Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mandi di Laut Dipercaya Tolak Bala dan Sucikan Diri

anggri-Radar Tarakan • 2020-08-21 09:31:15
TRADISI 1 MUHARAM: Sejumlah masyarakat melakukan ritual mandi bersih di kawasan Taman Berlabuh pada 1 Muharam kemarin./Ifransyah/radar tarakan
TRADISI 1 MUHARAM: Sejumlah masyarakat melakukan ritual mandi bersih di kawasan Taman Berlabuh pada 1 Muharam kemarin./Ifransyah/radar tarakan

Tarakan-Pergantian Tahun Baru Islam  1 Muharam  1442 Hijriah, Kamis (20/8) banyak masyarakat melakukan mandi di laut.   Ini sebagai salah satu tradisi turun-temurun yang dipercaya tolak bala dan mensucikan diri mengawali Tahun Baru 1442 H.  Selain itu, mandi-mandi di laut bentuk syukur kepada Allah atas kesempatan hidup yang masih diberikan sampai dengan saat ini.  

Selain dapat melaksanakan ibadah secara ikhlas dan benar, seluruh umat Islam berharap di tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Ibrahim salah seorang warga Jembatan Besi dirinya mengakui bahwa pada saat memasuki 1 Muharram, mandi di laut mereka lakukan  sebagai salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat turun-temurun di Tarakan sebagai bentuk mensucikan diri. Hal ini rutin dilakukan setiap tahunnya ketika memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam. Ibrahim bersama dengan keluarganya berdatangan di sekitar daerah Taman Berlabuh untuk membersihkan diri mulai dari pukul 06.30 sampai dengan pukul 09.00 Wita.

“Tetapi mandi ini kita lakukan ketika posisi air lagi pasang saja, tetapi kalau surut kita tidak melakukan mandi-mandi, bahkan hal itu diganti dengan berkunjung ke pasar untuk membeli keperluan dapur, seperti membeli panci dan baskom,” jelasnya.

Lanjutnya, memang ada dua tradisi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat pada saat memasuki 1 Muharam, yaitu melakukan ritual mandi dan belanja keperluan dapur.  Konon dengan membeli keperluan dapur di bulan Muharam, alat tersebut bisa tahan lama. Sedangkan untuk ritual mandi, dirinya mengakui bahwa hal terebut sebagai salah satu bentuk untuk mensucikan diri, sekaligus tolak-bala, bahwasannya tahun ini akan lebih baik dari pada tahun kemarin.

“Acara mandi-mandi seperti ini biasanya bukan hanya dilakukan oleh masyarakat yang ada di daerah Jembatan Besi, tetapi juga ada beberapa daerah lain di Tarakan seperti di daerah Juata. Biasanya pada pagi hari banyak masyarakat yang juga turut merayakan dengan berenang di dekat area pelabuhan yang ada di Juata,” ungkapnya.

Hal senadah juga disampaikan oleh Sitti, salah seorang ibu rumah tangga yang tinggal di daerah Selumit, dirinya mengakui bahwa dia bersama dengan suaminya rutin melakukan belanja keperluan dapur pada saat memasuki Tahun Baru Islam.  Hal ini dilakukan sebagai salah satu tradisi yang biasa dilakukan oleh orang-orang terdahulu pada saat memasuki  Tahun Baru Islam.

“Biasanya saya hanya membeli keperluan dapur seperti panci baskom, pisau ataupun kebutuhan lainnya,. Walupun banyak juga masyarakat yang melalukan pembelian pada 10 Muharam, tetapi kami memilih membeli pada awal Muharram,” tutur sitti.

Selain itu, Sukamto salah satu pedagang kebutuhan peralatan dapur yang berada di Beringin menjelaskan bahwa pada saat memasuki Tahun Baru Islam, sebagian masyarakat masih banyak yang percaya dengan melakukan pembelian alat dapur pada di momen tersebut.

Mereka berpendapat bahwa  barang tersebut lebih awet ketika kita menggunakannya. Diakuinya,  ketika memasuki 10 Muharam jumlah pembeli akan lebih banyak dibanding dengan hari sebelumnya.

“Kalau untuk saat ini, memang ada juga yang belanja, tetapi kalau untuk puncaknya biasa para ibu rumah tangga lebih banyak belanja pada saat 10 Muharam, mulai dari pagi sampai dengan sore hari,” tutupnya.

Selain itu, mulai 1 hingga 10 Muharam nanti diperkirakan setiap harinya jumlah masyarakat yang datang mengunjungi tokonya meningkat dari biasanya. (agg/har)

 

 

 

Editor : anggri-Radar Tarakan