Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Imunisasi Polio, Baru 22 Persen

anggri-Radar Tarakan • Kamis, 12 November 2020 - 22:49 WIB
TETAP PATUH PROKES: Pelaksanaan suntik imunisasi polio di Puskesmas Gunung Lingkas, tetap memenuhi protokol kesehatan, Rabu (11/11)./LISAWAN/RADAR TARAKAN
TETAP PATUH PROKES: Pelaksanaan suntik imunisasi polio di Puskesmas Gunung Lingkas, tetap memenuhi protokol kesehatan, Rabu (11/11)./LISAWAN/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Berbatasan langsung dengan Malaysia yang kejadian luar biasa (KLB) polio, Kalimantan Utara (Kaltara) pun mendapatkan instruksi pelaksanaan imunisasi polio dari Kementarian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, dr. Witoyo mengatakan, Kaltara, khususnya Tarakan mengantisipasi atas KLB polio dari Negeri Jiran alias Malaysia. Pelaksanaan imunisasi tambahan polio, suntik inactive polio vaccine (IPV) sudah dimulai sejak 19 Oktober lalu.

Masih dalam suasana pandemi Covid-19, pelaksanaan imunisasi polio ini tetap dalam protokol kesehatan (prokes). Yakni orang tua maupun anak yang datang ke tempat pengadaan imunisasi, diwajibkan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak alias gerakan 3M. “Dulu (penyakit polio) tersisa di Nigeria, Afganistan dan Pakistan. Tapi ternyata tidak hilang, malah muncul lagi di Filipina. Setelah itu masuk di Malaysia. Karena Kaltara berbatasan langsung dengan Malaysia, jadi Kaltara diinstruksikan mengadakan imunisasi polio. Tapi harus tetap waspada agar tidak menambah kasus Covid-19,” terangnya kepada Radar Tarakan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (11/11) siang.

Imunisasi polio ini menyasar pada anak usia 4 bulan hingga 15 tahun. Per 10 November kemarin, pencapaian pelaksanaan imunisasi di Tarakan sebesar 22 persen atau 12.478 anak, dari yang ditargetkan sekitar 61 ribu anak. Rencananya imunisasi tambahan ini berlangsung hingga akhir November. Namun tidak menutup kemungkinan akan berlanjut dalam Desember, bila belum memenuhi target. “Masyarakat sudah familiar dengan vaksin ini. Tapi pelaksanaannya tidak seluruh Indonesia, tapi Kaltara sebagai pintu gerbang dan berbatasan langsung dengan negara tetangga,” katanya.

Melihat angka pencapaian yang sudah menyentuh 12.478 anak dalam waktu sebulan ini, ia menilai antusias orang tua untuk menyuntikkan imunisasi ini cukup bagus.

Lanjutnya, apalagi imunisasi polio dinilai sangat penting untuk melindungi tubuh dari gangguan poliomyelitis alias infeksi polio. Juga upaya mencegah penularan. “Cepat juga ya di angka 12 ribu itu. Jadi kalau anak diberikan vaksin akan memberikan kekebalan tubuh, yang bisa mencegah munculnya infeksi virus polio pada tubuh,” bebernya.

Untuk pelaksanaannya sementara ini masih di puskesmas, rumah sakit, klinik, bidan praktik, dokter praktik yang bekerja sama dengan Dinkes Tarakan. Sebenarnya pelaksanaan juga sempat dijadwalkan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah zona hijau, seperti Tarakan Utara. “Belum sempat jalan untuk pelaksanaan di sekolah karena ada kasus jadi ditunda. Jadi pelaksanaan di sekolah-sekolah belum sempat, sementara di puskesmas dan mereka memanggil pihak sekolah ke puskesmas,” katanya.

Salah satu puskesmas yang melaksanakan pemberian imunisasi polio ini, di Puskesmas Gunung Lingkas. Kepala Puskesmas Gunung Lingkas, dr. Erna Mayasanti mengatakan, pelaksanaan imunisasi polio ini tetap dalam pengawasan protokol kesehatan yang ketat.

Selain petugas kesehatan yang memakai alat pelindung diri (APD) lengkap, pengunjung seperti orang tua beserta anaknya diwajibkan tetap memakai masker. Sebelum masuk ke ruang imunisasi, orang tua dan anak diarahkan untuk mencuci tangan di tempat yang sudah disediakan pihak puskesmas. “Karena masih masa pandemi Covid-19, jadi protokol kesehatan tetap kami jaga dengan ketat,” katanya saat ditemui di Puskesmas Gunung Lingkas, Rabu (11/11) pagi.

Lanjutnya, kemudian dilakukan screening kesehatan di tempat pendaftaran. Selain memeriksa suhu, juga mempertanyakan apakah memiliki keluhan batuk, pilek, demam dan sakit tenggorokan. “Kalau ada keluhan batuk, pilek kami sarankan ke ruang tengah untuk diobati dulu. Tapi kalau tidak ada keluhan, baru lanjut ke ruang imunisasi. Tapi sebelum imunisasi, di-screening (diperiksa) lagi. Jadi dua kali screening, untuk memastikan kondisinya. Setelah setuju diimunisasi, baru masuk ke ruangan,” bebernya.

Kursi untuk menunggu juga diatur dengan jarak satu meter. Bila ruang imunisasi penuh, pendaftar imunisasi diarahkan menunggu di lantai dua, guna mengantisipasi adanya penumpukan. Hal ini sesuai dengan protokol kesehatan. “Kalau di lantai tiga penuh, maka kami minta tunggu di lantai dua agar tidak menumpuk. Karena sesuai protokol kesehatan, tetap jaga jarak,” katanya.

Pelaksanaan imunisasi polio di Puskesmas Gunung Lingkas sudah dimulai sekitar pertengahan Oktober lalu. Sejauh ini sudah sebanyak 2.881 anak yang diimunisasi, dari 11 ribu anak yang masuk di dalam wilayah Puskesmas Gunung Lingkas. Yakni Kelurahan Pamusian, Kampung Satu Skip, Gunung Lingkas, dan Lingkas Ujung. “Jadi masih ada sekitar delapan ribuan lagi. Kami membuat pelayanan per PR, jadi targetnya sampai akhir November kita masih melaksanakan kegiatan ini. Tapi kalau belum mencapai sasaran, kita memberikan informasi ulang untuk masyarakat,” tutupnya. (*/one/lim)

Editor : anggri-Radar Tarakan