Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sisi Lain Mudik di Tarakan: Lakalantas Turun, Namun Kasus Penganiayaan Justru Meroket

Indra Zakaria • Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:00 WIB

OPERASI KAYAN: Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik (pegang tongkat komando) saat meninjau pos pengaman dan pelayanan saat Operasi Ketupat Kayan 2026. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
OPERASI KAYAN: Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik (pegang tongkat komando) saat meninjau pos pengaman dan pelayanan saat Operasi Ketupat Kayan 2026. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

TARAKAN – Operasi Ketupat Kayan 2026 di Kota Tarakan resmi berakhir dengan catatan yang kontradiktif. Di satu sisi, kesadaran berkendara masyarakat meningkat yang ditandai dengan turunnya angka kecelakaan. Namun di sisi lain, kepolisian menyoroti fenomena "sumbu pendek" di tengah masyarakat seiring meningkatnya kasus penganiayaan selama 13 hari pelaksanaan operasi.

Kapolres Tarakan, AKBP Erwin Syaputra Manik, mengungkapkan bahwa dinamika tahun ini sangat dipengaruhi oleh lonjakan arus mudik dan balik yang jauh lebih padat dibanding tahun sebelumnya, baik melalui jalur udara maupun laut.

Meskipun situasi secara umum terkendali, kenaikan kasus kekerasan fisik menjadi noktah merah dalam evaluasi kamtibmas tahun ini. Kapolres mencatat bahwa gesekan antarwarga yang berujung penganiayaan mengalami peningkatan, sebuah tren yang sangat disayangkan di tengah suasana hari raya.

“Dari hasil pelaksanaan operasi, kriminalitas memang ada kenaikan, terutama kasus penganiayaan. Namun untuk lakalantas justru mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, termasuk jumlah korban dan kerugian materialnya,” ujar AKBP Erwin Syaputra Manik, Jumat (27/3).

Selain penganiayaan, polisi juga sempat menangani dua kejadian kebakaran lahan yang syukurnya tidak menelan korban jiwa, serta memediasi aksi protes Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Malundung agar tidak meluas menjadi kerusuhan.

Tak hanya soal angka kriminalitas, Kapolres juga memberikan raport merah bagi fasilitas penunjang di Pelabuhan Feri Juata. Sebagai jalur vital antar-daerah, pelabuhan ini dinilai masih sangat minim fasilitas pengamanan dan kenyamanan bagi para pemudik.

“Di Pelabuhan Feri Juata masih belum tersedia rest area dan CCTV. Padahal ini merupakan jalur transportasi yang cukup vital,” ungkap Erwin.

Ketiadaan CCTV menjadi perhatian serius karena Tarakan merupakan pulau transit yang rawan terhadap peredaran narkotika dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Ia pun mendorong pengadaan teknologi pendukung seperti mesin X-Ray untuk memperketat pengawasan, seperti yang kini sudah mulai dioperasikan di Pelabuhan Internasional Malundung.

Evaluasi Musik Sahur dan Kedisiplinan

Kegiatan sosial masyarakat seperti musik sahur juga tak luput dari evaluasi. Polisi menemukan banyak rombongan yang tidak mengikuti arahan teknis sehingga memicu ketidaktertiban di jalanan.

“Ke depan ini menjadi perhatian agar kegiatan masyarakat tetap berjalan kondusif dan sesuai arahan panitia,” tambahnya.

Meski dihujani sejumlah catatan, AKBP Erwin menegaskan bahwa secara umum tidak ada kejadian menonjol yang melumpuhkan aktivitas kota. Sinergi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah dianggap berhasil meredam potensi gangguan besar.

“Kami melakukan langkah maksimal berdasarkan analisa dan evaluasi operasi sebelumnya. Ini berkat kolaborasi semua pihak sehingga situasi di Tarakan tetap aman dan kondusif,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Indra Zakaria