Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ketua DPRD Sebut Pemkab Berau Belum Siap

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 15 Oktober 2022 - 19:55 WIB
FASILITAS PENDUKUNG PROYEK: Dermaga penyeberangan orang dan kendaraan roda dua yang dibangun di depan perpustakaan daerah, telah rampung kemarin. Dermaga ini menjadi salah satu fasilitas pendukung agar proyek perbaikan Jembatan Sambaliung bisa dilaksanaka
FASILITAS PENDUKUNG PROYEK: Dermaga penyeberangan orang dan kendaraan roda dua yang dibangun di depan perpustakaan daerah, telah rampung kemarin. Dermaga ini menjadi salah satu fasilitas pendukung agar proyek perbaikan Jembatan Sambaliung bisa dilaksanaka

TANJUNG REDEB – Terus ditundanya perbaikan Jembatan Sambaliung, dianggap Ketua DPRD Berau Madri Pani, sebagai sinyal ketidaksiapan Pemkab Berau dalam melakukan suatu kegiatan. Saat memimpin rapat dengar pendapat (RDP) kemarin (14/10), dijelaskan Madri, wacana perbaikan yang akan menutup Jembatan Sambaliung sudah beberapakali ditunda, sampai akhirnya disepakati penutupan jembatan akan dilaksanakan pada 7 Oktober. “Faktanya, sampai sekarang belum dilaksanakan,” katanya kemarin.

Madri menegaskan, Pemkab Berau seharusnya sejak jauh hari mempersiapkannya sematang mungkin. Jangan sampai setelah dibongkar, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih jembatan tersebut merupakan akses bagi masyarakat di enam kecamatan. “Ini sinyal bahwa Pemkab Berau, belum siap,” ujarnya.

Diungkapkannya, pembahasan mengenai jembatan sudah lama dilakukan. Namun persiapan dari Pemkab Berau sendiri, belum matang hingga kini. Sehingga dikhawatirkan, justru nantinya masyarakat yang akan menjadi korban. “Jangan hanya berbicara semua bisa, tapi pergerakan di lapangannya seperti apa,” tegasnya.

Ditambahkan Madri Pani, dirinya sendiri sudah menyampaikan langsung kepada bupati dan wakil bupati, bahwa penyeberangan alternatif tidak bisa hanya satu, tapi wajib tiga. Pasalnya, kendaraan umum masyarakat tidak bisa dicampur dengan kendaraan alat berat, truk LPG, BBM, dan angkutan bahan berbahaya lainnya. Karena bisa membahayakan masyarakat.

“Saya sudah usulkan, bangun satu penyeberangan juga di daerah Samburakat dan Gurimbang, masalah lahan sudah selesai. Tapi tidak ada respons,” katanya.

Madri melihat, dari segi keselamatan tentu tidak bisa disatukan antara kendaraan masyarakat dengan kendaraan besar lainnya. Dia mencontohkan, saat simulasi penggunaan LCT beberapa hari lalu, juga terpaksa ditunda karena air sungai pasang. Dan saat dilaksanakan, ternyata masih banyak evaluasi yang harus dilakukan.

“Sederhana saja, arus dari Samburakat ke Gurimbang cukup bagus, tidak ada jembatan yang dilalui. Jadi bisa untuk penyeberangan angkutan mobil-mobil besar seperti BBM, LPG, dan material pembangunan yang sedang berlangsung di wilayah pesisir,” bebernya.

Politikus NasDem ini menegaskan, antara kepentingan khalayak banyak dengan kepentingan pribadi, tentu tidak bisa dicampuradukan. Seperti jika Pemkab memutuskan untuk memberi kebijakan bagi aparatur sipil Negara (ASN) yang terdampak pada kegiatan pembangunan jembatan untuk bisa bekerja dari rumah atau work from home (WFH), tapi tidak demikian untuk pelayanan masyarakat. Khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan. “Seperti pelajar, tenaga kesehatan, itu wajib didahulukan,” ujarnya.

Untuk penjagaan, Madri juga mengingatkan, agar bisa dilakukan 24 jam. Karena masyarakat yang menyeberang tentu tidak hanya dalam satu waktu, tapi waktu-waktu tertentu. Misalnya mobil pengangkut ikan segar dari Bidukbiduk dan kecamatan lainnya, atau masyarakat yang sedang sakit dan butuh rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai. “Harapan saya seperti itu. Ada yang menjaga untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat yang mendesak agar bisa menyeberang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pemkab Berau telah melaksanakan simulasi penyeberangan menggunakan LCT, pekan lalu. Hasilnya, dermaga penyeberangan untuk kendaraan roda empat di Jalan Singkuang dan Limunjan, masih harus mendapat pelebaran. Khususnya pitching point atau titik pendaratan LCT.

Evaluasi itu disampaikan Bupati Berau Sri Juniarsih, saat memantau langsung pelaksanaan simulasi pengangkutan kendaraan roda empat di LCT bersama Asisten II Setkab Berau Agus Wahyudi dan tim percepatan perbaikan Jembatan Sambaliung, Sabtu (8/10) lalu. Pasalnya saat simulasi berlangsung, waktu bersandar LCT di dermaga Singkuang, memakan waktu hingga sekitar 1,5 jam. Hanya untuk mencari posisi lurus antara dermaga dan LCT.

Dijelaskan staf dari Bidang Lalu Lintas Jalan, Dinas Perhubungan Berau, Frisko Hakim, sandarnya LCT harus sejajar dengan dermaga. Agar kendaraan roda empat yang diangkut bisa lebih mudah turun ke darat, dan sebaliknya. Sementara saat LCT hendak sandar, justru menabrak fondasi dermaga yang terbuat dari kayu. Sehingga perlu diperlebar agar ketika LCT dalam posisi tidak lurus, tetap aman saat kendaraan masuk ke kapal.

Kemudian, waktu yang dibutuhkan mulai dari kendaraan bergerak dari parkiran, masuk ke LCT hingga menyeberang dan sandar sempurna di seberang Limunjan, memakan waktu sekitar 15 menit 47 detik.

"Jadi dari hasil simulasi ini, kami sudah dapat bayangan dan menemukan titik kristisnya. Salah satunya perlu ada pelebaran di jetty penyeberangan, akan ditambah kurang lebih 6 sampai 8 meter. Baik di jetty Singkuang maupun Limunjan," ujar Frisko.

Selain itu, ada beberapa catatan lain terutama dari sisi keamanan. Diakui Frisko, jaminan faktor keselamatan juga sudah didapatkan dari hasil simulasi tersebut. Seperti perlu menggunakan life jacket. Kemudian naik turunnya kendaraan dari LCT harus dipastikan merapat sempurna.

"Satu LCT muat kendaraan penumpang bisa 11-12 kendaraan. Jika ada bus maksimal 8 kendaraan," katanya.

Sementara itu, Asisten II Setkab Berau Agus Wahyudi menjelaskan, beberapa masukan telah diterima dan akan segera dilakukan pembenahan dari hasil evaluasi simulasi tersebut. Yang utama adalah dermaga pendaratan, agar diperlebar sehingga ramp door atau pintu rampa LCT mudah merapat ke dermaga. Saat kembali diminta kepastian kapan penyeberangan alternatif difungsikan dan menutup total Jembatan Sambaliung, Agus menyebut selambat-lambatnya pekan depan.

"Kurang lebih seperti itu," singkat Agus. "Yang jelas perbaikan dari hasil simulasi secepatnya dibenahi. Pihak pelaksana proyek dan kontraktor juga bersedia untuk membenahi sesuai saran dari KUPP (Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan) Tanjung Redeb," sambungnya. (hmd/udi)

Editor : izak-Indra Zakaria
#pembangunan #infrastruktur