SAMARINDA – Tongkang atau ponton bermuatan batu bara kembali menabrak pilar jembatan Mahulu. Jika pada 23 Desember lalu ada satu tongkang yang menabrak, Minggu (4/1) dinihari ini tak tanggung-tanggung, ada 2 tongkang yang beraksi. Bukan hanya itu, sebelum menabrak jembatan Mahulu, tongkang batu batu itu merusak rumah warga di Jalan Cipto Mangunkusumo, Loa Janan Ilir. Dua tongkang batu bara yang hilang kendali itu bernama Roby 311 dan Danny 95.
Hingga berita ini diturunkan, garis polisi masih melintang di area rumah Ribut Waluyo dan beberapa rumah warga terdampak lainnya di Jalan Cipto Mangunkusumo. Sisa-sisa bangunan dapur yang ambruk terlihat masih menggantung di bibir sungai, sementara puing-puing perabotan rumah tangga sebagian besar telah hilang terseret arus Sungai Mahakam yang deras.
Ribut Waluyo, yang kehilangan seluruh aset dapurnya, mendesak pihak pemilik kapal dan perusahaan batu bara untuk segera duduk bersama warga. "Kami butuh kepastian, bukan sekadar pendataan. Anak-anak trauma mendengar suara mesin kapal yang keras sekarang," ungkapnya.
Selain dampak sosial, kekhawatiran besar kini mengarah pada stabilitas Jembatan Mahakam Ulu. Tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Timur dilaporkan telah meluncur ke lokasi untuk melakukan inspeksi visual awal pada pilar jembatan yang sempat tersenggol manuver tongkang.
"Benturan pada infrastruktur vital seperti Jembatan Mahulu tidak bisa dianggap remeh, meskipun hanya 'tersenggol'. Kami harus memastikan tidak ada retakan mikro atau pergeseran pada fondasi yang dapat membahayakan pengguna jalan dalam jangka panjang," ujar salah satu sumber teknis di lapangan.
Sementara itu pihak Polairud Polresta Samarinda saat ini sedang mendalami dugaan pelanggaran prosedur manuver. Berdasarkan keterangan awal, kuat dugaan adanya kegagalan koordinasi antara Tugboat Bloro 7 dan Raja Laksana 166 saat menghadapi arus sungai yang meningkat di jam-jam tersebut.
Kapolresta Samarinda melalui unit Gakkum Polairud menyatakan akan memanggil pihak agen pelayaran dan pemilik muatan untuk dimintai pertanggungjawaban materiil terhadap warga Sengkotek.
Sementara itu, arus lalu lintas di atas Jembatan Mahulu masih dibuka secara terbatas bagi kendaraan ringan sembari menunggu hasil pemeriksaan kelayakan struktur jembatan selesai sepenuhnya. (*)
Editor : Indra Zakaria