Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

AS Serang Taliban, Damai Terancam Gagal

izak-Indra Zakaria • Jumat, 6 Maret 2020 - 21:10 WIB
Tentara AS di Afghanistan.
Tentara AS di Afghanistan.

KABUL– Militer AS baru saja meluncurkan serangan udara kepada beberapa pasukan Taliban di Provinsi Helmand Rabu (4/3). Serangan tersebut hanya berselang lima hari dengan penandatanganan kesepakatan perdamaian di Afghanistan. Meski begitu, pemerintahan Donald Trump bersikeras bahwa perjanjian tersebut masih berlaku.

Jubir Koalisi militer AS-Afghanistan Sonny Leggett mengatakan, serangan udara tersebut dijatuhkan di beberapa lokasi pejuang Taliban. Target mereka adalah kelompok yang sudah melakukan serangan kepada pasukan rezim Ashraf Ghani beberapa hari terakhir. ”Ini adalah serangan defensif untuk mengganggu rencana mereka,” ujar Leggett menurut Agence France-Presse.

Dia menjelaskan, Taliban sudah melakukan 43 serangan di Helmand pada Selasa (3/3). Mohammad Zaman Hamdard, juru bicara kepolisian Helmand, mengeklaim bahwa serangan dalam dua hari terakhir merupakan yang paling intens.

Beberapa jam sebelum serangan AS, Trump mengumbar ke media bahwa dirinya baru bicara dengan Mullah Baradar, petinggi Taliban. Menurut dia, mereka berbicara selama 35 menit mengenai tindak lanjut perjanjian yang ditandatangani di Doha Sabtu (29/2).

”Hubungan kami luar biasa. Dan mereka ingin menghentikan kekerasan sama seperti kami,” ungkap dia seperti dilansir Al Jazeera.

Klaim itu didukung pejabat Pentagon. Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS Mark Milley mengatakan bahwa konflik yang terjadi 48 jam terakhir bukanlah serangan skala besar. Menurut dia, masih banyak poin dalam perjanjian yang ditaati Taliban.

Milley menerangkan bahwa Taliban berjanji tidak menyerang ibu kota 34 provinsi atau Kabul. Mereka juga tak akan menyerang tokoh publik atau melakukan bom bunuh diri. ”Yang terpenting, belum ada serangan yang menargetkan tentara AS atau koalisi,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan bahwa AS harus memaklumi jika perjanjian tak berjalan sesuai isi dokumen. Menurut dia, pejabat Taliban sudah sepaham dengan AS. Namun, masih banyak faksi yang harus dirayu. ”Menyatukan pikiran kelompok seperti itu sangat susah. Banyak aliran garis keras,” ungkapnya. 

Meski begitu, pakar mengatakan bahwa klaim AS terlalu mengentengkan masalah. Taliban sudah menegaskan bahwa mereka menangguhkan kesepakatan damai karena gagalnya rencana penukaran tahanan perang. AS sudah menyetujui untuk menukar 5 ribu personel Taliban dengan seribu tahanan pemerintah Afghanistan. Namun, Presiden Ashraf Ghani sendiri mengatakan bahwa kesepakatan itu belum disetujui. 

Pada akhirnya, semua orang harus duduk dan bicara. Namun, AS gagal merayu Taliban untuk duduk bersama pemerintah Afghanistas,” ungkap Atta Noori, analis politik dari Kabul. (bil/c10/dos)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara