Amunisi produksi PT Pindad yang disita dari tangan otak komplotan perakit senjata api di Bojonegoro diduga berasal dari tentara aktif. Jejaring Bojonegoro-Sleman-Papua terbentuk karena pertemanan di komunitas berburu.
Komplotan di Bojonegoro dan Jogja terungkap setelah Yuni Enumbi ditangkap polisi di Keerom, Papua, pada Kamis (6/3) pekan lalu. Dari tangan mantan tentara itu, aparat menyita empat pucuk pistol jenis G2 Pindad, dua pucuk senjata api laras panjang jenis SS1 V1 Pindad, dan ratusan butir amunisi dari berbagai kaliber.
Senjata-senjata tersebut disembunyikan di dalam tabung air kompresor dan dibungkus dalam paket suku cadang mobil untuk mengelabui petugas. Aparat juga menyita barang bukti lainnya, di antaranya senapan angin, teleskop, peredam senapan angin, dan berbagai suku cadang senjata api.
Yuni juga pernah menengok langsung tempat perakitan senpi di Bojonegoro. Selain Yuni, mantan tentara lain yang juga terlibat dalam komplotan ini adalah Eko. Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom menuturkan, dirinya bisa memastikan senjata dan amunisi yang dijual Yuni buatan Pindad. Tapi, bagaimana cara Yuni mendapatkannya, dia belum mengetahui.
”Hubungan Yuni dengan Jakarta seperti apa, saya tidak mengetahui,” paparnya kepada Jawa Pos (14/3).
Selama ini TPNPB-OPM menggunakan berbagai senjata, entah bikinan Pindad atau bukan. Di antaranya, Armalite AR 15 buatan Amerika Serikat, M4 buatan Amerika Serikat, AK 47 buatan Rusia, serta SS1 dan SS2 buatan Pindad. ”Jenis senjata yang kami pakai bisa dilihat di foto,” ujarnya setelah mengirim sejumlah foto pasukan TPNPB-OPM yang menenteng berbagai senjata laras panjang dan pendek.
Dia mengatakan meminta maaf terhadap pendukung TPNPB-OPM yang memproduksi senjata di Bojonegoro. Sebab, tertangkapnya mereka akibat Yuni Enumbi anggotanya yang tidak mampu menahan diri setelah tertangkap. ”Tradisi dari TPNPB-OPM itu kalau tertangkap sudah diam. Tapi, sepertinya Yuni Enumbi belum siap seperti itu,” paparnya.
Jawa Pos berupaya mengonfirmasi ke Wakil Direktur PT Pindad Sigit Santosa dan Humas Pindad Tuning Rudyati. Namun, hingga berita ini ditulis, keduanya tidak merespons. (*/ttg)
Editor : Indra Zakaria