Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Seraung, Puisi sebagai Etika Ekologis

Redaksi • 2025-12-30 16:40:21
DISKUSI: Dialog Seraung di Samarinda pada Senin, 29 Desember 2025.
DISKUSI: Dialog Seraung di Samarinda pada Senin, 29 Desember 2025.

Oleh: Dr Rahmad Azazi Rhomantoro

(Pendiri Tirtonegoro Foundation, Samarinda)

PROKAL.CO, SAMARINDA-Bencana, pada mulanya, bukanlah peristiwa. Ia adalah kalimat panjang yang ditulis alam ketika manusia terlalu sering menghapus tanda bacanya.

Dalam konteks itulah Seraung tidak sekadar hadir sebagai kegiatan, melainkan sebagai jeda epistemologis-ruang untuk menunda kesimpulan dan membuka kembali pertanyaan paling purba; bagaimana manusia membaca alam, dan dengan bahasa apa ia menjawabnya?
 
Baca Juga: Kerugian Negara Tembus Rp 175 Triliun, KPK Luncurkan JAGAHUTAN untuk Berantas Mafia Kehutanan

Seraung yang digelar di Samarinda pada Senin, 29 Desember 2025, mempertemukan sastra, teater, musik, tari, dan film dalam satu lingkar kepedulian.

Namun, yang lebih penting dari temu disiplin adalah temu kesadaran. Seni di sini tidak diposisikan sebagai ornamen empati, melainkan sebagai medium etika.

Ia bekerja bukan pada permukaan, tetapi pada lapisan terdalam nalar dan rasa, tempat manusia merumuskan kembali hubungannya dengan dunia yang kian rapuh.

Seraung, sebuah dialog sastra yang saya pandu bersama Misman dan Dadang menjadi poros penting dalam lanskap tersebut.

Percakapan itu bukan diskusi dalam pengertian akademik yang kaku, melainkan tafsir bersama atas puisi sebagai jejak relasi ekologis.

Misman, dengan ketenangan seorang penyair yang akrab dengan sunyi, memandang puisi sebagai arsip emosional alam.
 
Baca Juga: Pulihkan Trauma Anak Korban Banjir, BRI Hadirkan Program Trauma Healing di Sumatera

Puisi, baginya, adalah cara bumi menyimpan ingatan melalui tubuh manusia. Ketika gunung runtuh atau sungai meluap, sesungguhnya ada larik yang patah, ada metafora yang kehilangan rujukan.

Dadang kemudian menggeser pembacaan itu ke wilayah yang lebih struktural.

Ia mengingatkan bahwa bahasa manusia tumbuh dari ekologi yang melingkupinya.

Kata-kata kita berakar pada tanah, bernapas dari angin, dan mengalir mengikuti sungai pengalaman.

Maka kerusakan lingkungan bukan hanya tragedi ekologis, tetapi juga krisis semiotik-ketika bahasa kehilangan lanskap rujukannya, dan puisi terancam menjadi gema tanpa asal.

Dalam kerangka itu, dialog sastra menjadi kerja perawatan. Ia bukan sekadar perayaan kata, melainkan usaha menjaga agar bahasa tetap berjejak pada bumi.
 
Puisi tidak lagi berdiri sebagai artefak estetik yang otonom, tetapi sebagai praksis etis, cara manusia menegosiasikan kembali posisinya di hadapan alam yang terluka.
 
Baca Juga: Oknum Polisi Pembunuh Mahasiswi ULM Resmi Dipecat, Ayah Korban: Sesuai Harapan Kami

Dalam dialog tersebut, puisi tidak dibicarakan sebagai estetika semata, melainkan sebagai tanggung jawab ontologis.

Penyair bukan sekadar pengolah kata, tetapi penjaga relasi. Ia berdiri di antara manusia dan alam, memastikan bahwa percakapan keduanya tidak sepenuhnya terputus.

Puisi, dengan demikian, menjadi bentuk pengetahuan yang lain-pengetahuan yang tidak lahir dari dominasi, melainkan dari kesediaan untuk mendengar.

Seraung menyediakan ruang bagi kesadaran semacam itu. Ia tidak memaksa seni untuk menjadi slogan, tetapi membiarkannya berfungsi sebagai medan kontemplasi.

Di tengah bencana yang kerap dipersempit menjadi angka dan laporan, dialog sastra membuka kemungkinan lain; bahwa memahami alam juga membutuhkan keheningan, metafora, dan keberanian untuk mendengar apa yang tidak diucapkan.
 
Baca Juga: Jejak Tegas Satgas PKH di Kaltim: Ribuan Hektare Lahan Ilegal Ditertibkan, Alat Berat Disita

Mungkin, pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukan jawaban atas bencana, melainkan bahasa yang cukup jujur untuk mengakuinya.

Seraung mengajukan kemungkinan itu, bahwa seni, terutama sastra, dapat menjadi cara manusia belajar kembali membaca alam, bukan sebagai teks yang boleh dieksploitasi, tetapi sebagai kitab yang harus dihormati.

Dan selama puisi masih dibacakan, selama dialog masih diupayakan, kita masih memiliki harapan bahwa relasi itu belum sepenuhnya runtuh. (far)
Editor : Faroq Zamzami
#sastra #puisi #bencana #samarinda