Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Menyibak Misteri Peradaban Dayak Ngorek: Jejak Kuburan Batu di Jantung Kayan Mentarang

Redaksi Prokal • 2026-01-05 13:00:00
JEJAK MEGALITIKUM: Kuburan batu peninggalan Megalitikum di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. (DOK TNKM)
JEJAK MEGALITIKUM: Kuburan batu peninggalan Megalitikum di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. (DOK TNKM)

 

KAYAN MENTARANG – Di balik rimbunnya kanopi hutan tropis Kalimantan Utara, Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menyimpan rahasia besar tentang peradaban masa lampau. Situs kuburan batu berusia sekitar 400 tahun peninggalan suku Dayak Ngorek ditemukan tersebar di kawasan seluas 1,2 juta hektare ini, menjadi saksi bisu sistem kepercayaan prasejarah yang unik dan harmonisasi manusia dengan alam.

Situs megalitikum ini, yang dapat ditemukan di titik-titik seperti Lalut Birai dan Long Berini, menampilkan struktur batu besar yang kokoh meski telah dimakan usia. Beberapa di antaranya berbentuk lempengan datar, sementara yang lain berupa ceruk batu yang digunakan sebagai tempat peletakan peti jenazah kayu yang disebut erong.

Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, mengungkapkan bahwa struktur pemakaman ini bukan sekadar tumpukan batu biasa. "Variasi bentuk dan ukuran kuburan ini mencerminkan struktur sosial dan nilai budaya masyarakat pendukungnya pada masa itu. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak Ngorek sudah memiliki sistem kepercayaan dan tatanan sosial yang kompleks ratusan tahun lalu," jelasnya pada Sabtu (3/1/2026).

Para ahli arkeologi mengategorikan temuan ini sebagai peninggalan era Neolitik Akhir. Masa ini merupakan transisi penting di mana manusia mulai beralih dari pola hidup berburu dan meramu menuju kehidupan yang lebih menetap dengan ritual penghormatan terhadap leluhur yang tinggi. Penggunaan batu-batu masif dalam ritual pemakaman menjadi simbol keyakinan mereka akan adanya kehidupan setelah kematian.

Saat ini, beberapa situs seperti Kuburan Batu Long Berini mulai dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya. Namun, pengembangan ini dilakukan dengan prinsip berkelanjutan. Balai TNKM melibatkan masyarakat lokal secara aktif sebagai garda terdepan dalam menjaga situs arkeologi tersebut.

"Masyarakat lokal bukan hanya penjaga, tetapi mereka adalah pemilik cerita. Melalui pendampingan, kami ingin sejarah dan budaya lokal ini tetap hidup sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar," tambah Seno.

Keberadaan kuburan batu ini menegaskan bahwa Kayan Mentarang bukan hanya paru-paru dunia yang kaya akan flora dan fauna, tetapi juga merupakan cagar budaya hidup yang menyimpan misteri peradaban Kalimantan. Penemuan ini membuka jendela bagi dunia untuk memahami bagaimana manusia di masa lampau menata kehidupan spiritual dan sosial mereka di tengah tantangan pedalaman hutan Borneo yang lebat. (*)

Editor : Indra Zakaria