TANJUNG REDEB – Jalur alternatif yang menghubungkan Kampung Gurimbang, Tanjung Perangat, dan Sukan Tengah, Kecamatan Sambaliung, sudah bisa dilintasi pengguna kendaraan (27/3).
Jalur yang belum beraspal tersebut, untuk sementara menjadi akses andalan masyarakat setempat, karena akses utama yang menghubungkan tiga kampung tersebut ambles dan terancam putus total.
Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, Junaidi, mengatakan, pihaknya telah melakukan pengerasan terhadap jalan alternatif agar bisa dilalui kendaraan. Dikatakannya, sebelum pihaknya yang didukung swasta melakukan pengerasan, kondisi jalan sangat becek dan berlumpur.
“Sudah. Jadi tanahnya dipadatkan dulu kemudian dicampur tanah pilihan,” katanya melalui sambungan telepon (27/5). Dijelaskannya, jalur alternatif tersebut juga akan ditingkatkan. “Sedang tahap lelang, tahun ini bisa dikerjakan,” katanya. Junaidi menyebutkan, jalur alternatif tersebut akan diaspal sepanjang 600 meter. “Kami upayakan secepatnya untuk pengaspalannya,” bebernya.
Sedangkan untuk perbaikan jalur utama di lingkungan RT 3, Kampung Gurimbang, Junaidi belum bisa memastikan kapan dilakukan perbaikan. Sebab baru akan diusulkan agar mendapat kucuran anggaran untuk perbaikannya. “Akan kami koordinasi lagi dengan Bapelitbang (Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan),” katanya.
Yang pasti, ujar Junaidi, penanganan jalan ambles tersebut baru bisa dilakukan setelah dilakukan kajian untuk menyusun perencanaan, dan tersedianya anggaran yang dibutuhkan. “Karena perkiraan anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit. Sebab posisi jalan memang berada di tebing Sungai Berau,” jelasnya.
“Apalagi untuk mencegah ambles, harus pasang sheet pile juga, kemudian baru dibangun sisi badan jalan yang amblasnya,” sambungnya.
Terpisah, Kepala Bapelitbang Berau Agus Wahyudi mengatakan, saat ini pihak DPUPR Berau masih melakukan pemantauan pergerakan tanah di lokasi jalan ambles. Karena dari informasi terkini yang diterimanya, kedalaman amblesnya jalan terus meningkat. “Pergerakan tanahnya terus dipantau,” singkatnya.
Sebelumnya, ruas jalan Kampung Gurimbang, Kecamatan Sambaliung, tepatnya di lingkungan RT 3, terancam putus total. Badan jalan mulai ambles sepanjang kurang lebih 10 meter.
Menurut Kepala Kampung Gurimbang, Edy Gunawan, kondisi badan jalan yang retak memang sudah lama terjadi. Bahkan pihaknya sudah mengajukan penanganan atau perbaikan dua kali, melalui musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang). Namun usulan itu tak kunjung direspons, hingga kerusakan makin parah yang membuat badan jalan mulai ambles. “Awalnya hanya retak. Tapi karena dibiarkan, badan jalan mulai ambles,” katanya, Rabu (24/3) lalu.
Jika dibiarkan, ia khawatir kondisinya makin parah. Sebab jalan terebut setiap hari dilalui kendaraan. Apalagi posisi jalan berada di pinggir Sungai Berau. “Sekarang ini (Rabu lalu, red) kedalaman (ambles) sudah mencapai 45 sentimeter,” katanya.
Menurutnya, jika badan jalan ambles, tentu akan memutus akses tiga kampung, yakni Gurimbang, Tanjung Perangat, dan Sukan Tengah. Selain itu, juga berdampak pada bangunan pengolahan air bersih yang ada di dekat lokasi. “Di seberang jalan itu ada bangunan PDAM. Jika jalannya ambles, bangunan itu juga terdampak,” jelas Edy.
Sehingga bisa dipastikan penyaluran air bersih untuk empat kampung, yakni Bangun, Sukan Tengah, Tanjung Perangat dan Gurimbang akan terganggu. “Bukannya itu menimbulkan masalah baru. Jadi sebelum makin parah, harapan kami bisa segera diperbaiki,” ucapnya.
Menurut Edy, pihaknya telah membuat akses jalan alternatif, yakni melalui jalur 3 di belakang PDAM. Namun karena kondisi jalan berbukit dan sepanjang 700 meter belum beraspal, sangat menyulitkan masyarakat untuk berkendara. “Ada jalan alternatif, tapi sulit dilalui,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Berau, Madri Pani, meminta amblesnya jalan tersebut segera ditangani sebelum makin parah. Sebab jalan itu merupakan akses masyarakat dari tiga kampung menuju Tanjung Redeb dan wilayah lainnya. “Itu akses darat masyarakat. Jika aksesnya putus, mau tidak mau masyarakat menggunakan jalur sungai dan itu berbahaya,” katanya. (hmd/udi)
Editor : izak-Indra Zakaria