Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Merasa Cukup dengan Langganan Carteran

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 15 Januari 2019 - 21:01 WIB

Ojek pangkalan (opal) menjadi salah satu alternatif transportasi masyarakat. Juga pernah menjadi pilihan utama. Namun sifatnya yang tidak mengikuti perkembangan zaman, kini mulai ditinggalkan. Ojek dengan pendampingan aplikasi yang justru semakin berkembang. Namun sebagian pelaku opal masih bertahan.

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

TEKNOLOGI tak bisa ditawar. Inovasi pun mengalir di dalamnya. Tak terkecuali, masyarakat yang menjangkau sistem transportasi, semakin dipermudah dengan kehadiran inovasi, ojek online (ojol). Klik di HP, pengemudi datang menjemput dan mengantarkan sampai ke tujuan. Lalu, harganya murah. Tidak pakai ribet, atau harus menjangkau pangkalan. Opal tak lagi menjadi primadona.

Nuralim (40) terus membayangkan kejayaan ojek pangkalan. Belakangan, tawaran agar ia beralih ke ojol terus berdatangan. Tetapi, ia belum berminat.

"Sudah banyak teman beralih, karena kami manusia selalu mempunyai pilihan lain. Ada yang bertahan karena kenyamanan dirinya sendiri, ada yang bertahan karena kemampuannya terbatas untuk pindah ke lain. Saya tidak pindah karena sudah nyaman di sini," tuturnya ketika ditemui Radar Tarakan, Senin (14/1).

Selain karena merasa nyaman, alasannya bertahan karena selama ini pendapatannya selalu tercukupi. Menurutnya, meskipun penghasilan opal tidaklah besar, namun hasil tersebut dirasa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau biasanya kami punya pelanggan carteran sendiri khususnya antaran anak sekolah itu yang membuat kami masih bertahan sampai sekarang. Kami hanya melestarikan ojek konvensional, kalau kami bergabung ke online jadi siapa yang menjaga pangkalan. Biarlah penghasilan kami kecil yang penting kami setiap hari bisa makan," tuturnya.

Muksin (47), opal lainnya membeberkan alasannya bertahan karena ia sudah tidak tertarik mempelajari aplikasi. Sehingga, dengan munculnya inovasi berbasis online tak dibarengi dengan kemampuan menggunakan gadget. Selain itu, ia tak mampu memenuhi syarat sebagai driver ojol, unit kendaraan dengan standar tahun pembuatan.

"Kalau kami memang karena selain malas belajar teknologi, kami juga lebih suka ngojek begini. Karena juga tidak semua motor ojek konvensional ini lolos kualifikasi ojek online," ujarnya polos.

Soal opal yang terkesan anti dengan ojol, menurutnya tidak serta merta karena adanya rebutan penumpang. Namun rasa sentimen tersebut sudah muncul sejak ojol dianggap menjatuhkan harga angkutan yang dinilai terlalu murah.

"Karena online ini menjatuhkan tarif, tarif yang sudah kita atur bersama jadi terganggu karena tarif online. Kalau mereka mungkin tidak masalah karena menjadikan kerjaan sampingan, sementara kami menjadikan ojek ini pekerjaan utama," ungkapnya.

Meski demikian, ia dan rekan-rekannya tidak mempermasalahkan pilihan masyarakat dalam mengunakan jasa transportasi darat. Hanya, menurutnya tidak etis jika opal dinilai mematok harga tinggi. Patokan harga tersebut, kata dia, berdasarkan operasional yang dikeluarkan.

"Kami tidak masalah kalau sebagian besar masyarakat mendukung kehadiran ojek online. Cuma kita harus pikirkan juga harga bensin mahal dan juga kami menunggu berjam-jam untuk mendapat penumpang," imbuhnya. (***/lim)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#feature