PROKAL.CO, SAMARINDA – Pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis insinerator di Kota Samarinda terus menunjukkan progres signifikan. Dari total 10 insinerator yang direncanakan, sebanyak tujuh unit telah rampung 100 persen dan siap memasuki tahap operasional.
Ketua Tim Wali Amanat Program (TWAP) Pemerintah Kota Samarinda, Safarudin menyampaikan tujuh insinerator tersebut secara fisik telah selesai dibangun.
“Totalnya ada 10 insinerator. Tujuh sudah selesai 100 persen. Tinggal beberapa titik yang perlu masuk listrik dan air sebagai pelengkap,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, keberadaan jaringan air menjadi elemen penting karena sistem insinerator yang digunakan mengalirkan gas buang ke dalam air sehingga tidak menimbulkan polusi udara. Selain itu, perhatian juga diberikan pada akses jalan menuju lokasi insinerator.
Safarudin mencontohkan, di Kelurahan Tani Aman, jarak insinerator dari jalan utama mencapai 300 hingga 400 meter. Kondisi serupa juga ditemukan di kawasan Baqa dan sekitar Stadion Kelurahan Simpang Pasir.
“Kami turun bersama DLH, PUPR, PPK, dan Bina Marga untuk melihat akses jalan. Untuk jangka pendek, jalan yang masih lembek atau becek kita lakukan pengerasan dengan batu agar mobil pengangkut sampah bisa masuk. Jangka panjangnya nanti akan dicor,” jelasnya.
Pria yang karibnya disapa Safar ini optimistis, setelah akses jalan dan utilitas pendukung rampung, insinerator sudah dapat difungsikan untuk menerima dan mengolah sampah. Namun sebelum beroperasi penuh, para operator akan terlebih dahulu dibekali pelatihan teknis.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso menjelaskan bahwa tiga insinerator yang masih dalam proses berada di Kelurahan Baqa, Handil Bakti, dan Tani Aman.
“Keterlambatan di Baqa dan Handil Bakti itu karena kendala lahan. Tapi sekarang lahannya sudah berproses dan aman. Progresnya sudah sekitar 60 sampai 70 persen,” ungkapnya.
Ia menambahkan, di Tani Aman kendala utama bukan pada lahan, melainkan kebutuhan infrastruktur tambahan seperti akses jalan, ketersediaan air, dan jaringan listrik. Seluruhnya masih berjalan sebagai satu paket pekerjaan.
“Kita juga harus memastikan kehadiran insinerator ini clear, baik dari sisi isu lingkungan maupun sosial,” imbuhnya. (*)
Editor : Indra Zakaria