasan Pemuda Kaltim.

Kalah pengalaman dan kualitas pemain. Ketika main sepak bola kembali di Kuching, Sarawak, Kesebelasan KNPI Kaltim kalahnya menjadi 6 - 0.

Saat berkunjung ke Sarawak, rombongan Muhibah KNPI Kaltim pada 1992 itu diterima di Sekretariat PPS yang juga Kantor Perusahaan Tan Sri Taib Mahmud.

Gedung berlantai 12 (pada saat itu Tan Sri Taib Mahmud sudah menjabat ketua Menteri Negeri Sarawak). 

Kami juga diundang oleh Ketua Dewan Undangan Negeri Sarawak (DPRD tingkat provinsi) dan berdialog dengan anggotanya di Gedung Dewan Undangan Negeri Sarawak (hingga saat ini masih menjadi salah bangunan ikonik di Kuching).

 Jamuan makan malam oleh Tuan Yang Terutama Negeri Sarawak di istana kediamannya, dan jamuan makan malam oleh tiga menteri Negeri Sarawak. 

Tahun 1992, Kota Kuching sudah modern, maju, dan sejahtera, lalu lintasnya sangat tertib hingga saat ini. 

Pada Februari 2025 ini, saya kembali ke Kuching, dan terlihat kota ini telah berkembang pesat. 

Infrastrukturnya baik, perkembangan perumahan, hotel, kondominium, apartemen, mal, pasar, objek wisata, perluasan kota, rumah sakit dan pelayanan kesehatan berkelas internasional.

Jumlah kendaraan bermotor (terutama mobil) sangat banyak, meskipun jalan dari luar kota maupun bandara sudah dua jalur dan lebar, kemacetan terus terjadi, terutama pada siang hari.

Nampak jelas terlihat, hidup masyarakat Negeri Sarawak lebih sejahtera, makmur dan merata.

Setiap rumah tangga memiliki satu mobil, bahkan banyak juga terlihat di sejumlah garasi depan rumah terparkir empat hingga lima mobil.

Terlepas dari itu, ya, tentu saja masih terdapat kesenjangan kaya dan miskin. 

Warga Negeri Sarawak keturunan China cukup banyak (22,6 persen dari jumlah populasi penduduk Sarawak saat ini sekitar 3 juta lebih).

Terdapat lebih dari 40 etnis maupun sub etnis.

 Penduduk bumi putera 68,88 persen (58,7 persen Melayu, sisanya suku-suku asli, seperti Dayak Iban, Lundaye, Kenyah, dan lainnya). 

Di Kuching terdapat Toa Pek Kong (Kuil Kong Hu Cu) yang diperkirakan berusia lebih dari 150 tahun.  

Negeri Sarawak telah membuktikan, bahwa dalam heterogenitas dan keberagaman etnik, agama, dan ras, mereka mampu membangun dan membentuk toleransi serta hidup damai.

Pelayanan publik tanpa diskriminasi, negeri yang aman dan tertib, sejahtera, maju dan relatif berkeadilan yang merata.

Sekadar berbagi cerita dan pengalaman, semoga bermanfaat. (far)

Editor : Faroq Zamzami
#sarawak #irianto lambrie #kuching #kaltara #kaltim