Banyak anak tumbuh besar dengan sosok ayah yang secara fisik hadir di rumah, tapi terasa jauh secara emosional. Ia ada, tetapi seperti bayangan: diam, kaku, dan tak menyentuh sisi terdalam kehidupan anak-anaknya. Fenomena ini dikenal sebagai ayah yang tidak hadir secara emosional—sebuah kondisi yang kian sering disadari, dibicarakan, bahkan mulai dipertanyakan dalam ruang-ruang keluarga, kesehatan mental, dan pendidikan pengasuhan masa kini.
Dalam banyak budaya, termasuk di Asia Tenggara, peran ayah sering kali diidentikkan dengan tanggung jawab ekonomi. Ayah bekerja dan menafkahi dianggap sudah cukup. Padahal, keterlibatan emosional ayah memiliki dampak besar terhadap tumbuh kembang anak. Menurut laporan UNICEF Indonesia (2024), anak yang memiliki hubungan emosional kuat dengan ayahnya cenderung memiliki kemampuan sosial lebih baik, rasa percaya diri lebih tinggi, serta perkembangan psikologis yang lebih sehat.
Sayangnya, banyak keluarga masih mempraktikkan pembagian peran lama: ibu sebagai pengasuh emosional, ayah sebagai pencari nafkah. Hal ini menyebabkan kehangatan, validasi, dan keintiman dari sosok ayah menjadi langka.
Dalam Journal of Family Psychology (2023), disebutkan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan dukungan emosional dari ayah berisiko mengalami masalah harga diri, kesulitan menjalin relasi yang sehat, serta lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi saat dewasa. Luka ini tidak terlihat secara kasatmata, karena tidak meninggalkan memar atau bentakan. Tapi luka itu hidup dalam hubungan yang renggang, percakapan yang tak pernah terjadi, dan rasa “tidak cukup berharga” yang terus menghantui.
Banyak anak akhirnya tumbuh dengan pertanyaan sunyi:
"Kenapa ayah tidak pernah memelukku?"
"Kenapa aku harus berpikir dua kali sebelum curhat ke ayah sendiri?"
"Kenapa sosok yang katanya pemimpin keluarga justru paling jarang bicara dari hati ke hati?"
Kehadiran ayah yang tidak hadir ini juga menyisakan luka antargenerasi. Pola dingin dan emosional yang tidak sehat sering diturunkan secara tidak sadar. Seorang anak laki-laki yang tak pernah melihat ayahnya menangis atau menunjukkan kasih sayang, bisa tumbuh dengan gagasan bahwa kehangatan adalah kelemahan. Siklus ini berulang, menjadikan generasi demi generasi kehilangan koneksi paling mendasar dalam keluarga: kehadiran yang menyentuh hati.
Namun, harapan tetap ada. Kini, sejumlah komunitas seperti “Kelas Ayah”, “Laki-Laki Baru”, dan program pengasuhan ayah di berbagai daerah mulai memberikan ruang aman bagi laki-laki untuk belajar ulang. Bukan hanya tentang bagaimana menjadi kepala keluarga, tapi juga menjadi hati di dalamnya.
Perubahan tidak harus datang dari revolusi besar. Terkadang, dimulai dari hal sederhana: mendengarkan tanpa menyela, menanyakan kabar tanpa alasan, memeluk tanpa malu. Sebab anak-anak tidak hanya butuh dilindungi—mereka juga ingin dipahami.
Seorang ayah tidak harus sempurna. Ia tidak dituntut untuk tahu semua jawaban. Tapi kehadiran yang tulus, terlibat, dan emosional bisa menjadi fondasi kuat dalam kehidupan anak. Dunia kini berubah, dan begitu pula definisi ayah. Dari yang semula hanya simbol otoritas, kini ia bisa menjadi tempat pulang yang hangat.
Mari perlahan ubah cara pandang kita. Bukan untuk menyalahkan generasi sebelumnya, tapi untuk memulai generasi pengasuhan yang lebih utuh dan sehat—dimana sosok ayah tidak lagi jadi bayangan, tapi hadir sepenuhnya. (Arsandha Agadistria Putri)
Editor : Indra Zakaria