Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi, Setelah 30 Tahun Memilih Jalan Sipil di Kukar

Redaksi • 2024-07-19 20:55:48
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi

Catatan Syafril Teha Noer* 

“DUNIA militer adalah satu dari sedikit yang paling sukses membentuk kepemimpinan,” katanya. Tahun 80-an. Dia masih SMP. Antara kelas satu atau dua. Cenderung serius. Seperti selalu berpikir. Entah dalam hal apa terbahak. Atau berapa kali sehari bergurau atau bertindak usil. Terbilang kurang lazim untuk remaja seusia.

Di antara sedikit kegiatan rekreatif yang membuatnya rada santai, agaknya, adalah latihan-latihan bersama Kelompok Rumpun Pisang (KRP), semisal untuk penampilan di TVRI Stasiun (waktu itu) Balikpapan. Ini perkumpulan teater yang didirikan Almarhum Ahmad Rizani Asnawi - pegawai negeri yang mengetuai Dewan Kesenian Samarinda. Saya membersamai anak-anak dari usia TK sampai SMA ini tak kurang dari 10 tahun sejak 1980.

Hari itu dia meminta waktu untuk diskusi. Ini kerap terjadi di sela latihan rutin dan persiapan produksi. Kali ini tentang dunia militer, di mana kepemimpinan dilatihkan secara sangat serius.

“Lihat saja orang-orang besar dalam sejarah dan para tokoh sekarang,” sambungnya seraya menyorong contoh Panglima Besar Sudirman, Abdul Haris Nasution, Soeharto, Ali Sadikin, dan beberapa nama lain yang berperan penting dalam perjalanan bangsa. “Apa kamu mau jadi tentara?” Saya bertanya. “Saya mau jadi pemimpin, kak,” jawabnya.

 

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi bersama tokoh agama.
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi bersama tokoh agama.

Saya mengira dia hanya sedang terkesima. Masa itu beredar banyak nama dengan karir moncer. Ya saat memanggul senjata di ketentaraan, ya waktu berkiprah di dunia sipil. Situasi politik sedang membuka ruang jembar bagi debut para perwira, tidak hanya dalam perkara pertahanan dan perang. Karena itu lalu populer.

Tapi ternyata saya keliru. Tamat SMA Negeri 1 Samarinda dia mendaftar dan ikut tes masuk Akademi Militer (Akmil) melalui Kodam Mulawarman di Balikpapan. Semua tahapan dia lewati dalam senyap. Tapi pada uji ketahanan fisik lari keliling Lapangan Merdeka dia ambruk, di seperempat akhir jarak yang harus diselesaikan. Gagal.

Tes itu berlangsung dalam bulan Ramadan. Seseorang memberinya saran untuk tidak berpuasa dulu. Toh bisa diganti di lain bulan. Namun kelima dari tujuh anak pasangan Almarhum Djamhur dan Emly ini ‘keukeuh’ berpuasa.

Kembali dari Balikpapan dia berjualan koran, jadi loper, terutama untuk Harian ManuntunG (sekarang Kaltim Post), sambil kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Lapaknya di pinggir Jalan Bhayangkara Samarinda - di samping rumah orangtuanya. Kebetulan, sejak 1989 saya bekerja di harian pertama di Kaltim itu.

Kuliah sambil jual koran? Ya. Sebelum itu dia bahkan ‘nguli’ bangunan. Ayahnya telah lama berpulang. Ibunya bertahan dengan membuat dan menjual kue. Syukurlah, semua anaknya tahu diuntung. Tak ada yang aneh-aneh. Bahu-membahu ikut membantu. 

Baca Juga: Survei TBRC : Dendi Suryadi Mampu membawa Masyarakat Kukar Sejahtera

Syahdan, pernah adik bungsunya lulus tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad). Dengan bungah, seraya mengepit map berisi lembar hasil pengumuman, si adik mendatangi sang ibu yang sedang mengadon kue. Melapor. 

“Saya lulus tes masuk Unpad, Mak”. Yang dilapori tetap bekerja mengadon kue. “Baik hak tu (bahasa Kutai). Tapi dari mana biayanya?” katanya sejurus kemudian. Si adik mafhum. Itulah ujung bungahnya. Tak ada pilihan, universitas ternama di Bandung tadi mesti dilupakan. Angan-angan jadi seorang dokter segera dipendam. 

Jualan kue, mengecer koran, kuli bangunan, atau apa saja, di tengah keluarga itu adalah pilihan paling mungkin, paling realistis. Keterbatasan ekonomi memaksakan kemandirian, mencari jalan penyelesaian dengan cara masing-masing, rata-rata sejak mereka belia. 

Namun tak banyak yang tahu, si loper ManuntunG rupanya ‘cuma’ sedang menghela napas. Lagi tiarap dan mengendap. Hasil jualan koran diam-diam dia tabung. Dan ketika telah Rp250 ribu, setahun sejak kegagalan di Balikpapan tadi, kembali dia temui pelatih teaternya. Kali ini bukan buat berdiskusi, tapi untuk memberitahu.

“Saya mau ke Bandung, kak”. 

“Ngapain ke sana?” 

“Saya mau coba tes masuk Akmil lewat Kodam Siliwangi”. 

“Lha, kamu kan lagi kuliah?” 

“Buat saya Akmil lebih cocok”. 

“Mamakmu sudah tahu?” 

“Beliau akan tahu setelah saya lolos tes nanti”. 

Pendaftar di Mulawarman 300 orang. Di Siliwangi jumlah itu 10 kali lipat lebih banyak. “Apa tantangannya tidak jauh lebih berat?” saya bertanya. “Saya pernah gagal. Saya tahu musti ngapain. Saya akan berlatih sekeras mungkin. Di atas semuanya saya akan sering-sering meminta back up dan bantuan yang diperlukan’. 

“Dari siapa?” 

“Dari Tuhan!” jawabnya kemudian. Kami tersenyum bareng. Saya jabat tangannya. Sebelum pergi dia bertanya, siapa sanak famili saya yang perlu dia datangi di Bandung, dan saya menyebut Buya Abdul Mu'thi Nurdin - paman saya.

Sejak itu, sampai beberapa tahun berikutnya, kami tak bersua.

 

*** 

Menjelang 1990 saya bertugas di Balikpapan. Masih di Harian ManuntunG yang bersiap ganti nama, menjadi Kaltim Post. Suatu siang saya sedang di di rumah, ketika seseorang mengetuk pintu. Dan sosok di baliknya bukan main bikin kaget. Dia berseragam taruna Akmil. Setelan warna khaki, dengan tanda-tanda ‘pangkat’ keemasan di atas dasar merah. Brevet-brevet di dada, pet khas menutup kepalanya yang kini plontos nyaris botak. 

“Dendi! Dendi Suryadi!”

 Kami berangkulan. Tubuhnya kini jauh lebih tegap dan padat, bertenaga, dengan warna kulit lebih gelap. Jabat tangannya kuat. Kata-katanya terukur. Seperti keluar hanya jika perlu. Tegas. Dan selalu, bila setuju atau mengerti, yang keluar dari mulutnya adalah ‘siap’. 

Berikutnya, begitulah suka-dukanya masuk Kawah Candradimuka para calon perwira di Magelang itu mengisi perjumpaan kami. Hampir semua bagiannya mempercepat degup jantung, saking menantang dan menguji nyali. Sayangnya belum semua terungkap. Dia harus membagi waktu cuti yang hanya sebentar. Musti terus ke Samarinda, menemui sang ibu, keluarga, sanak-kerabat dan kawan-kawan. 

Kami kembali tak bersua dalam kurun yang lama. 

Perkembangan karir militernya setelah lulus Akmil lebih banyak saya ketahui dari kakak-kakak dan adik-adiknya. Media sosial belum ada. Komputer masih dikursuskan orang. Hanya kantor-kantor dan orang berduit yang punya. 

Pengalaman karirnya lengkap. Bertugas di banyak tempat di Nusantara, yang bisa diingat, dia pernah memimpin satuan-satuan peleton, kompi, batalyon. Lalu menjadi kepala staf dan komandan Kodim di Tenggarong. Sesudah bertugas di sebuah brigade Kostrad, Dendi menjadi kepala staf Korem di Lampung, lalu menjadi Komandan Korem 091/ASN di Kalimantan Timur dengan bintang satu di kedua pundaknya - brigadir jenderal! 

Anak pembuat dan penjual kue, yang pernah jadi kuli bangunan dan loper koran itu kini tercatat sebagai putra Kutai pertama yang jadi jenderal! Dan jenderal yang pernah berlatih teater! 

Kami hanya sesekali bersua. Antara lain saat dia menjadi Wadan Batalyon di Tarakan, Kepala Staf dan Komandan Kodim di Tenggarong, serta Komandan Korem di Samarinda. Sesekali pula saling menyapa lewat telepon dan pesan singkat. Dua peristiwa bersejarah dikabarkannya melalui telepon. Itulah ketika Indonesia kalah dalam referendum di Timor Timur. Juga saat dia dan sekompi pasukannya berhadap-hadapan dengan satuan Interfet (Australia). 

“Kami sebenarnya sedang mempersiapkan ‘pull out’ dari Timor Timur. Pihak sana salah paham. Tapi namanya operasi militer, ya sempat kokang senjata juga,” kisahnya di belakang hari. 

*** 

Setelah tak lagi mengomando Korem 091/ASN, Dendi menjadi staf khusus Kasad. Kantornya di Mabesad TNI di Jakarta. Persuaan kami kembali langka. Yang saya tahu kemudian namanya sempat masuk polling untuk posisi kandidat wakil gubernur Kaltim. Selebihnya adalah obrolan dengan beberapa kawan wartawan, tentang harapan bintang di pundaknya bertambah jadi dua. Mayor Jenderal. Hanya itu. Selebihnya ‘blank’. 

Kesibukannya tentu kian padat. Juga pasti selektif. Beberapa kali kami kontak lewat pesan singkat. Namun, saat saya di Jakarta sang jenderal justru di Samarinda. Begitu pun sebaliknya. 

Oh iya. Tentu saja saya tak lagi bisa ‘ber-Dendi-Dendi’ padanya. Apalagi ‘ber-kamu-kamu’ seperti dulu. Sejak dia memimpin pleton saja saya sudah menyapanya dengan ‘dan’ atau ‘komandan’. Dan sekarang, harus kembali membuat penyesuaian dengan menyebut ‘jenderal’ - lengkapnya ‘jenderal Dendi’. 

“Bila yo baeknya etam betemu, bekesahan, jenderal?” Tulis saya dalam pesan singkat, suatu malam belum lama ini. Tak dinyana, lekas dia jawab. “Empai, kak. Habis maghrib. Di rumah. Saya lagi di Samarinda”. 

Seumur-umur saya tak tahu dia sudah punya rumah di Samarinda. Yang saya tahu, jika sedang di sini, kalau bukan di rumah dinas Komandan Korem dia kerap di rumah adiknya. Sesuai kesepakatan ke rumah rada di pinggir kota itulah saya menuju. Sempat nyasar dan muter-muter, gara-gara Google yang tak selamanya akurat. Satu-dua anak muda berambut cepak yang ternyata ajudannya lalu menuntun saya ke tempat yang tepat. 

Dendi menerima saya di ruang belakang, di ruang dengan meja besar dan banyak kursi. Bersama teh dan cemilan-cemilan dalam toples plastik obrolan pun berkembang. Tentang apa saja. Terutama tentang pemilihan bupati Kutai Kartanegara (Kukar), di mana namanya disebut-sebut kandidat terkuat. 

“Sudah tigapuluh tahunan saya di berbagai posisi dan medan tugas militer. Sekarang adalah momen untuk bekerja lebih total di kampung sendiri, sebagai sipil,” katanya. Ibunda dan keluarga besar Dendi berasal dari Kampung Sukarame, Tenggarong, Kukar. 

Sejumlah kalangan menyebut bekalnya lebih dari cukup. Adalah wajar namanya diunggulkan. Begitu rupa, hingga persaingan dalam pilbup Kukar konon lebih dinamis dan ketat justru untuk posisi kandidat wakilnya. Agustus, masa pendaftaran di KPU, sudah dekat. Siapa akan dia pilih sebagai pasangan kelak? “Ada beberapa calon. Tapi proses masih berlangsung,” jawabnya. 

Adzan Isya berkumandang dari musala, 50-an meter dari tempat kami berbincang. Dendi mengajak saya ke sana, ke sebuah bangunan di ketinggian lereng bukit. Kami berbaur dengan para tetangga, salat Isya berjamaah. Belakangan, dari orang lain, saya beroleh info; Jenderal Dendi-lah yang membangun musala ini. 

Kemudian, usai salat, saat berjalan kembali ke rumahnya, dia menawari saya ‘tahu tek-tek’ bungkusan. “Tahu tek-tek terenak, kak. Harus coba. Langganan saya,” katanya. Jenderal satu ini ternyata suka makan di warung-warung kecil pinggiran jalan. 

Infografis oleh Oliv
Infografis oleh Oliv

Sambil menunggu ‘tahu tek tek’ dibelikan ajudannya, obrolan kami kembali ke tema politik. Juga tentang apa saja yang perlu dilakukan demi pemajuan Kukar. Misalnya, pemberian peluang inisiatif dan kreasi bagi para pejabat di Kantor Bupati, serta tentang aparat desa yang mestinya berdiam di tempat tugas. 

“Bangun rumah dinasnya, agar dia tidak mondar-mandir. Tempat tugas di desa A tapi menetap di desa K. Bagaimana bisa mengikuti dan menghayati dinamika di tempat tugas?” 

Malam mulai larut. Bukannya sunyi, kursi-kursi di sekeliling meja besar itu lantas diduduki satu persatu sejawat yang nyusul bergabung. Gelas-gelas teh baru didorong. Obrolan menjadi pusparagam. Lebih-lebih saat sesi ‘tahu tek tek’ lalu terlaksana. 

Lewat pukul 22.00 saya pamit pulang. Dendi mengantar sampai pintu pagar. Beberapa menit kemudian saya sudah di jalan raya di samping Masjid Fathul Khair Jl A Wahab Sjachranie. Tahu-tahu saja arti ‘Fathul Khair’ nyembul; ‘pembuka kebaikan (kemenangan)’. 

A Wahab Sjachranie adalah gubernur Kalimantan Timur legendaris (bertugas 1972 sampai 1978). Beliau juga berlatar belakang militer dan berpangkat brigadir jenderal. Sejumlah penerus beliau pun berlatar militer - misalnya, Ery Soepardjo, Soewandi, dan Suwarna Abdul Fatah. 

Saat tiba di rumah diskusi dan ucapan Dendi, 40 tahunan silam tadi, terngiang lagi. “Dunia militer adalah satu dari sedikit yang paling sukses membentuk kepemimpinan”. Hari-hari ini pengalaman militer tentu telah membuatnya khatam uji kepemimpinan. Seperti Allahuyarham Abdul Wahab Sjachranie. Apakah akan praktis memberinya kunci Fathul Khair - ‘pembuka kemenangan’ di Kukar? Tiga penugasan pentingnya, sebagai Kepala Staf dan Komandan Kodim di Tenggarong, lalu Komandan Korem 091/ASN di Samarinda, naga-naganya telah lebih dari cukup membuatnya ‘paham medan’ - apalagi jelas berasal dari sini. Namun selebihnya, tentu saja, wallaahu a'lam. ‘Sungguh Allah (saja) yang lebih tahu’. (*)

 

*Jurnalis

 

 

Editor : Indra Zakaria
#pilkada kukar 2024