TANJUNG REDEB - Dinas Pendidikan (Disdik) Berau meminta pihak sekolah di bawah naungannya untuk mentoleransi guru dan pelajar yang terlambat, akibat perbaikan Jembatan Sambaliung.
Kepala Disdik Berau, Yudi Artangali menyampaikan, penutupan Jembatan Sambaliung akan segera dilakukan, sehingga akan mengganggu mobilisasi pelajar maupun pekerja. “Pasti akan terganggu dan tidak akan normal seperti biasanya,” ujarnya kepada awak media, kemarin (16/10).
Adanya penutupan jembatan, Disdik Berau disebutnya akan memberikan toleransi kepada pelajar maupun guru yang datang terlambat ke sekolah. Mengingat mobilitas perjalanan melalui kapal LCT akan memakan waktu yang lama.
“Selama proses perbaikan jembatan, pelajar dan guru yang berada di Sambaliung dan sebaliknya, akan diberikan toleransi apabila terlambat datang ke sekolah,” imbuhnya.
Di samping itu, ia berharap masyarakat dapat mengutamakan pelajar menyeberang baik yang sekolah di Tanjung Redeb maupun Sambaliung. Sehingga, para pelajar tersebut tidak terlambat datang ke sekolah.
“Kami harap bisa saling toleransi agar memprioritaskan anak-anak yang berangkat sekolah, agar tidak terlambat,” tegasnya.
Diwartakan sebelumnya, untuk siswa SMA sederajat. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Pendidikan Kaltim, Wilayah Kerja Kabupaten Berau, Juanita Sari, mengaku sudah melakukan koordinasi dengan Bupati Berau Sri Juniarsih, untuk mencari solusi agar pelajar SMA bisa tetap mengikuti pembelajaran saat penutupan jembatan dilaksanakan.
“Sudah kita bahas terkait opsi apa yang akan diberikan, tetapi kita masih evaluasi kembali dan mengikuti perkembangan nantinya,” jelasnya melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.
Dirinya menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pendataan jumlah siswa tingkat SMA sederajat yang akan terdampak aktivitas perbaikan jembatan. Baik yang tinggal di Kecamatan Sambaliung namun sekolah di Tanjung Redeb, maupun sebaliknya.
“Sudah kita data, ada 300 siswa. Itu nanti yang akan menjadi prioritas kami,” katanya.
Dijelaskannya, saat rapat bersama bupati, pihaknya menyebut ada dua opsi. Yakni kembali melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau tetap melakukan pembelajaran tatap muka, namun memberikan dispensasi kepada 300 siswa tersebut.
“Rasanya jika dilakukan PJJ tidak mungkin, kasihan juga para siswa karena selama adanya pandemi mereka melakukan PJJ. Jadi opsi terbaik tetap melakukan pembelajaran tatap muka,” jelasnya.
Pihaknya dan bupati Berau sudah bersepakan, semua siswa yang ingin menyeberang tidak diperkenankan membawa kendaraan pribadi. Siswa dianjurkan agar bisa diantar oleh orangtua ke dermaga penyeberangan, dan nanti akan ada mobil yang disediakan khusus untuk angkutan pelajar.
“Jadi nanti akan ada yang khusus untuk mengangkut siswa, sehingga nanti orangtua hanya mengantar di dermaga penyeberangan saja,” jelasnya.
Pihaknya juga akan meminta kepada guru piket di masing-masing sekolah, untuk mendata siswa saat berangkat ataupun pulang sekolah, guna memastikan apakah siswa tersebut sudah menyeberangan atau belum. “Sejauh ini, itu opsi yang akan kita berlakukan saat Jembatan Sambaliung ditutup total,” katanya. (aky/arp)
Editor : uki-Berau Post