PROKAL.CO, SAMARINDA – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda melakukan investigasi menyeluruh terkait insiden tongkang bermuatan batu bara yang menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Penyelidikan dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menentukan tanggung jawab pihak terkait.
Kepala KSOP Samarinda, Mursidi, mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi seluruh aspek pelayaran, mulai dari proses pemanduan, peran asisten pandu, hingga komunikasi antara nahkoda dan kepala stasiun pandu.
“Saya dari KSOP sedang melakukan investigasi menyeluruh. Mulai dari pandu, asisten, termasuk pilot station. Komunikasi antara nahkoda dan kepala stasiun juga kami evaluasi,” kata Mursidi saat ditemui di Kantor Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur, Samarinda.
Selain aspek pelayaran, KSOP juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kaltim untuk mengecek dampak kerusakan pada struktur jembatan yang terdampak benturan.
“Kami kerja sama dengan PUPR untuk mengecek kerusakan di tiang jembatan. Koordinasi juga kami lakukan dengan Kejaksaan serta Pelindo dan PUP untuk penyelesaiannya,” jelasnya.
Mursidi menambahkan, saat ini nahkoda kapal telah menjalani pemeriksaan oleh Satpolairud. Setelah proses tersebut rampung, KSOP akan melanjutkan ke tahap pemberkasan.
“Kami tunggu hasil pemeriksaan nahkoda oleh Polair. Setelah itu baru dilakukan pemberkasan,” ujarnya.
Terkait tanggung jawab perusahaan pemilik tongkang, KSOP memastikan akan memanggil seluruh pihak yang terlibat, termasuk perusahaan pemilik kapal dan pihak pemandu.
“Itu pasti kami panggil. Perusahaan yang bertanggung jawab, termasuk PUP yang melakukan pemanduan. Penyelesaian akan segera dilakukan, termasuk soal ganti rugi yang nanti kami koordinasikan dengan PUPR,” tegas Mursidi.
Ia juga menegaskan, penyelidikan dilakukan untuk memastikan apakah insiden tersebut terjadi di dalam atau di luar jadwal pemanduan resmi.
“Makanya kami investigasi. Nanti dilihat apakah masuk jadwal pengolongan atau tidak. Kalau di luar itu, kami akan atur kembali jadwal pemanduannya supaya kapal berangkat pengolongan terkoordinasi dengan baik, termasuk pemandu dan asisten,” katanya.
Mursidi menjelaskan, jadwal pengolongan di kawasan Jembatan Mahakam Ulu menyesuaikan dengan kondisi lalu lintas sungai dan pasang surut air.
“Jadwalnya kita lihat dari pasang surut. Untuk pagi hari biasanya antara jam 8 sampai jam 10. Di luar itu kami anggap di luar jadwal pengolongan,” jelasnya.
KSOP dijadwalkan menggelar rapat koordinasi lanjutan bersama PUPR pada Senin mendatang guna membahas hasil investigasi dan langkah teknis ke depan.
Sebelumnya, Dinas PUPR Kaltim memastikan adanya kerusakan pada Pilar VI Jembatan Mahakam Ulu usai ditabrak Ponton KD 2018 yang ditarik Tugboat MD 08-1302 pada Selasa (23/12/2025) pagi. Pilar tersebut merupakan bagian krusial dari struktur bentang jembatan.
Kepala Dinas PUPR Kaltim, Aji Fitrah Firnanda, mengatakan secara visual terlihat adanya luka dan pecahan material di bagian bawah pilar, meski belum dapat dipastikan apakah terjadi deformasi struktur.
Untuk memastikan keamanan jembatan, PUPR akan melakukan audit teknis menggunakan alat ukur presisi guna mendeteksi kemungkinan pergeseran pilar. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar penentuan apakah jembatan masih aman dilalui atau perlu diberlakukan pembatasan.
Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat Samarinda tetap tenang namun waspada, serta menunggu informasi resmi terkait status keamanan Jembatan Mahakam Ulu. (*)
Editor : Indra Zakaria