Pulau Hanibung menyimpan kekayaan alam melimpah. Kawasan itu menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi yang fantastis apabila dikelola Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Prokal.co - Kendati tak menghadapi hambatan yang berarti, tim tetap waspada, karena diketahui sekitar Pulau Hanibung menjadi habitat buaya muara.
”Kami tetap waspada ketika menginjak daratan, kondisi pasang surut, ada daratan rawa-rawa yang tergenang setinggi lutut orang dewasa. Mata juga harus waspada dengan keberadaan satwa. Karena, perjalanan pulang malam naik perahu, kami melihat kemunculan buaya. Matanya merah terlihat jelas terkena sorotan cahaya, lalu menyelam ke dalam air,” ujarnya.
Tim juga meninggalkan kamera trap di Pulau Hanibung untuk memantau pergerakan satwa apa saja yang beraktivitas di Pulau Hanibung. Dari monitoring yang dilakukan tiga hari berturut-turut, tim menemukan sejumlah burung, seperti papuri, jambu burung, ubar, ubar putih, gentalang/manggis hutan, pempaning, ficus, jambu, pelawi, rungun, kakapas, banitan, rengas, jangkit, kumpang, enggang dada putih, kangkareng, rangkong badak, kipas-kipas, sri gunting, murai batu, cucak hijau, kacer, elang brontok, ekang bondol, jalak kerbau, burak, burung hantu, bubut, pempulu, tiung mas, dan burung punai.
”Pulau Hanibung ini nampaknya dijadikan tempat transit satwa untuk bersarang dan bertelur dan mencari makan keluar lalu kembali lagi ke Pulau Hanibung,” kata Dendy.
Ada juga potensi primata, seperti orang utan, bekantan, lutung hitam, dan monyet ekor panjang. Kemudian, potensi keberadaan satwa reptile, seperti buaya muara, biawak, ular pyton, king kobra,ular welang, labi-labi, biuku.
Berbagai macam flora atau tumbuhan seperti pohon gelam, gelam tikus, halaba, tabulus, tababuluh, pelawan, sapakau, seraka, rawa, katari, tulang, bengkirai, ulin juga ditemukan di Pulau Hanibung.
”Kami menemukan ada sarang orang utan. Ada juga jenis pohon pakan satwa, seperti pohon beringin, pohon manggis hutan. Mungkin, dulu lokasi ini pernah ada aktivitas ilegal logging kayu, karena hasil penelusuran kami banyak ditemukan jenis pohon langka yang tumbuh subur di Pulau Hanibung,” katanya.
Selain itu, potensi beragam macam jenis ikan di sekitar bentang alam Pulang Hanibung juga mudah ditemukan, seperti ikan hiu kalimantan, parang-parang, lais bamban, lawang, baung, pari air tawar, ikan baga-baga, papuntin, patin pipih/belida, gabus, kelabau, sanggang, papuyu /betok, kapar, seluang, kaloi/gurame, udang galah, keringau, mangki, masau, sidat, dan ikan tapah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat setempat, sekitar tahun 2000-an Pulau Hanibung dimanfaatkan untuk lahan pertanian, sehingga selalu terjadi pembakaran hutan setiap tahunnya.
Hal ini yang menyebabkan banyak areal terbuka di Pulau Hanibung. ”Beberapa kayu dulunya juga ditebang dan dimanfaatkan untuk tiang rumah oleh masyarakat. Saat ini masyarakat masih sangat bergantung dengan Pulau Hanibung untuk pemenuhan hidupnya,” katanya.
Tim Survei Kehati juga telah menghitung potensi nilai ekonomi masyarakat setempat dari berbagai komoditi, seperti ikan, udang galah, rotan, sarang walet, dan sewa kelotok.
Masyarakat setempat bisa menghasilkan 300 kg ikan per bulan yang dikerjakan 10 nelayan dengan penghasilan rata-rata Rp50 ribu per kg dikalikan masa panen 12 bulan mencapai Rp1,8 miliar. Dari komoditi udang galah mampu menghasilkan 40 kg per bulan yang dikerjakan 20 nelayan yang dijual seharga Rp110 ribu per kg dengan masa panen 12 bulan bisa mencapai Rp1 miliar.
Dari komoditi rotan, masyarakat setempat mampu menghasilkan 2000 kg per bulan yang dikerjakan 30 petani seharga Rp4.100 dikalikan tiga kali masa panen dalam setahun yang bisa mencapai Rp738 juta.
Dari komoditi sarang walet, masyarakat bisa menghasilkan pendapatan 500 gram per bulan setiap 55 orang pekerja dengan harga Rp8 juta per kg dikalikan setahun mampu menghasilkan pendapatan Rp2,6 miliar.
“Masyarakat Desa Camba juga menyediakan jasa sewa kelotok rata-rata 8 kali penyewa per bulan yang dikelola 15 orang dengan harga sewa Rp70 ribu per perahu klotok dikalikan 12 bulan dalam setahun, bisa mencapai penghasilan Rp100 juta. Jadi, kalau ditotal dari lima komoditi potensial ekonomi masyarakat mampu menghasilkan Rp6,3 miliar setahun dari hasil bentang alam Pulau Hanibung. Artinya, sumber kehidupan masyarakat masih ketergantungan dengan hasil hutan. Maka, inilah pentingnya menjaga kawasan hutan,” ujar Dendy.
Selama tiga hari survei, Dendy melihat beberapa potensi gangguan yang dapat merusak kelestarian kawasan hutan di Pulau Hanibung, seperti pembukaan lahan perkebunan, pengambilan ikan secara ilegal, perburuan satwa, penebangan liar, dan klaim atas kepemilikan lahan.
”Pulau ini menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang apabila dikelola dengan tepat mampu memberikan nilai ekonomi yang tinggi untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, juga memiliki potensi gangguan yang dapat berdampak tak adanya pendapatan masyarakat dari hasil pemanfaatan hutan bukan kayu (HBK),” kata Dendy seraya menambahkan masyarakat masih diperbolehkan memanen hasil hutan seperti rotan, madu, getah, ikan kecuali ilegal logging, dan perburuan satwa.
Dari hasil penelusuran dan pengamatan yang dilakukan, tim survei merekomendasikan kepada Pemkab Kotim untuk melakukan upaya perlindungan pelestarian hutan dengan membentuk pamswakarsa, verifikasi data kepemilikan kebun, memastikan status kawasan, penertiban illegal logging, illegal fishing, dan penertiban penggunaan senjata api dan air soft gun (PCP).
Upaya pelestarian dapat dilakukan dengan cara pemulihan ekosistem (penanaman pohon pakan satwa), rehabilitasi ekosistem perairan, budidaya tanaman endemik, budidaya sumber daya perairan, survei lanjutan dan menjadikan tempat pelepasliaran khusus.
”Langkah pemanfaatan awal bisa dimulai dengan pembentukan pokdarwis (kelompok masyarakat sadar wisata), pembuatan dermaga, menara pengamatan burung, jungle track dan pintu gerbang Pulau Hanibung. Survei ini tentunya tidak cukup dilakukan selama tiga hari dan perlu dilakukan secara berkelanjutan,” kata Dendy.
Menanggapi hal itu, Kepala Plt Bapperida Kotim Ramadansyah mengatakan, akan melakukan langkah selanjutnya dari laporan data hasil survei untuk membentuk tim terpadu menjadikan taman satwa atau kawasan ekosistem esensial.
”Rekomendasi dari hasil survei yang telah dilakukan akan segera kami tindaklanjuti. Pengembangan Pulau Hanibung juga sudah diusulkan masuk dalam RKPD 2025 yang sedang dibahas saat ini. Setelah itu, saya akan meminta petunjuk dan arahan kepada Bupati Kotim (Halikinnor) untuk rencana selanjutnya penyusunan desain rencana secara detail,” katanya.
Editor : Indra Zakaria