LIBURAN Tahun Baru nyaris saja memakan korban di Nunukan. Dua orang remaja putri diseret gelombang saat mandi di Pantai Kayu Angin, Tanjung Karang, Sebatik, Sabtu (2/1).
Mereka adalah Nur Selfiana dan Nir Fasilah, warga Sebatik yang sedang asyik menikmati liburan di pantai yang biasa disebut Batulamampu tersebut. Beruntung keduanya masih bisa diselamatkan warga.
Sainuddin, petugas Satpol PP Nunukan yang juga saksi mata di lokasi kejadian mengatakan, kedua remaja tersebut terlihat nekat mandi di pantai tanpa pengawasan. Mereka tak sadar semakin jauh ke luar dari bibir pantai akan semakin dalam. Tak lama mereka tak berdaya disapu gelombang. “Mereka itu tidak sadar airnya dalam, terkena gelombang dan terbawa arus lah mereka. Kebetulan ombak besar saat itu,” ungkap Sainuddin kepada pewarta harian ini, ketika diwawancarai, Minggu (2/1).
Sainuddin mengaku awalnya warga sekitar juga dibuat panik, karena jika ingin menolong, akan dibuat kewalahan barenang melawan gelombang yang cukup tinggi. Hingga akhirnya, pertolongan dilakukan menggunakan perahu yang ada di sekitar pantai. “Tidak bisa ditolong berenang, karena kalau mau berenang lawan arus kita susah juga, untung ada perahu, jadi mereka ditolong menggunakan perahu,” tambah Sainuddin.
Setelah dibawa ke kembali pantai, pertolongan pertama dilakukan warga Sebatik. Kebetulan masih terdapat sejumlah petugas kesehatan saat itu. Tidak lama kemudian, keduanya berhasil disadarkan dan dilarikan ke Rumah Sakit Pratama Sebatik.
Setelah mendapatkan perawatan intensif, keduanya dipastikan selamat. Setelah dipastikan sehat, kedua remaja tersebut akhirnya diperbolehkan pulang. “Alhamdulillah dua-dua selamat, yang pertama duluan pulang dan satunya lagi tadi pagi (kemarin) sudah pulang juga ke rumahnya,” beber Sainuddin.
Kapolsek Sebatik Timur, Iptu Randhya Sakhtika Putra mengatakan, melihat kejadian tersebut, pihaknya mengimbau agar para pengunjung ataupun pengelola tempat wisata memperhatikan hal apa pun yang terjadi di pantai.
Para petugas keamanan dan kesehatan, juga seharusnya dipersiapkan untuk menangani hal yang tidak diinginkan jika memang terjadi di lokasi. “Ya, pemilik tempat wisata harusnya melapor ke petugas keamanan dan petugas penjaga pantai, semua kejadian harus dipantau, ini sudah kejadian, harus menjadi perhatian, semoga ini diperhatikan lagi,” tambah Randhya.
TAHUN BARU DI TARAKAN
Seperti tahun-tahun sebelumnya, berbagai tempat wisata kembali ramai didatangi pengunjung yang memanfaatkan liburan Tahun Baru. Seperti yang terlihat di dua objek wisata ikon Tarakan yakni Pantai Amal dan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) pada Minggu, (2/1).
Meski masih dalam nuansa pandemi Covid-19, namun sepertinya hal tersebut sudah tidak menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Hal itu terlihat dari banyaknya masyarakat yang sudah tidak menggunakan masker saat yang berada di 2 objek wisata tersebut.
Zulkifli, pengelola wahana Pantai Amal menuturkan, setelah mengalami penurunan pengunjung pada tahun lalu, wisata Pantai Amal kembali mengalami lonjakan drastis pengunjung. Dijelaskan, tercatat tahun lalu pengunjung pada momen liburan Tahun Baru hanya berkisar 2 sampai 5 ribu pengunjung. Saat ini terhitung pengunjung Pantai Amal mencapai 8 hingga 10 ribu pengunjung. “Tahun ini kembali mengalami kenaikan seperti tahun sebelum pandemi. Ini sekitar 8 sampai 10 ribu pengunjung. Yang bikin ramai banyak kegiatan komunitas, sekolah dan kunjungan keluarga,” ujarnya.
Ia mengakui pihaknya sulit melakukan kontrol terhadap kewajiban memakai masker pengunjung. Walau demikian pihaknya telah mengimbau pengunjung untuk memakai masker. “Kami sudah mengimbau pengunjung mamakai masker. Tapi memang karena cukup banyak kita tidak bisa menegur satu per satu. Karena ada juga yang makan dan minum jadi tidak mungkin saat makan dan minum kita suruh pasang maskernya,” tuturnya.
Selain itu, ia menegaskan jika tarif karcis masuk pada liburan Tahun Baru dan hari biasa tidak mengalami perubahan. Selain itu untuk menarik pengunjung pihaknya membedakan tarif karcis anak-anak dan orang dewasa. “Untuk karcis tidak ada perubahan tetap Rp 5 ribu per orang. Sama seperti hari biasa. kalau anak-anak Rp 2.500 per orang. Karena pengunjung cukup banyak jadi fasilitasnya tidak cukup. Sehingga siapa yang dluan datang dia bisa menempati gazebo yang ada,” terangnya.
Ia menambahkan, sejak 2020 pihaknya telah menambah jam buka wahana wisata Pantai Amal. Jika sebelumnya hanya buka hingga pukul 6 sore, kini Amal Beach buka hingga pukul 22.00 malam.
“Sebenarnya di sini sampai jam 6 saja. Tapi karena di sini ada kafe, jadi jam bukanya ditambah sampai jam 10. Dengan hadirnya kafe di sini bagus juga sehingga menambah nuansa Amal Beach ini,” tuturnya.
Sementara itu, Mathnoer salah satu pengunjung cukup senang menghabiskan hari liburnya di Pantai Amal. Menurutnya, selain dapat menyaksikan pemandangan laut, wahana pantai juga banyak menyediakan kafe dan jajanan kuliner sehingga tidak membuat pengunjung bosan. “Cukup bagus tempatnya. Tapi mungkin pengunjung tidak membuang sampah sembarangan karena itu bisa membuat pantainya kotor. Selain itu, mungkin pintu masuknya juga bisa diperbesar karena selama ini cukup kecil dan pengunjung sering berdesak-desakan kalau masuk dan keluar,” ucapnya.
Ia berharap pengelola Pantai Amal dapat menambah fasilitas seperti gazebo dan tempat sampah. Sehingga menurutnya pengunjung tidak kesulitan untuk membuang sampah makanannya. “Mungkin saran saja, saya tidak melihat tempat sampah di sini. Mungkin ini yang menjadi PR pengelola agar harus lebih memperhatikan kebersihan tempat wisata seperti ini. Walaupun punya petugas kebersihan tapi fasilitasnya tempat sampah juga harus diperhatikan,” pungkasnya. (raw/*/zac/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan