Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ganja Sumatra "Berbondong-bondong" Masuk Kaltim, Sasarannya Mahasiswa dan Pekerja

Dwi Restu Amrullah • Kamis, 7 Maret 2024 - 05:05 WIB
AGAR TAK DISALAHGUNAKAN: Jajaran BNN Kaltim disaksikan beberapa perwakilan instansi vertikal lain memusnahkan ganja dengan cara dibakar.
AGAR TAK DISALAHGUNAKAN: Jajaran BNN Kaltim disaksikan beberapa perwakilan instansi vertikal lain memusnahkan ganja dengan cara dibakar.

Bukan sekali dua kali. Berulang kali pengungkapan yang dilakukan aparat penegak hukum (APH) dalam kasus narkotika jenis ganja, dikirimnya kerap dari Sumatra Utara. Jumlahnya pun tak sedikit.

BADAN Narkotika Nasional (BNN) Kaltim memusnahkan barang bukti ganja kering. Pengungkapan Januari hingga Februari itu dibakar dalam tong sampah.
Dipimpin Kabid Pemberantasan dan Intelijen BNN Kaltim Kombes Pol Dedi Agustono.

Meski perkara yang diungkap terbilang sedikit, dalam dua bulan tersebut, empat pengungkapan narkotika digagalkan lembaga khusus yang menangani narkotika. Penindakan pertama dilakukan BNN Balikpapan pada awal Januari. “Untuk kasus pertama petugas kami di Balikpapan mendapat informasi Tim Posko Ops Interdiksi Udara Bandara Soekarno Hatta terkait temuan paket melalui salah satu jasa pengiriman, dan dicurigai merupakan ganja. Tapi itu asal Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, tujuannya Balikpapan,” ujar perwira Polri yang bertugas di BNN tersebut.

BNN yang menerima informasi tersebut menuju ke salah satu kantor jasa pengiriman barang di kawasan Muara Rapak, Balikpapan Utara. Sekitar pukul 14.00 Wita datang seorang laki-laki hendak mengambil paket yang dikirim tersebut. “Pasca-menerima paket itu tersangka berinisial WL langsung kami amankan. Saat ditanya mengakui kok isi paket itu ganja,” tegas Dedi. Paket yang di dalamnya berisi dua bungkus plastik hitam berukuran sedang seberat 1.960 gram berisi ganja.

Pengungkapan kedua dilakukan BNN Kaltim sepekan setelah penangkapan WL. Pihaknya menerima informasi intelijen BNN Sumatra Utara (Sumut), ada pengiriman ganja dari Kabupaten Deli Serdang, tujuan Samarinda. Kemudian dilakukan pengecekan lokasi ke alamat tujuan, yang ternyata fiktif, sehingga pihaknya berkoordinasi ke pihak jasa pengiriman barang. Minggu (14/1), jajarannya belum mendapatkan informasi apa pun terkait pemilik paketan tersebut, dari pihak jasa pengiriman barang.

Lantaran tak bertuan, barang bukti ganja kering tersebut langsung diamankan dan membuat berita acara serah terima dengan petugas jasa pengiriman tersebut. Dengan barang bukti seberat 1.692 gram yang terbagi ke tujuh bungkus. 

Selain mengungkap peredaran gelap narkotika ganja, BNN Kaltim turut menindak penyalah guna narkotika jenis sabu-sabu, di Jalan Marhusin, Gang Darma II, Kelurahan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir. Pria berinisial DI bersama barang bukti 22 paket sabu-sabu seberat 11,83 gram dibekuk.

Februari lalu, Dedi Agustono memimpin langsung pengungkapan di salah satu jasa pengiriman Jalan Juanda, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu. Meringkus MJ, dan mengaku pengambilan barang tersebut atas suruhan pria berinisial ADJM, yang saat itu berada di Bali, dan kembali ke Kota Tepian di awal Februari.

Petugas langsung memantau di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan sekitar pukul 15.00 Wita. Hendak keluar dari bandara, ADJM dibekuk, dan mengakui barang tersebut benar pesanannya, yang diambil MJ. Namun, ADJM menyebut, rekannya itu tak mengetahui berisi paket ganja sebanyak empat bungkus dengan berat 1.976 gram. "Semua itu barang bukti pengungkapan Januari hingga Februari yang kami musnahkan, sebelumnya sudah disisihkan untuk laboratorium dari tiga tersangka," jelas perwira yang pernah menjabat di Polresta Samarinda tersebut.

Dedi menambahkan, ganja yang dimusnahkan kurang lebih 5.628 gram untuk barang bukti narkotika golongan 1. Sedangkan sabu-sabu 11,8 gram, dimusnahkan dengan cara diblender. "Rata-rata barang haram itu pengirimannya menggunakan jasa pengiriman, dari daerah Sumatra yang dipesan lewat media sosial (medsos) secara online," terangnya.

Dari hasil penyelidikan, para pelaku merupakan pemain baru, dengan status mahasiswa dan pekerja. "Targetnya mereka mahasiswa dan sesama pekerja. Jadi, modus pengirimannya itu menggunakan alamat fiktif, tapi ada juga yang alamat asli dan mengambil langsung di kantor jasa pengiriman," kuncinya. (dra2/k8)

Editor : Indra Zakaria