Antonio Conte meninggalkan jabatan sebagai pelatih Inter Milan, tiga minggu setelah memimpin klub meraih gelar Serie A pertama mereka dalam 11 tahun. Setelah pembicaraan pada hari Rabu (26/5/2021), mantan manajer Chelsea itu setuju untuk berpisah. Perpisahan Inter dan Conte diumumkan di laman resmi klub, Kamis (27/5) dini hari WIB.
Pelatih berusia 51 tahun itu menerima kompensasi sebesar 7 juta euro (Rp126 miliar). Dia memiliki sisa kontrak satu tahun dengan gaji 13 juta euro per musim.
Dikutip Pojoksatu.id dari The Telegraph, perpisahan Conte dan Inter ini tidak lepas dari perbedaan misi kedua pihak. Conte ingin mempertahankan para pemain kuncinya yang sukses meraih scudetto ke-19 sepanjang sejarah Inter. Bahkan kalau bisa mendapat amunisi baru agar lebih solid musim depan.
Tapi rencana petinggi Inter beda. Mereka malah ingin menjual beberapa pemain untuk mendapatkan dana segar sekitar 80 juta euro untuk menstabilkan neraca keuangan. Proyek itu jelas tak bisa diterima Conte sehingga kedua pihak sepakat berpisah.
Kepergian Conte tentu sangat disayangkan Interisti (fans Inter). Sampai-sampai Curva Nord (Interisti garis keras) menggelar aksi protes. Maklum, sejak kedatangan Antonio Conte pada musim panas 2019, Inter Milan berubah menjadi tim yang disegani.
Nerazzurri menembus final Liga Europa pada musim debut Conte sebelum dikalahkan Sevilla.
Musim berikutnya, tim asuhan Conte tak terbendung menjuarai Serie A 2020/21, menghentikan sembilan musim dominasi Juventus.
Gelar scudetto yang menghapus dahaga gelar Inter sejak kepergian Jose Mourinho 2010 silam. Alih-alih mempertahankan pelatih yang telah memberi kesuksesan, petinggi Inter malah menyiapkan rencana yang membuat sang allenatore angkat kaki.
Kini Inter harus mencari pelatih baru lagi dan berharap bisa melanjutkan kisah sukses yang telah ditorehkan Conte. Kabarnya pelatih Lazio, Simone Inzaghi menjadi kandidat kuat pengganti Antonio Conte sebagai pelatih Inter Milan musim depan. (fat/pojoksatu)
Editor : izak-Indra Zakaria