Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Manisnya Durian Hutan Muara Lambakan Jadi Primadona

Redaksi Prokal • 2026-01-01 13:00:00
Durian lokal khas Kabupaten Paser ramai diburu jelang tradisi bakaran malam Tahun Baru. Durian lambakan dari Muara Lambakan dijual murah dan diminati warga.(FOTO:RANO/PASER POS)
Durian lokal khas Kabupaten Paser ramai diburu jelang tradisi bakaran malam Tahun Baru. Durian lambakan dari Muara Lambakan dijual murah dan diminati warga.(FOTO:RANO/PASER POS)

 

 

TANA PASER – Suasana malam pergantian tahun 2026 di Kabupaten Paser terasa berbeda dengan kehadiran durian lokal yang kini tengah memasuki masa panen. Jika biasanya jagung bakar menjadi menu utama, tahun ini durian lokal khas Paser—khususnya dari Desa Muara Lambakan—menjadi buruan warga untuk melengkapi tradisi berkumpul bersama keluarga dan kerabat.

Buah musiman ini membanjiri sejumlah titik penjualan di pinggir jalan dan mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Durian yang berasal dari hutan-hutan alami di wilayah Long Kali ini dikenal memiliki cita rasa manis yang legit dengan tekstur daging buah yang tebal.

Warisan Nenek Moyang dari Hutan Lambakan Andriyani, salah seorang pedagang di Kecamatan Long Ikis, menuturkan bahwa durian yang ia jual bukan berasal dari perkebunan modern, melainkan dari pohon-pohon tua warisan nenek moyang yang tumbuh alami di hutan Desa Muara Lambakan.

"Durian ini dari pohon-pohon tua. Buahnya jatuh alami, jadi matang sempurna di pohon, bukan diperam," ungkap Andriyani saat melayani pembeli pada Rabu (31/12/2025).

Kualitas rasa yang autentik ini membuat durian Lambakan menjadi favorit. Harganya pun bervariasi tergantung ukuran dan kualitas. Di tingkat pedagang yang sudah membawa buah keluar desa, harga dipatok mulai dari Rp20.000 hingga Rp50.000 per buah untuk ukuran yang paling besar. Meski begitu, antusiasme warga tidak surut; banyak pembeli yang langsung memborong dalam jumlah besar hingga ratusan ribu rupiah untuk stok perayaan malam tahun baru.

Perjuangan Melangsir Buah dari Tengah Hutan Di balik manisnya durian Lambakan, terdapat perjuangan berat para petani dan pedagang untuk membawanya ke pasar. Andriyani menceritakan bahwa suaminya harus menggunakan perahu untuk menjangkau lokasi pohon durian di pedalaman hutan.

"Sekali langsir menggunakan perahu bisa membawa hampir 500 biji. Luar biasanya, jumlah sebanyak itu biasanya habis terjual di hari yang sama karena saking banyaknya peminat," tambahnya.

Fenomena musim durian di akhir tahun ini tidak hanya memperkuat identitas kuliner Kabupaten Paser, tetapi juga menjadi berkah ekonomi bagi warga desa. Bagi masyarakat Paser, menikmati durian jatuh alami di bawah langit malam tahun baru kini menjadi tradisi baru yang mempererat kebersamaan, sekaligus mendukung kesejahteraan petani lokal yang menjaga kelestarian hutan mereka. (*)

Editor : Indra Zakaria